Beras Sehat Menguak Pasar

Filed in Laporan khusus by on 06/06/2013 0 Comments
Beras sehat, merujuk pada sistem budidaya organik

Beras sehat, merujuk pada sistem budidaya organik

Beras merah, beras hitam, dan beras putih organik dilabeli beras sehat. Serapan pasar tinggi.

Mustofa Muhtarom membagi lahan 2,5 ha menjadi tiga bagian, masing-masing untuk budidaya beras putih varietas mentik wangi seluas 1,5 ha; beras merah anoman (0,5 ha), dan beras hitam (0,5 ha). Petani di Desa Ketapang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, itu menerapkan teknologi intensif (system of rice intensification, SRI) dalam membudidayakan ketiga jenis padi itu.

Menurut Mustofa rendemen rata-rata 51%. Artinya dari 100 kg gabah kering giling, ia mendapatkan 51 kg beras. Dengan produktivitas 8 ton per ha, Mustofa memperoleh 4,58 ton beras mentikwangi dan masing-masing 2,04 ton beras merah dan beras hitam. Petani padi sejak 1998 itu menjual beras mentikwangi Rp13.000 per kg atau Rp4.000 lebih mahal daripada mentikwangi nonorganik. Sementara harga beras merah dan beras hitam Rp14.000 dan Rp25.000 per kg.

Beras sehat

Dengan sistem kemas rapat,beras sehat tahan simpan setahun lebih

Dengan sistem kemas rapat,
beras sehat tahan simpan setahun lebih

Omzet Mustofa Muhtarom dari penjualan ketiga jenis beras itu lebih dari Rp130-juta per periode tanam. Pria 46 tahun itu mengatakan bahwa biaya produksi padi hitam per periode tanam mencapai Rp7-juta per ha. Alumnus Pendidikan Agama Universitas Islam Negeri Walisongo itu menanam komoditas itu tiga kali dalam setahun. Soal pasar, Mustofa tak pernah kesulitan. Para pengepul menjemput beras di rumahnya dan membayar tunai.

Mustofa Muhtarom bukan satu-satunya petani beras sehat berpendapatan tinggi. Nun di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Saeful Bachri, juga menikmati laba besar dari perniagaan beras sehat. Saeful menanam padi hitam di lahan 1 ha, sedangkan padi putih varietas sintanur di lahan 0,5 ha secara organik. Saeful menuai 7—8 ton GKP per ha. “Dengan cara organik, rendemen giling mencapai 70%,” kata Saeful.

Pasalnya, konsumen lebih menyukai beras pecah kulit yang hanya sekali sosoh karena lebih menyehatkan lantaran tinggi vitamin B, vitamin E, dan serat. Bagi produsen beras, sekali sosoh menyebabkan bobot beras lebih tinggi. Bandingan dengan beras nonorganik yang dua kali sosoh, maka potensi kehilangan bobot mencapai 10%.  Dari lahan 1,5 ha, Saeful memperoleh 4,9 ton beras hitam dan 2,45 ton sintanur per musim tanam.

Omzet Saeful mencapai Rp49-juta dari penjualan beras hitam dan Rp36-juta dari penjualan sintanur organik. Saeful mendapat harga Rp20.000 per kg beras hitam; sintanur, Rp15.000 per kg beras putih organik. Beras hitam, beras merah, dan beras putih itu kini sohor sebagai beras sehat. Istilah beras sehat mengacu pada pola budidaya organik, tanpa penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia.

Menurut Ir Eddy Setyo Mudjajanto, anggota staf pengajar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, beras sehat mesti mengandung paling sedikit 8% protein dan lebih dari 1,5% lemak nabati. Adapun beras biasa hanya mengandung 7% protein dan 1,5% lemak nabati. “Syarat lain, mempunyai indeks glikemik rendah, rasa pulen, dan bisa diproduksi massal sehingga harganya terjangkau oleh masyarakat kebanyakan,” kata alumnus Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu.

Indeks glikemik adalah angka yang menyatakan kecepatan suatu bahan makanan menaikkan kadar gula darah. Nilai indeks glikemik glukosa murni adalah 100.

Tren

Beragam hambatan menghadang petani padi sehat (baca boks: Aral di Sana Sini halaman 65). Namun, jika petani mampu mengatasi kendala itu, membudidayakan padi sehat menjanjikan laba besar. Menurut David Herlambang, manajer pemasaran PT Bionic Natura, produsen beras sehat di Kecamatan Ciherang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, permintaan beras sehat dalam 3 tahun terakhir memang kian meningkat seiring dengan tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.  Peluang besar itulah yang ditangkap oleh para petani yang menanam padi-padi penghasil beras sehat. Produktivitas rendah bukan hambatan bagi para petani. Mereka mengatasi persoalan itu dengan teknologi SRI dan organik. Para petani di berbagai daerah seperti Tasikmalaya dan Ciamis, keduanya di Jawa Barat, Semarang dan Pemalang (Jawa Tengah) menerapkan teknologi serupa.

