Beragam Sayuran Rezeki Rijki

Filed in Majalah, Muda by on 30/04/2020

Tumpangsari pakcoi dan selada di Sangkuriang Farm.

Deka Rijki Pangestu, S.P. mengembangkan beragam sayuran untuk memasok pasar swalayan. Ia bermitra dengan 8 petani. Omzetnya hingga Rp200 juta sebulan.

Hanya dalam 4 tahun Deka Rijki Pangestu mampu meningkatkan omzet hingga 2.000%. Pendiri Sangkuriang Farm itu rata-rata beromzet Rp10 juta per bulan ketika mengawali bisnis sayuran pada 2016. Namun, pada awal 2020 omzet meningkat menjadi Rp200 juta per bulan. Itu hasil dari perniagaan beragam sayuran antara lain brokoli, sawi, letus, kol putih, dan kol ungu di lahan seluas 5 hektare di Parongpong dan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Pendiri Sangkuriang Farm, Deka Rijki Pangestu, S.P.

Populasi 40.000 tanaman aneka sayuran daun per hektare. Ia memang membudidayakan beragam tanaman di satu lahan. Per tanaman rata-rata berbobot panen 500 gram. Harga jual sayuran daun rata-rata Rp15.000 per kilogram. Menurut pemuda 28 tahun itu kunci peningkatan omzet dengan menerapkan intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi dengan menerapkan manajemen tepat. Adapun ekstensifikasi dengan menambah luas kebun.

Tumpang sari

Pada 2016 Deka memulai berbisnis sayuran di lahan 1 hektare dan sebuah rumah kemas di Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Pemuda kelahiran Bandung 20 Mei 1991 itu memanfaatkan laba untuk menambah luas lahan. Itulah sebabnya luas lahan makin bertambah hingga kini 10 hektare. Di lahan itu ia membudidayakan beragam sayuran daun bermitra dengan 8 petani. Sebagai inti, Deka menyediakan benih, pendampingan budidaya, dan menyerap semua produksi sepanjang memenuhi persyaratan.

Deka mengatakan, pada umumnya petani mampu menghasilkan beragam sayuran sesuai standar mutu. Sekadar contoh pasar menghendaki brokoli berbobot 200 gram, warna hijau cerah, mulus, dan seragam. Adapun standar mutu letus berbobot 200 gram, mulus tanpa noda, dan seragam.

Begitu panen dan menimbang hasil, Deka langsung membayar tunai kepada para petani mitra. Petani memperoleh kepastian pasar berkat kemitraan. Sementara Deka memperoleh kontinuitas pasokan dan beragam sayuran sesuai permintaan pasar. Selain itu antara mitra-inti menyepakati harga di depan sebelum penanaman. Oleh karena itu, ketika harga anjlok pun petani tetap untung. Mereka tidak waswas beragribisnis.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Deka mengatur pola tanam 1.000 tanaman berselang 10 hari. Artinya panen pun dengan interval 10 hari. Menurut Deka penanaman 1.000 tanaman itu memerlukan lahan 250 m2. Bobot sayuran rata-rata 200 gram per tanaman. Volume panen 1.000 tanaman mencapai 200 kg. Adapun umur kelima tanaman itu rata-rata 50—60 hari. Artinya panen sayuran bisa rutin hingga 500 kg berselang 10 hari.

Kendala agribisnis

Cara itu terbukti efektif untuk memasok sayuran terutama sawi, selada, dan pakcoi untuk memenuhi kebutuhan pasar swalayan. Deka menuturkan, produksi itu memadai untuk memasok pasar swalayan di Bandung, Jawa Barat dan Jakarta. Selain itu alumnus Universitas Padjdjaran itu juga menumpangsarikan beragam tanaman. Tujuannya menerapkan subsidi silang atau mencegah rugi jika harga suatu komoditas turun akibat pasokan berlebih.

Tomat salah satu komoditas yang dibudidayakan Sangkuriang Farm.

Pendiri Sangkuriag Farm itu menumpangsarikan selada dan pakcoi, kubis ungu-cabai dan brokoli-selada. “Memang dari segi teori salah karena hama masih sejenis. Namun, teknik itu memiliki kelebihan perawatan lebih mudah karena perlakuan sama,” kata bungsu 4 bersaudara itu. Meski menerapkan beragam strategi, bukan berarti Deka tanpa menghadapi kendala. Ketika mengawali bisnis itu, Deka malah kelebihan produksi.

Ketika itu pada Juli 2016 petani mitra belum bisa mengatur panen sesuai dengan permintaan. Seluruh lahan seluas 1 hektare digarap bersamaan tanpa pengaturan tanam. “Panen mencapai 10 ton, sementara permintaan pasar swalayan hanya 2 ton,” kata Deka. Setelah bernegosiasi dengan pasar swalayan, kuota pengiriman meningkat hingga 3—4 ton. “Untung kita memiliki reputasi baik sehingga kuota pasokan bisa meningkat,” kata Deka mengenang kejadian 4 tahun lampau itu.

Ia menjual kelebihan produksi ke pasar tradisional. Tentu dengan harga jual lebih rendah. “Meskipun bermasalah saya masih balik modal,” kata Deka. Menurut Deka beragribisnis mesti tahan banting. Ia mengambil pelajaran dari tiap permasalahan. Setelah menghadapi masalah kelebihan pasokan, Deka lebih fokus pada manajemen produksi. Berkat pengaturan manajemen lebih intensif.

Pada penanaman musim berikutnya omzet berangsur naik. Luasan area tanam pun meningkat. Semula hanya sebuah rumah kemas sayuran dan lahan seluas 1 hektare. Kini ia mengelola total 10 hektare dengan 3 rumah kemas, serta menyerap 70 tenaga kerja. Deka menyarankan petani milenial mempelajari hilir terlebih dahulu dibandingkan dengan hulu. Banyak kasus petani bisa menghasilkan produk pertanian bermutu. Namun, ia sulit memasarkan.

Jika belajar di hilir terlebih dahulu petani akan mengerti kriteria produk yang diinginkan pasar, pasokan, hingga alur pemasaran. Sebelum mulai beragribisnis, ia turun ke pasar mendata produk pertanian berpotensi untuk dikembangkan. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software