BERAS HITAM

Filed in Uncategorised by on 01/06/2012 0 Comments

Beberapa tahun lalu saya diundang makan siang di rumah Bondan Winarno, pakar kuliner yang terkenal itu. Sebagai kejutan, ia masak nasi keluwak, dengan bahan baku beras hitam. Wah! Tidak ada yang bercerita tentang khasiat beras hitam waktu itu. Baru belakangan, ada kabar beras hitam bagus untuk pengidap hepatitis, bisa mencegah anemia, dan memperlambat penuaan. Sekarang, beras hitam menjadi tren di banyak kota. Seorang pemasok di Salatiga, Jawa Tengah, mematok harga US$2,5 per kg untuk pemesan dari luar negeri.

 

Adapun harga di dalam negeri berkisar Rp18.000 di Sleman, Rp 21,000 di Malang, dan Rp22.000 di Surakarta. Kalau di Sabah, Malaysia, harganya RM8 setara Rp24.000. Tentu harga-harga itu sangat wajar. Bahkan, boleh dicurigai “terlalu murah”.  Mengapa? Sebab beras pulen pandan wangi saja paling murah Rp17.000 per kg di Jakarta. Kalau beras hitam diperlakukan sebagai obat, dan hanya dimakan sendok demi sendok (dengan campuran beras putih, merah, atau cokelat) tentu harganya harus lebih bagus.

Ada selentingan beras hitam organik bisa laku Rp 60.000 per kilo di Singapura. Ceritanya, seorang petani di Solo, mengaku baru dititipi menanam padi hitam dan kisahnya tersiar di YouTube. Di daerahnya, beras hitam disebut “pari wungu” yang secara tradisional adalah makanan para raja dan ratu. Jadi, hanya kalangan ningrat yang dari dahulu mengonsumsinya. Baru belakangan, bibitnya disebarluaskan ke masyarakat, di antaranya oleh aktivis dan ekonom Faisal Basri.

Beras Indonesia

Ternyata lagi, beras hitam adalah andalan Indonesia. Di pasar elite beras dunia, hanya dikenal indonesian black rice dan italian black rice. Memang benar, produsen utama beras dunia adalah China dengan 200-juta ton dan India mendekati 140-juta ton per tahun. Indonesia membayangi di urutan ketiga dengan angka 65-juta ton. Dari jumlah produksi itu, tentu beras hitam sedikit sekali. Persentasenya tak terdeteksi. Namun, khusus untuk beras hitam, yang punya nama hanya Indonesia dan Italia.

Beras hitam indonesia juga sebagai the forbiden rice atau beras terlarang. Itu pasti terkait dengan monopoli kalangan keraton pada masa lalu. Konon begitu juga di Tiongkok, yang telah mengonsumsi beras merah dan beras hitam sejak 1.800 tahun silam. Sekarang, Bondan Winarno yang punya dua gelar bangsawan dari keraton Jawa itu pun sudah mensosialisasikan melalui restorannya.

Untuk meningkatkan  budidaya, beberapa keluarga keraton mulai memilih petani yang dapat dipercaya menanamnya. Sungguh beruntung Indonesia punya nasi kuning, ketan hijau, beras merah, dan beras hitam. Jelas, beras hitam harus dibedakan dengan ketan hitam yang biasanya dicampur santan dan kacang hijau. Khasiatnya pun berlawanan, bubur ketan hitam bikin gemuk, sedangkan beras hitam menahan badan agar tetap langsing. Itulah rahasia diet superketat agar nenek-nenek pun tetap semampai seperti lazimnya putri solo.

Ringkasnya, beras hitam mengandung vitamin, mikroelemen, dan asam amino lebih tinggi daripada semua jenis nasi yang kita jumpai sehari-hari. Seorang pakar nutrisi menjelaskan, “Warna hitamnya menunjukkan beras ini memiliki pigmen yang tinggi. Pigmen mengandung aleuron dan endospermia yang dapat menghasilkan antosianin bermanfaat sebagai zat antikarsinogenik, meningkatkan kadar trombosit, dan memiliki antioksidan yang tinggi.”

Selain itu, “Pigmen ini juga kaya akan zat flavonoid yang dapat mencegah pengerasan pembuluh nadi. Kadar zat flavonoid yang terkandung di dalam beras hitam lima kali lebih tinggi dibanding flavonoid yang terdapat dalam beras putih biasa.” Jadi jangan heran kalau Anda menemukan saset “wedang beras hitam” untuk diseduh sebagaimana lazimnya jamu herbal. Minuman yang terbuat dari beras hitam organik ini dapat dikonsumsi secara instan. Sejak Maret 2012 kemasannya dilengkapi keterangan tentang manfaat beras hitam: membersihkan racun dan toksin dari dalam tubuh (detoksifikasi), membantu memelihara ketahanan tubuh (imunitas), serta membantu memelihara keseimbangan sistem organ dan hormon.

