Belut: Pilihan di Lahan Sempit

Filed in Topik by on 01/05/2009 0 Comments

 

Sebelumnya, selama 3 tahun berturut-turut Warsim memantau pergerakan harga Monopterus albus. Kesimpulan: harga terus naik. Warsim mencatat sampai awal 2008 sekilo belut isi 10-20 ekor menjangkau harga Rp22.000-Rp25.000; 2006-2007, Rp15.000-Rp18.000/kg. Namun, belut tangkapan alam di lapak pedagang yang mengecer 60-80 kg/minggu itu tidak selalu tersedia.

Bujangan 25 tahun itu tanggap menangkap peluang ini. Bermodalkan Rp600.000 pada penghujung Oktober 2008 ia membuat sebuah kolam terpal berukuran 2,5 m x 4 m, berjarak 4 m dari pinggir rumah. Kolam itu ditaburi media batang pisang setebal 5 cm, 15 cm tanah, dan 10 kg kotoran kambing. Selanjutnya kolam diisi air setinggi 80 cm. Bibit sebanyak 12 kg dicemplungkan 2 minggu kemudian. Pertama 8 kg isi 100-112 ekor per kg, sepekan berikutnya 4 kg isi 80-90 ekor per kg. Hanya campuran yuyu alias kepiting kecil dan cacahan keong mas, 1 kg/hari, untuk pakan selama 4 bulan masa budidaya.

Trubus menyaksikan Warsim memanen masing-masing 23 kg isi 4-5 ekor/kg, 35 kg isi 7-8 ekor/kg, dan 10 kg isi 70-80 ekor/kg, sisa 10 ekor yang berbobot 0,6-1 kg. Total jenderal diperoleh 75 kg. Setelah dipilah ulang, 60 kg langsung dijual ke pengepul Rp20.000/kg. Sisanya, 15 kg terdiri atas belut yang luka dan berukuran kecil sepanjang 10-15 cm dibagi-bagikan pada tetangga sekitar rumah.

Nun di Sukabumi, Jawa Barat, dan Balaraja, Provinsi Banten, Ade Sumiyati dan Sunarto tengah menanti panen. Mereka berencana membobol kolam pada Mei 2009. Ade memiliki 10 kolam masing-masing berukuran 1,2 m x 2,5 m. Pada tiap-tiap kolam ia menebar 5 kg bibit. Staf tata usaha BPK Penabur di Sukabumi itu berasumsi memanen 50 kg/kolam. Pun Sunarto yang membenamkan masing-masing 40 kg bibit di 6 kolam berukuran 5 m x 5 m pada Desember 2008. Tenaga ahli pembuat aksesori motor itu berharap memanen 1:5. Artinya sekilo bibit menghasilkan 5 kg belut selama 4 bulan pemeliharaan. Andai prediksi Sunarto tepat, dengan harga eceran terendah Rp20.000/kg, ia bakal mengantongi omzet Rp24-juta;Ade, Rp10-juta.

Bertumbangan

Sejak marak dipublikasikan di berbagai media nasional dan milis sepanjang 2006-2007 peternak belut tumbuh bak jamur di musim hujan. Mereka menyebar di Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan. Data yang dihimpun Trubus menunjukkan pada 2007 paling tidak terdapat 150-200 pembudidaya belut. Namun, sekitar 80% peternak terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Iming-iming pasar besar dan modal kecil menjadi magnet bagi peternak. Sumber Trubus di Solo, Jawa Tengah, menguraikan tingginya permintaan pasar ekspor. Ia menyebutkan Singapura butuh 1 ton/hari; Hongkong 5-10 ton/ minggu; dan Korea 3 ton/hari. Pasar lokal? Pulau Jawa minimal menyerap 100 ton/bulan. Volume itu sampai detik ini belum terlayani. Memang dibanding lele, volume itu tak berarti. Kebutuhan pasar lele Jakarta, misalnya, mencapai 75 ton/hari. ‘Belut belum menjadi habit atau kebiasaan seperti lele yang dinikmati segala lapisan,’ ujar Kafi Kurnia, konsultan pemasaran agribisnis di Jakarta.