Menurut Mustafa teknologi SRI terbukti efektif memangkas biaya produksi. Kebutuhan benih, misalnya, hanya 5 kg, padahal sebelumnya bisa mencapai 60-90 kg per ha. Sudah begitu, produksi malah meningkat 30—50%. Hasilnya menakjubkan, produktivitas padi merah yang biasanya hanya 3—4 ton per ha, membubung menjadi 8 ton per ha. Demikian juga dengan padi hitam (baca: Padi Hitam 8 Ton/Ha halaman 74—75).

Yang menggembirakan rendemen juga turut meningkat. Menurut ketua Kelompok Tani Rukun Makaryo di Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Paiman Hadi Supadmo, peningkatan rendemen dari gabah kering giling menjadi beras hingga 65—70% itu sangat menguntungkan petani. Sebagai gambaran, rendemen nasional rata-rata hanya 55%. Mengapa rendemen meningkat? Pria yang getol mengampanyekan pertanian organik sejak 1990-an itu menyatakan bahwa bulir beras organik lebih padat dan keras sehingga bobotnya pun lebih tinggi.

Mustofa memperkirakan permintaan yang masuk ke kelompok taninya mencapai 50 ton per bulan dan meningkat 20% per tahun. Sementara kemampuan produksi bulanan mereka baru berkisar 15—17 ton. Kelompok Tani Rukun Makaryo, misalnya, pada 2011 hanya mengelola 26 ha untuk budidaya padi sehat. Namun, pada 2013 ini, kelompok yang terdiri atas 60 petani itu mengelola total 40 ha.

Paiman Hadi Supadmo dan rekan rutin menjual 300 kg beras sehat ke pasar lokal di Karanganyar setiap pekan alias 1,2 ton per bulan terdiri atas beras merah (60%), beras hitam (20%), dan beras putih organik (20%). Konsumen mereka adalah masyarakat Kabupaten Karanganyar dan Kota Surakarta yang sadar kesehatan. Paiman Hadi menjual Rp12.000 per kg beras merah, Rp20.000 (beras hitam), Rp9.000 (IR-64), dan Rp10.000 (mentik wangi). Total jenderal Paiman memasok 1,2 ton beras sehat per bulan. Padahal, permintaannya lebih dari 4 ton per bulan.

Wisnu Kumar SE MM, produsen dan distributor beras rendah indeks glikemik menangguk omzet Rp7,2-miliar per tahun. Wisnu tergolong pioner memproduksi beras sehat sejak 2006. Ia menjual produknya dalam kemasan 5 kg seharga Rp152.000—Rp154.000. Sayang, Wisnu enggan mengungkapkan varietas yang ia gunakan. “Yang pasti jenis lokal,” kata pria yang mengidap diabetes sejak 1998 itu. Beras itu diberi perlakuan pratanak agar  indeks glikemik merosot sehingga aman bagi penderita diabetes mellitus.

Wisnu belum pernah mengukur kadar indeks glikemik beras produksinya sehingga ia tidak bisa menyebut angka persis. Meski demikian, banyak konsumen yang kesengsem dengan beras sehat yang tersedia di berbagai gerai pasar modern itu. Buktinya, ia mampu memasarkan hingga 20 ton beras per bulan. Selain Wisnu, produsen lain yang memasarkan beras sehat adalah PT Bionic Natura. Produsen itu memproduksi dan memasarkan beras organik berkecambah.

Menurut Direktur Bionic Natura, Dra Imelda Rimba Apt, beras berkecambah kaya asam gama amino butirat (GABA) yang bermanfaat untuk konsumen semua umur. “GABA menurunkan kadar gula darah penderita diabetes, mengurangi agresivitas anak autis, dan menghambat penyakit alzheimer pada manula,” kata David. Selain beras berkecambah, Bionic Natura juga memproduksi beras merah, beras cokelat (beras putih pecah kulit yang hanya disosoh sekali sehingga masih menyisakan kulit ari), dan beras putih.

David Herlambang mengatakan permintaan beras sehat produksi Bionic Natura naik 2 kali lipat dalam 2 tahun terakhir. Pada 2010, produksi mereka hanya berkisar 15 ton, tapi angka itu berlipat menjadi 30 ton pada 2012. Pasar mancanegara sejatinya terbuka bagi beras sehat produksi para petani. Mustofa mendapatkan permintaan untuk memasok rutin pembeli di Eropa. “Mereka meminta 15 ton beras mentik wangi per bulan, padahal untuk pasar lokal saja masih kurang,” kata Mustofa. Itulah sebabnya para pelaku bisnis beras sehat berkeyakinan, permintaan beras sehat bakal terus meningkat pada masa mendatang. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Andari Titisari, Kartika Restu Susilo, Muhamad Cahadiyat Kurniawan, dan Rizky Fadhilah)

 

FOTO:

 

  1. Mustofa Muhtarom: laba beras sehat setahun mencapai seperempat miliar rupiah
  2. Beras sehat, merujuk pada sistem budidaya organik
  3. Ratusan dus berisi beras organik siap diekspor ke Jerman
  4. Dengan sistem kemas rapat, beras sehat tahan simpan setahun lebih
  5. H Saeful Bachri: rendemen sosoh beras organik mencapai 70%
  6. Dra Imelda Rimba Apt memproduksi beras berkecambah
  7. Berbagai produk beras sehat di pasaran
 

Powered by WishList Member - Membership Software