Tinta cumi-cumi

Lebih unik lagi, “Hanya sesendok penuh bubuk beras hitam bisa mengandung lebih banyak antioksidan antosianin  daripada yang ditemukan di sesendok penuh blueberry, dengan kandungan gula yang lebih rendah, lebih berserat, dan  mengandung vitamin E,” kata Dr Zhimin Xu, dari Louisiana State University, Amerika Serikat. Penelitiannya itu dipublikasi luas, bahkan dimuat dalam harian The Daily Telegraph yang dikutip Kompas Online. Menurut Dr Xu seperti layaknya buah-buahan, beras hitam mengandung antioksidan antosianin, zat yang bisa menangulangi serangan jantung, kanker, dan penyakit lainnya.

Pabrikan makanan bisa menggunakan tepung beras hitam atau ekstraknya untuk membuat sereal sarapan yang sehat, minuman, kue, dan makanan lainnya. Hal itu sejalan dengan keyakinan banyak peneliti di Asia. Beras hitam dianggap bisa meningkatkan ketahanan tubuh, memperbaiki kerusakan sel hati, mencegah gangguan fungsi ginjal, mencegah kanker atau tumor. Sebagai antioksidan ia dapat memperlambat penuaan, membersihkan kolesterol dalam darah, mencegah anemia.

Kesimpulannya: beras hitam patut dibudidayakan lebih besar, supaya hasil panennya mencukupi dan harganya bisa ditekan. Dewasa ini yang terkenal sebagai eksportir beras hitam adalah Kamboja dan Pakistan, sedangkan importir besarnya adalah Korea Selatan. Beras hitam italia punya cerita lain lagi. Sebenarnya memang ada jenis padi berbulir pendek dengan warna keungu-unguan di Italia utara. Beras hitam itu diyakini mengandung banyak mineral dan disukai para pengidap diabetes. Namun,  karena persediaan terbatas, maka diperlukan cara lain untuk memproduksinya.

Caranya dengan mewarnai beras putih biasa menjadi hitam, memakai mangsi cumi-cumi. Akibatnya, kalau tidak cepat

dimasak, beras hitam itu menjadi cepat bau. Karenanya selalu disarankan agar menyimpan beras hitam italia di dalam lemari es. Penggunaan mangsi atau tinta cumi-cumi merupakan hal biasa di Italia. Belakangan, tanpa mengurangi rasanya, mangsi cumi-cumi bisa dituangkan pada saat nasi dimasak. Kota Florence di Italia sudah lama terkenal sebagai penggemar beras hitam. Di Spanyol, juga ada hidangan beras hitam dengan tinta itu.

Ketika Bondan beserta nyonya (dari Spanyol juga!) menawarkan nasi keluwak yang berwarna hitam, saya pikir caranya juga dihitami bumbu keluwak itu. Bukankah rawon yang menggunakan keluwak Pangium edule, juga berwarna kehitaman? Tetapi ternyata memang berasnya hitam – tepatnya keungu-unguan. Sedangkan keluaknya hanya penyedap.

Sebenarnya nasi beras hitam di Italia juga asli berwarna hitam, yang untuk menanaknya perlu waktu lebih lama. Kalau mau cepat masak, beras hitam perlu direndam dahulu semalaman. Mungkin inilah yang membuat kita malas memasaknya. Apa lagi kalau untuk menanaknya perlu air dua kali lebih banyak dari beras putih biasa. Herbalis di Jakarta Utara, Ning Harmanto, berkata, “Bukan dua kali lebih banyak air dari beras biasa, tetapi perbandingannya satu cangkir beras organik perlu dua cangkir air.”

Untungnya, ditambahkan, “Mencuci beras organik tidak perlu diremas-remas. Cukup diaduk sekali saja.” Ia menyediakan beras organik putih, merah, cokelat dan hitam. Untuk kemasan dua kilogram beras hitam yang bermerek “Beras Gunung” harganya cukup Rp 52.000.

Itulah harga paling pantas, sesuai dengan khasiatnya yang luar biasa. Dipesankan juga bahwa beras-beras organik  ini  sudah diteliti  secara  ilmiah.

Bukan hanya khasiatnya yang bagus, tapi juga proses produksinya yang alamiah, pupuk kimia dan pestisida.

Nah, sekarang kita mau makan nasi untuk apa? Kalau untuk menurunkan kolesterol dan mencegah sembelit, bukan beras hitam yang diperlukan, tapi beras merah. Kalau untuk memperkuat jantung, tentu beras cokelat  yang  banyak

magnesium. Sebetulnya beras cokelat adalah beras putih yang diperkaya, karena tidak dihilangkan lapisan kulit dalamnya. Orang menyebutnya brown rice, bukan black rice, jagoan kita.***

 

Keterangan Foto :

  1. Eka Budianta*
  2. Beras hitam kaya flavonoid antara lain berkhasiat mencegah pengerasan pembuluh darah
 

Powered by WishList Member - Membership Software