Benderang Karena Kelor

Filed in Obat tradisional by on 31/08/2011

Kitolod lazim dimanfaatkan untuk mengobati penyakit mataValentina Indrajati resepkan herbal daun kelor untuk penderita glaukomaRibuan butir pasir bak menyusup ke dalam dua bola mata Bambang. Ia pun mengeluh matanya perih dan gatal sehingga seringkali mengucek mata. Gangguan yang terjadi hampir setiap hari itu membuat matanya menjadi merah dan bengkak. Obat tetes mata yang diberikan dokter tak mempan mengatasinya. Justru kian lama penglihatannya semakin kabur. Kondisi itu keruan saja membuat seluruh keluarga khawatir.

Sang putri kesayangan, Tina—bukan nama sebenarnya—lalu membawa Bambang ke Rumah Sakit Mata dr Yap di Yogyakarta. Dokter  mata di sana merujuk Bambang untuk menemui dokter spesialis mata yang ahli menangani glaukoma. Benar saja. Hasil pemeriksaan dokter, Bambang menderita penyakit penyebab kebutaan itu.

Operasi

Berdasarkan data Rumah Sakit Mata dr Yap, glaukoma penyebab kebutaan kedua setelah katarak yang lazim terjadi saat orang usia lanjut. Kebutaan memang tidak menyebabkan kematian, tapi bisa mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Menurut peneliti dari Wilmer Institute, John Hopkins University School of Medicine, Amerika Serikat, HA Quigley jumlah pasien glaukoma di dunia pada 2000-an mencapai 66,8-juta orang. Di negara maju sebagian besar warganya mampu mendeteksi dini gejala penyakit itu. Sementara di negara berkembang baru bisa dideteksi setelah kondisinya memburuk.

Harap mafhum, gejala awal glaukoma mirip penyakit mata akibat iritasi seperti mata merah. Jika sudah akut penglihatan mulai kabur dan pasien biasanya mengeluh migrain dan jarak pandang yang pendek.  Jika dibiarkan glaukoma dapat menyebabkan kebutaan permanen.

Menurut dokter spesialis mata sub divisi glaukoma dari RS Mata dr Yap, dr Retno Ekantini SpM MKes, glaukoma disebabkan tekanan bola mata yang meningkat. Itu karena produksi cairan bola mata (humor akuos) berlebih atau tersumbatnya saluran pembuangan cairan (jaringan trabekula) karena tertutup oleh iris. Jika dibiarkan ukuran bola mata semakin besar sehingga menekan pembuluh darah pada saraf mata.

Itulah yang dialami Bambang. Pascaoperasi katarak pada 2008 matanya malah sering perih dan gatal. Hasil pemeriksaan dokter tekanan bola mata kanan pascaoperasi katarak mencapai 30 mmHg, normal 10—20 mmHg. Sedangkan bola mata kiri sampai tak bisa diukur.

Kondisi itu membuat Bambang terbatas hanya bisa melihat objek berjarak kurang dari 2 meter. “Itu pun samar-samar,” katanya. Dokter menyarankan Bambang kembali menjalani operasi untuk mengeluarkan cairan mata  dengan memasang saluran buatan. Bambang juga mengalami pengentalan darah di mata kirinya sehingga harus menjalani terapi pengenceran sebelum pemasangan saluran. Keluarga Bambang keberatan untuk menjalani tindakan operasi. Keputusan itu justru memperparah kondisi kakek 82 tahun itu.

Daun kelor

Sang putri lalu mencari jalan kesembuhan lain. Perempuan 47 tahun itu mengetahui pemanfaatan kelor untuk penyembuhan penyakit mata yang dilakukan oleh Valentina Indrajati, herbalis di Bogor, Jawa barat. Menurut Valentina, daun kelor berefek deuretik sehingga mampu mengeluarkan racun dalam tubuh. “Cairan yang tersumbat di mata itu sifatnya racun sehingga harus dikeluarkan. Pengeluaran racun bisa lewat urine atau dari tempat di mana penyakit itu berada,” tutur herbalis yang kerap mengajar yoga di India dan Thailand itu.

Sang herbalis meresepkan serbuk daun kelor Moringa oleifera. Sebanyak 20 gram serbuk daun kelor direbus dalam 3 gelas air. Bambang meminum air rebusan itu 3 kali sehari sejak Juni 2011. Setelah dua pekan mengonsumsi, dari kelopak mata kirinya keluar cairan. Beberapa hari kemudian kejadian sama berulang. Berbarengan dengan itu rasa sakit yang hampir setiap hari mendera perlahan mulai berkurang.

Saat dihubungi Trubus pada 1 Agustus 2011, penglihatan Bambang mulai membaik. Ia sudah bisa melihat benda berjarak 5 meter. Kini tekanan bola mata kanannya turun menjadi 20 mmHg. Sedangkan tekanan bola mata kiri sudah bisa diukur.

Daun kelor memang belum banyak dimanfaatkan sebagai herbal untuk mengobati glaukoma. Sebab dukungan penelitian mengenai penggunaan kelor untuk menyembuhkan glaukoma maupun penyakit mata lainnya masih terbatas. Andjarwati, herbalis di Jakarta Utara, lebih banyak meresepkan kelor untuk penyembuhan penyakit diabetes melitus, panas dalam dan memperlancar air susu ibu. Para herbalis justru lebih sering memanfaatkan kembang telang Clitoria ternatea dan kitolod Isotoma longiflora untuk pengobatan penyakit mata.

Retno menuturkan glaukoma dapat disembuhkan dengan mengonsumsi obat-obatan atau operasi. “Obat-obatan dari bahan herbal mungkin bisa membantu penyembuhan glaukoma. Namun, sampai saat ini belum ada bukti klinisnya,” kata Retno. Meski demikian Bambang merasakan khasiatnya. Oleh karena itu hingga kini, veteran itu masih rutin mengonsumsi air rebusan daun kelor demi penglihatan lebih benderang. (Andari Titisari)

 

Powered by WishList Member - Membership Software