Berdaya Karena Jamur Kuping

Filed in Majalah, Sayuran by on 30/04/2020

Jamur kuping kering tahan simpan setahun lebih.

 

Pengeringan memperpanjang masa simpan jamur kuping hingga setahun.

Pembudidaya jamur kuping di Desa Mranggen, Srumbung, Kabupaten Magelang, Haryono.

Pengiriman 500 kg jamur kuping segar per 2 pekan tidak membuat Haryono (39) puas. “Jamur segar hanya tahan 2—5 hari. Permintaan dari luar pulau tidak terpenuhi,” kata petani di Desa Mranggen, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu. Pembeli di Batam, Kepulauan Riau, meminta pasokan rutin 100 kg jamur per pekan. Kalau ia menjual segar semua produksi pun, permintaan itu tidak terpenuhi.

Haryono berupaya memperlama masa simpan jamur kuping dengan pengeringan. Ia memotong bonggol jamur lalu mencuci bersih untuk menghilangkan sisa media. Pemotongan bonggol atau tangkai jamur agar sosok jamur menarik dan bersih. Lazimnya kalau menjual segar, bonggol jamur kuping itu tidak dipotong. “Kehilangan bobotnya sekitar 1 kg per 50 kg jamur segar,” kata Haryono. Ia menggelar terpal, plastik, atau karung di tanah lalu menghamparkan jamur itu di atasnya.

Ayah empat anak itu juga membolak-balik jamur agar kering merata. Ketika matahari bersinar penuh, jamur kering dalam 3 hari. Namun, kalau hari mendung atau hujan durasi pengeringan 5—7 hari. Sekilogram jamur kering memerlukan 5,5—6 kg jamur segar. Setelah kering, jamur kuping Auricularia auricula itu tahan simpan setahun bahkan lebih.

Kering lebih mahal

Syarat membudidaya jamur kuping adalah pemeliharaan di kumbung steril dengan bagian bawah tertutup rapat menggunakan plastik atau terpal. Udara bisa bersirkulasi di bagian tengah. Baglog diinokulasi bibit jamur kuping lalu petani meletakkannya dalam kumbung. Mereka menginkubasi baglog sampai miselium mengisi 70—80% baglog. Pembentukan miselium itu memerlukan waktu kira-kira 30 hari.

Cirinya muncul selubung putih menyelimuti media dalam baglog. Setelah tampak miselium memenuhi baglog, petani membuat dua lubang di sisi depan baglog. Lubang itu menjadi tempat tumbuhnya tubuh buah jamur kuping. Selang 25—30 hari, jamur yang muncul dari lubang itu siap panen. Saat itu miselium sudah tumbuh sampai sisi belakang baglog. Ketika memanen jamur di sisi depan baglog, petani sekaligus membuat lubang di sisi belakang baglog.

Penjemuran jamur kuping menggunakan alas terpal.

Nantinya, “Petani bisa panen dari depan dan belakang sekaligus,” kata ayah 4 anak itu. Hasil panen pertama dari sisi depan mencapai 70—100 kg jamur per 1.000 baglog. Lantaran memanen dari dua lubang itulah jumlah panen kedua pada hari ke-25 naik sedikit, 150 kg per 1.000 baglog. Panen berikutnya tiap 25 hari berselang jumlahnya makin berkurang menjadi 120 kg dan makin sedikit sampai panen ke-5—ke-8 pada 22 hari pascainokulasi.

Menurut Haryono total produksi jamur kuping dari 1.000 baglog mencapai 450—500 kg. Di Desa Mranggen ada 18 petani yang membudidayakan jamur kuping dengan memanfaatkan sela pekarangan maupun bagian rumah yang jarang digunakan. “Total baglognya 30.000,” kata Haryono. Volume panen per 2 pekan mencapai 500 kg. Sejatinya, “Produksi jamur segar terserap habis di pasar lokal. Justru masih kurang,” kata Haryono.

Petani jamur kuping di Desa Pucanganom, Srumbung, Kabupaten Magelang, Winarna.

Namun, dengan pengeringan, petani bisa mengirim produk itu ke pembeli di tempat jauh. “Harganya pun lebih bagus ketimbang jamur segar,” kata Haryono. Harga jamur kuping kering Rp60.000 per kg, berasal dari 6 kg jamur segar yang harganya Rp9.000 per kg. Artinya petani jamur mendapat selisih Rp4.000. Kalau petani memiliki 500 baglog yang menghasilkan 0,4—0,5 kg jamur per baglog, maka volume panen 200—250 kg jamur segar selama 7 bulan masa budidaya.

Jika menjual segar, petani meraup sedikitnya Rp1,8 juta. Sebaliknya jika mengeringkan, petani mendapat 33—83 kg jamur kuping kering yang harganya Rp60.000 per kg. Pendapatan minimalnya naik menjadi Rp1,98 juta. Padahal kepemilikan petani di Mranggen rata-rata 1.600 baglog, setara 800 kg jamur segar atau 133 kg jamur kering, yang nilainya hampir Rp8 juta.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Tambahan penghasilan

Haryono rutin mengirim 50 kg jamur kuping kering setiap pekan ke pembeli di Batam, Provinsi Kepulauan Riau. “Sebenarnya dia minta kiriman 100 kg seminggu tapi produksi saya dan teman-teman belum mencukupi,” katanya. Itu sebabnya ia mengajak masyarakat Desa Mranggen beramai-ramai membudidayakan jamur tiram. Ajakannya itu mendapat dukungan kepala Desa Mranggen, Kazis Fuadi. Pada 2018 mereka mengadakan studi banding ke Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Kepala Desa Mranggen, Kazis Fuadi, mendukung budidaya jamur kuping sebagai sumber penghasilan tambahan.

Pemerintah desa menggelar pelatihan budidaya jamur kuping kepada anggota PKK pada akhir 2019. Pascapelatihan itu, pemerintah desa membantu peserta pelatihan yang tertarik membudidayakan jamur kuping dengan 3.000 baglog. Menurut Kazis pascapelatihan itu ada 12 warga membudidayakan jamur kuping. “Mereka memanfaatkan pekarangan maupun sisa lahan,” kata Kazis. Kepala desa yang kini menjabat untuk periode ketiga itu menyatakan, jamur kuping cocok menjadi sumber pendapatan alternatif keluarga.

“Yang mengerjakan ibu-ibu di rumah sementara para suami bekerja di luar,” katanya. Warga desa di kaki Gunung Merapi itu banyak yang berkebun salak atau bekerja di luar desa. Selain Mranggen, jamur kuping juga dibudidayakan di Desa Pucanganom, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Menurut penggerak budidaya jamur kuping di Pucanganom, Winarna, kebutuhan jamur kuping sangat besar. Itu sebabnya pada 2015 Winarna mengajak Haryono menggerakkan budidaya jamur kuping di Mranggen.

Sayang, upaya Haryono meningkatkan produksi sempat mandek lantaran wabah korona pada pertengahan hingga akhir Maret 2020 menyebabkan banyak daerah membatasi transportasi lintas wilayah. “Hasil panen tidak bisa dikirim sehingga petani mengeluh,” kata Haryono. Saat itulah pengeringan berperan menjaga jamur kuping petani tetap bernilai meski tidak langsung terjual. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software