Budidaya belut tidak menyedot biaya besar. Apalagi untuk skala kecil, 1-2 kolam seluas 10-15 m2. Menurut hitung-hitungan Darmin, peternak di Kecamatan Karangsuwung, Cirebon, sebuah kolam plastik seluas 1,8 m x 4,5 m berikut 7 kg bibit, menelan biaya Rp350.000; kolam terpal Rp450.000. ‘Karena biayanya murah makanya saya beternak belut,’ kata mekanik listrik di perusahaan gula, PG Karangsuwung itu. Ade Sumiyati yang disebut di atas hanya mengucurkan modal Rp3-juta untuk 10 kolam.

Namun, belakangan daya tarik beternak belut agak meredup. Menginjak periode 2007-2008 jumlah peternak terus menyusut. Contoh Gabungan Orang Belut Semarang (GOBES). Sejak berdiri pada 2007 dengan 25 anggota, bersisa 5 peternak pada 2008. ‘Yang lain mundur karena gagal. Mereka belum mau melanjutkan lagi,’ ujar Budi Kuncoro SPi, ketua GOBES. Sedikit bergeser dari Semarang, di Kendal, Comunitas Peternak Belut Kendal (CPBK) menyisakan 30 dari 70 anggota di awal 2008. ‘Budidaya belut tidak segampang yang digembar-gemborkan,’ kata Muhammad Nuh, ketua CPBK. Nuh pernah memanen 5 kg dari 15 kg bibit selama 6 bulan budidaya.

Yang bermodal kuat ikut pula terjengkang. Chandra Warasto, misalnya, merugi Rp200-juta. Tahun lalu ia memutuskan menutup usaha ternak belut yang dibangunnya sejak 2006. Menurut pengusaha periklanan di Jakarta itu dari 24 kolam semen berukuran 5 m x 5 m yang masing-masing ditebar 30-40 kg bibit selama 4-6 bulan, budidaya tidak menunjukkan kemajuan berarti. ‘Begitu dipanen belutnya sedikit, hanya belasan ekor per kolam. Ukuran belut cuma bertambah panjang, rata-rata seukuran jempol dari sekelingking orang dewasa,’ katanya. Padahal pada 2007 pembeli asal Korea ingin melihat langsung kondisi farmnya sekaligus meneken kontrak ekspor.

Media

Apa sebenarnya yang terjadi? Ahmad Sarkan, konsultan belut di Kuningan, Jawa Barat, menuturkan boleh jadi peternak abai mencermati media, pakan, dan bibit. ‘Salah satu bagian tidak berjalan baik kegagalannya besar,’ katanya. Media, misalnya, sejauh ini belum ada komposisi yang pas. Padahal bahan dasarnya berkisar lumpur sawah, jerami, dan batang pisang. ‘Peternak memang dituntut terus mencoba atau belajar dari yang berhasil,’ kata Ifan Gunawan dari Ciremai Belut Center di Kuningan, Jawa Barat.

Memakai komposisi 40% lumpur, 40% batang pisang, dan 20% jerami, Budi Kuncoro hakul yakin dapat membesarkan belut. Di lain pihak Ade Sumiyati menggunakan 80% lumpur dan 20% gedebong pisang. Sunarto memilih berbagai komposisi media: 20% lumpur dan 80% batang pisang, 100% lumpur, serta 50% lumpur dan 50% bokashi. Ada pula peternak memakai 80% lumpur, 10% batang pisang, dan 10% jerami. Yang spektakuler dilakukan Suparmo di Balaraja, Provinsi Banten, menggunakan media jamur.

