Benih Nila: Produksi Naik 200%

Filed in Laporan khusus, Majalah by on 10/07/2017
Benih nila

Benih nila

Pembenihan sistem corong meningkatkan produksi benih nila salin menjadi dua kali lipat.

Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujungbatee, Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), kini mampu memproduksi benih nila salin setiap 10—15 hari. Artinya, dalam sebulan dapat memproduksi benih nila hingga dua kali. Nila salin hidup di air yang mengandung garam hingga 20 ppt. Menurut peneliti Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee, Ahmad Supriatna, S.St.Pi., dengan asumsi jumlah induk dan produksi telur sama, maka jumlah produksi itu meningkat dua kali lipat. “Sebelumnya dalam sebulan hanya bisa satu siklus produksi benih,” tutur Ahmad kepada Trubus pada ajang Pekan Nasional Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (Penas KTNA) XV 2017 di Kota Bandaaceh, NAD.

Harap mafhum, sebelumnya Ahmad dan rekan peneliti hanya mengandalkan proses alamiah nila dalam bereproduksi. Induk betina nila biasanya mengerami telur dalam mulutnya sekitar 7 hari setelah memijah. Selanjutnya telur menetas 3—5 hari setelah pengeraman. Setelah menetas, induk “mengasuh” larva selama 2 pekan. Ketika larva berkembang menjadi burayak, barulah induk melepasnya ke luar mulut. Pada saat itulah benih baru bisa dipanen.

Sistem corong
Menurut Ahmad, Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujungbatee meningkatkan produksi benih nila salin dengan metode corong dan sistem resirkulasi. Disebut metode corong karena dalam memproduksi benih nila, lembaga itu menggunakan corong berbahan serat kaca berdiameter 20 cm dan tinggi 60 cm sebagai wadah penetasan telur. Bagian dasar corong melengkung sehingga tanpa sudut.

Miniatur sistem corong yang dipamerkan pada Pekan Nasional Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (Penas KTNA) XV 2017 di Kota Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam.

Miniatur sistem corong yang dipamerkan pada Pekan Nasional Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (Penas KTNA) XV 2017 di Kota Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam.

Ahmad menuturkan, corong itu menggantikan fungsi mulut induk nila betina. Dalam memproduksi benih, ia menangkap induk betina yang sedang mengerami telur pada mulutnya. Penangkapan menggunakan serok kasar pada lapisan pertama, lalu dibalut serok lembut di lapisan kedua. Tujuannya untuk mencegah telur atau benih yang dimuntahkan induk jatuh ke dalam air. “Penyerokan dilakukan sebaiknya pada pukul 09.00—10.00,” tutur Ahmad.
Setelah tertangkap, Ahmad membuka mulut induk dan mengeluarkan telur dan larva dalam nampan plastik. Selanjutnya kotoran telur yang tak dibuahi dan larva mati atau lemah dikeluarkan. “Dengan pemanenan telur seperti itu, induk betina bisa dipijahkan lagi tanpa harus menunggu seluruh telur menetas,” ujarnya.

Ahmad lalu memasukkan telur ke dalam corong yang telah berisi air dengan tingkat kepadatan telur 500—1.000 butir telur per liter. Sebuah corong menampung 5 liter air. Jadi, satu corong dapat menampung 2.500—5.000 butir telur. Jika telur di mulut induk menjadi larva, maka tingkat kepadatan larva dalam corong maksimal 100 ekor per liter atau total 500 ekor larva per corong.

Ahmad menempatkan corong-corong itu di tepi bak dengan penopang kayu. Di bawah deretan corong dipasang jaring untuk menampung benih nila. Ia lalu mengalirkan air ke dalam corong secara terus-menerus dengan debit tertentu. Debit air diatur sedemikian rupa agar tidak sampai mendorong telur meluap ke luar corong. Saat corong penuh, maka air yang berlebih akan mengalir ke luar corong melalui lekukan pada bibir corong dan jatuh ke dalam kolam. Karena benih yang diproduksi adalah nila salin yang adaptif pada air yang berkadar garam atau payau, maka kadar garam air untuk penetasan telur adalah 10—20 ppt.

Daya tetas
572_ 65Telur nila menetas setelah 1—4 hari ditempatkan dalam corong. Burayak yang menetas lalu berenang aktif mengikuti arus air yang keluar melalui lekukan di bibir corong. Selanjutnya burayak akan jatuh ke dalam jaring di dalam bak. Menurut Ahmad pemanenan benih dilakukan mulai hari ketiga setelah penetasan. Pemanenan benih menggunakan serok berkain lembut secara perlahan, lalu tampung benih dalam ember. Selanjutnya tuangkan benih ke dalam bak pemeliharaan. “Benih yang ditebar ke bak pemeliharaan harus dihitung dengan cara sampling menggunakan scoop net untuk mengetahui jumlah benih yang dihasilkan dan presentase penetasan atau heactching rate (HR),” kata alumnus Sekolah Tinggi Perikanan, Jakarta, itu.

Selanjutnya benih dipelihara hingga ukuran yang diminati pasar. Jika pasar menghendaki benih berukuran 1—3 cm, maka benih dipelihara hingga 14 hari, ukuran 3—5 cm 20 hari, dan ukuran 5—8 cm 30 hari. Selama pemeliharaan burayak memperoleh pakan berbentuk tepung secara at station atau hingga kenyang. Frekuensi pemberian pakan 3—4 kali sehari. Menurut peneliti Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) di Sukabumi, Jawa Barat, Ade Sunarma, S.Pi., M.Si., teknik penetasan dengan sistem corong sebetulnya juga dapat diterapkan dalam memproduksi benih ikan lain, seperti patin dan lele.

Ahmad menuturkan, selain lebih efisien dalam waktu memproduksi benih, keunggulan sistem corong juga memiliki daya tetas tinggi. “Daya tetas hingga lebih dari 90%,” tutur Ahmad. Itulah sebabnya Kepala Bidang Produksi Perikanan, Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Sutarto, berencana menerapkan teknologi itu di seluruh Balai Benih Ikan (BBI) di Kabupaten Sijunjung. “Kami sudah menyaksikan langsung keunggulan sistem tersebut dalam kegiatan Pekan Nasional Petani dan Nelayan 2017. Daya tetasnya lebih tinggi dari sistem pemijahan seperti yang dilakukan selama ini,” kata Sutarto.(Imam Wiguna)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software