Berharap pada Kedelai Lokal

Filed in Inspirasi, Majalah by on 08/02/2021

Bahan baku tahu dan tempe mayoritas menggunakan kedelai impor.

Kualitas dan produktivitas kedelai lokal tergolong unggul. Sayangnya harga jual lebih rendah daripada biaya produksi.

Agustinus Priyanto mengolah 50—100 kg kedelai setiap hari menjadi tempe. Ia memperoleh biji Glycine max varietas lokal dari pemasok di Yogyakarta dan sekitarnya. Lazimnya harga kedelai Rp8.000—Rp9.000 per kg. Namun, pada awal 2021 harga naik mencapai Rp12.000—Rp15.000 per kg. Meski harga naik, keperluan bahan baku masih terpenuhi.

Kebutuhan kedelai nasional sebesar 80—90% berasal dari impor.

Perajin tempe sejak 2010 itu tetap berproduksi dengan harga jual sama yakni Rp8.000 per bungkus. “Selama saya membuat tempe harga naik setiap 5 tahun sekali,” kata Agus. Kapasitas produksinya 200—500 bungkus per hari. Tak ada penurunan produksi akibat kenaikan harga. Menurut Agus penurunan produksi justru akibat pandemi korona akibat daya beli masyarakat anjlok.

Lokal lebih baik

Tak seperti mayoritas perajin olahan kedelai lain, sejak awal Agus konsisten memilih kedelai lokal terbaik. Tak hanya kedelai, ia juga memanfaatkan kacang-kacangan lain sebagai bahan baku tempe. Contohnya kacang koro Canavalia ensiformis, kacang hijau Vigna radiata, dan kedelai hitam Glycine max. Itulah mengapa ia masih berproduksi seperti biasanya seakan tak terpengaruh kenaikan harga.

Kenaikan harga kedelai impor hingga Rp9.000 per kg menurut Andreas turut meningkatkan harga kedelai lokal menjadi Rp8.000 per kg di tingkat petani pada awal 2021. “Masalahnya di mana kita bisa mendapatkan kedelai lokal saat ini?” kata guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa, M.S.

Agustinus Priyanto beruntung masih bisa memperoleh pasokan kedelai lokal secara kontinu. Ia turut membuktikan sejatinya kedelai lokal masih dapat diandalkan. Menurut Andreas kedelai lokal lebih baik dari sisi gizi dan rasa. Ukurannya memang lebih kecil daripada kedelai impor tetapi teksturnya lebih padat.

Prof. Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa, M.S., guru besar Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB.

Alumnus Faculty of Life Sciences, Technische Universitaet Braunschweig, Jerman, itu mengamati harga kedelai global mulai naik sejak Mei 2020 mengikuti harga kelompok vegetable oil atau minyak sayur. Selain itu, Tiongkok juga memborong biji tanaman anggota famili Fabaceae itu dari Brasil dan Amerika Serikat ketika harga belum terlalu tinggi. Semula 15 juta ton menjadi 30 juta ton pada Desember 2020. Praktis ketersediaan kedelai di pasar global berkurang.

Argentina memperparah keadaan dengan kebijakan penghentian sementara ekspor kedelai. Selain gangguan stok, sebetulnya produksi kedelai juga tengah bermasalah. Menurut Andreas terjadi kekeringan di beberapa pusat produksi kedelai di Amerika Latin sehingga produksi menurun.

Sementara itu, Indonesia mengimpor kedelai dari Amerika Serikat, Kanada, dan Argentina. Tercatat sejak 2014, pasokan impor pun berangsur meningkat setiap tahun. Pada 2014, impor kedelai sebesar 5,8 juta ton dan pada 2019 mencapai 7,2 juta ton. Andreas memperkirakan total impor kedelai mencapai 7,4 juta ton pada 2020.

Pada hari-hari biasa, harga sekilogram kedelai impor sekitar Rp7.000 sedangkan kedelai lokal hanya Rp5.000—Rp6.000. Padahal biaya produksinya Rp12.000—Rp15.000 per kg bergantung status lahan. Tentu tak banyak petani yang tertarik menanam kedelai bila harus merugi. Harap mafhum bila kebutuhan kedelai nasional sebesar 80—90% berasal dari impor.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-layout-key=”-6t+ed+2i-1n-4w”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”9938833539″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Disparitas harga

Petani lebih memilih komoditas lain seperti jagung Zea mays yang menguntungkan. Andreas menghitung produktivitas jagung mencapai 9 ton per hektare dengan harga jual Rp4.000 per kg. Petani bisa mengantongi omzet Rp36 juta untuk satu hektare jagung. Ia juga mencontohkan komoditas pangan lain yang produktivitasnya menyamai kedelai yakni kacang hijau.

Nilai gizi dan rasa kedelai lokal lebih baik.

Produktivitas kacang hijau berkisar 1,0—1,5 ton per hektare sedangkan harga di tingkat petani Rp14.000—Rp18.000. Biaya produksinya hampir sama dengan kedelai. Andreas mengatakan masih ada peluang untuk swasembada kedelai. Permasalahan kedelai di Indonesia sejatinya karena disparitas harga impor dan lokal terlalu jauh. Guru besar Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor itu merekomendasikan dua hal yakni kebijakan tarif impor dan perlindungan harga petani.

Terlebih sebetulnya produktivitas kedelai varietas lokal tergolong tinggi. Percobaan Andreas menunjukkan produksi riil mencapai 1,7 ton per hektare dengan potensi produksi 3 ton per hektare. Adapun varietas lokal yang ia uji antara lain grobogan dan wilis. Dari segi produktivitas dan kualitas, Andreas justru optimis kedelai lokal dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun kembali lagi pada harga. Petani mana yang bersedia tanam bila harga jual di bawah biaya produksi? (Sinta Herian Pawestri).

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software