Sejauh ini belum terlihat komposisi terbaik karena rata-rata pemakainya belum melakukan panen sesungguhnya. ‘Semua akan jelas hasilnya setelah diangkat. Ini karena pertumbuhan belut tidak bisa dilihat mata, berbeda dengan ikan di akuarium,’ kata Ade Sunarma, MSi, periset Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar, Sukabumi, Jawa Barat.

Media matang juga penting. Ini dicirikan oleh air di kolam tidak berubah warna dan tidak berbau. Media akan sempurna setelah difermentasi 2 bulan. Kenyataan, banyak peternak membenamkan belut saat umur peram media baru 1-2 minggu. Walhasil kematian belut melonjak 90%. ‘Belut-belut mati karena media masih mengeluarkan gas metana. Ini pula yang membuat peternak di kelompok kami banyak gagal,’ kata Budi.

Menurut peternak di kaki Gunung Salak, Bogor, Ir Johny Siahaan, urusan bibit tidak kalah pelik. Johny yang memiliki 5 kolam masing-masing berukuran 5 m x 5 m mempunyai pengalaman buruk. Dari tebar 30 kg bibit di sebuah kolam, semuanya mati dalam tempo 2 minggu. Johny menduga bibit-bibit itu mengalami stres akibat perjalanan. Beruntung ia menemukan solusinya: mengkarantina bibit.

Bibit-bibit itu ditaruh dalam bak berisi campuran air dari asal bibit dan kolam baru. ‘Perbandingan air cukup 1:2,’ katanya. Nah, bila bibit tampak berenang, tidak berdiri, tanda bibit siap untuk dibenamkan di kolam. Dengan cara ini tingkat kematian hanya 1-2%. Padahal di peternak lain mortalitas bibit mencapai 10-15%. ‘Menurut penyedia bibit, 10% kematian masih normal,’ ujar Suparmo. Padahal bila minimal ditebar 40 kg bibit seharga Rp35.000/kg, misalnya, belum apa-apa peternak sudah menuai kerugian Rp140.000 (kematian 10%).

Menurut Ir Ign Hardaningsih MSi, staf pengajar Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM, bibit-bibit belut budidaya masih dari alam. ‘Belum ada formulasi pas untuk membenihkan,’ ujar kandidat doktor embriologi perkembangan itu. Namun, Ahmad Sarkan mengaku dapat ‘membibitkan’ meskipun terhitung alami. Ia menebar 1 ton induk belut alam di banyak kolam. Dari sana bibit-bibit itu muncul. ‘Dengan cara ini saya dapat menyediakan 5 kuintal bibit per minggu,’ kata Ahmad.

Sebagian besar peternak masih mengandalkan pakan alami yang tercipta dari media. Ini yang disinyalir membuat belut tumbuh lambat, bahkan mendorong kanibalisme. Menurut Nurani Sutjiatmaja pakan luar mutlak diberikan. ‘Saya memberi cacing, ayam, yuyu, dan kodok untuk pakan,’ ujar peternak yang mengelola 7 kolam rata-rata berukuran 5 m x 7 m di Cimahpar, Bogor, itu. Hal ini dirasakan membebani sebagian besar peternak.

‘Harga cacing cukup mahal sekitar Rp50.000/kg,’ ujar Warsim. Padahal bila benar-benar intensif seperti budidaya yang dilakukan Nurani, kebutuhan cacing selama budidaya 4 bulan mencapai 300 kg. ‘Sekarang tinggal pilih mau belut cepat besar atau tidak,’ kata pengusaha trading pupuk di Jakarta Selatan yang menggelontorkan biaya pakan hingga Rp7,2-juta/3 bulan budidaya. Pilihan lain seperti Ifan Gunawan dengan membudidayakan cacing Lumbricus tiger memakai media antara lain ampas tahu dan kotoran sapi. ‘Biayanya jauh lebih murah,’ katanya.

Pasar terbentang

Andaikan semua aral bisa diatasi peternak, pasar terbuka lebar. Contoh Komalasari. Sementara banyak perempuan jijik pada satwa mirip ular dan tinggal di lumpur itu, pengolah belut di Desa Pasirhalang, Sukaraja, Sukabumi, itu kelimpungan memenuhi kebutuhan hingga 6 ton/bulan; terpenuhi 2-3 ton. Padahal mitra pemasoknya meroket hingga 25 kelompok (250 anggota) pada 2009 dari sebelumnya 18 kelompok (100-an anggota) pada 2003.

Menurut Komalasari 90% kebutuhan belut terserap untuk olahan. Maklum pembina PKK setempat itu memproduksi 13 olahan belut seperti abon, dendeng, dan balado. Setiap kali mengolah ia memerlukan 100-200 kg/hari. Pengamatan Trubus di gerai pasar swalayan dan rumah makan menunjukkan indikasi minim pasokan. Tiga hipermarket besar di bilangan Margonda, Depok, Jawa Barat, seringkali kehabisan belut segar dan olahan filet seharga Rp55.000/kg hingga berhari-hari.

Di Malang, RM Belut Surabaya, misalnya, menyerap 25-30 kg belut/hari. Namun, akhir pekan saat kebutuhan melonjak 2 kali lipat, barang tidak tersedia. Pun di sentra olahan belut, Pasar Godean, Yogyakarta. ‘Untuk mendapat 50 kg/minggu bahan susah. Apalagi musim kemarau, bisa dapat 10 kg/minggu sudah bagus,’ kata Desi, pedagang. Padahal di Godean terdapat sekitar 10 pedagang dengan tingkat kebutuhan serupa.

Ahmad Sarkan pusing tujuh keliling melayani kebutuhan 10 bandar yang masing-masing meminta 5 kuintal/minggu. Padahal ia sudah menggaet mitra lewat Paguyuban Belut Nasional, beranggotakan sekitar 300 orang dengan 10% peternak aktif. Pun Juwahir, pengepul di Kepanjen, Malang, Jawa Timur, yang nyaris angkat tangan menangani permintaan 5 ton/minggu.

Dengan kondisi ini sebenarnya peternak sangat diuntungkan. Apalagi jika jeli menahan barang hingga memasuki musim kemarau, sekitar April-Agustus, saat pasokan belut alam menurun. Ketika itu harga belut tinggi. Jika musim hujan paling rendah Rp20.000/kg; kemarau Rp35.000-Rp40.000/kg.

Pasar ekspor tetap menggiurkan. Data lalulintas komoditas belut Pusat Karantina Ikan DKP menunjukkan volume ekspor nasional monopterus terus melambung. Pada kurun April-Desember 2007 tercatat 976 kg dan Januari-Desember 2008, 4.249 kg. Malaysia menjadi negara tujuan ekspor terbesar (80%) di luar Hongkong.

Menurut Sunarto permintaan ekspor dari Jepang dengan tingkat konsumsi di atas 5.000 ton/bulan mulai berdatangan. Musababnya China, salah satu sumber bahan baku unadon-makanan belut khas Jepang-tengah dirundung masalah akibat ditemukan residu pada ekspor belutnya. ‘Mereka ke sini minta filet,’ kata Sunarto yang tengah bernegosiasi.

Ia mematok harga 1.500 yen setara Rp120.000/kg filet. Volumenya? untuk periode Januari-Maret dan April-Agustus pembeli meminta masing-masing 4 ton dan 8 ton. Standar belut: panjang 30 cm dan ketebalan daging 8 mm.

Belut memang memberi impian besar. Beternak menjadi solusi keterbatasan pasokan belut alam. Itu yang dilakukan Warsim saat mantap mendulang rupiah dari beternak belut di halaman rumah. (Dian Adijaya S/Peliput: Karjono, Lastioro Anmi T, Tri Susanti, Faiz Yajri, dan Rosy Nur A)

 

Powered by WishList Member - Membership Software