Belantara Afrika di Parijs van Java

Filed in Tanaman hias by on 05/09/2010 0 Comments

 

Pandanus borasius gigan endemik pantai Cipatujah, Tasikmalaya, Jawa BaratAksi penyelamatan tunggul pulai yang diduga berumur ratusan tahun itu tak sia-sia. Tiga bulan berselang tunas-tunas baru bermunculan. Dua tahun kemudian pohon sisa tebangan itu kembali rimbun dengan cabang baru. Sosoknya tetap pendek. Di hutan tropis pulai berdiameter 1,5 m tingginya mencapai 20 m.

Benny rela merogoh puluhan juta rupiah lantaran kepincut tekstur batang pulai yang kesannya sangat tua. Kesan tua muncul dari guratan banir dan beberapa lubang yang menganga di permukaan batang. Lubang itu terbentuk dari bekas patahan cabang. Luka lalu diselimuti kulit baru yang terus tumbuh bertahun-tahun sehingga terlihat tebal. ”Saya suka mengoleksi kayu dari pohon tua karena terlihat seperti tanaman purba,” ujar pengusaha kayu itu.

Kayu gelondongan

Saking cintanya pada kayu tua, Benny membuat galeri tempat menyimpan koleksi furnitur berbahan kayu berumur ratusan tahun. Kayu yang rata-rata berdiameter lebih dari 1 m dipotong hingga ketebalan 25 cm. Lalu dibuat meja dan kursi. Agar terlihat mewah, permukaan kayu divernis hingga mengilap seperti kaca.

Cinta Benny pada kayu tua juga dituangkan dalam sebuah taman di kafe miliknya di Dago Atas, Kota Bandung. Kayu gelondongan berumur ratusan tahun diletakkan di beberapa titik sebagai elemen taman. “Suasana hutan Afrika muncul dengan kehadiran kayu tua. Itu karena belantara Afrika identik dengan kesan purba,” katanya. Ia merancang taman bergaya hutan Afrika untuk mempertegas suasana kafe miliknya yang diberi nama Congo—diambil dari nama negara di bagian barat Benua Afrika.

Nuansa eksotis khas Benua Hitam sudah terasa sejak memasuki pintu gerbang kafe. Di pintu gerbang terdapat gapura terbuat dari kayu jati gelondongan berdiameter 1 m dan tinggi 4 m. Begitu masuk area kafe, di bagian kiri jalan berdiri rumah mungil berdinding kayu dan beratap sirap. Itu adalah rumah tradisional suku-suku di Afrika.

Sementara di bagian kanan jalan masuk, terdapat anak tangga yang terbuat dari kayu bekas bantalan rel kereta api. Tekstur kayu terlihat kasar dan usang akibat tergerus waktu. Maklum, kayu bantalan kereta berasal dari rel yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Kayu bantalan kereta berupa kayu ulin yang tergolong kayu sangat kuat. Anak tangga itu mengantarkan pengunjung menuju bangunan galeri.

Di taman itu agave, aloe, kaktus, sansevieria, nolina, sikas, dan euphorbia yang kerap dijumpai di belantara Afrika tumbuh subur. Mereka dikombinasikan dengan bebatuan unik. Benny juga menambahkan elemen akar yang dibenamkan terbalik sehingga terlihat menyeruak dari dalam tanah. Permukaan tanah diselimuti rumput jarum yang menggambarkan savana yang kerap dijumpai di Benua Hitam. “Kombinasi kayu tua, batu unik, dan tanaman gurun menciptakan kesan hutan Afrika yang ganas,” ujar Iwan Irawan, perancang taman asal Bandung yang merancang taman Benny.

Zaitun

Nuansa taman Afrika juga terlihat dari vegetasi tanaman berukuran raksasa yang tumbuh di lingkungan kafe. Benny menanam beberapa jenis pandan seperti Pandanus borasius gigan. Menurut Iwan, pandan endemik pantai Cipatujah, Tasikmalaya, Jawa Barat, itu berukuran raksasa. “Tingginya bisa melebihi pohon kelapa,” katanya.

Benny juga menanam Taxodium mucronatum. Di Santa Maria del Tule, Oaxaca, Meksiko, pohon itu bisa  tumbuh setinggi 42 m dan berdiameter 11,42 m. Di taman Benny pohon yang bisa hidup hingga 2.600 tahun itu baru berdiameter 30 cm dan tinggi 7 m. “Umurnya baru 4 tahun,” ujarnya.

Sengon lanang Schizolobium parahyba juga dimanfaatkan sebagai elemen taman.  Ia dijadikan elemen taman karena terlihat bongsor sehingga memberi kesan pohon tua. Keistimewaan lain, sengon lanang tumbuh sangat cepat sehingga tidak perlu waktu lama untuk meraksasa. “Umur 3 tahun diameter batang sudah 30 cm dan tinggi 8 m,” ujar Iwan yang juga ahli vegetasi itu.

Di taman bagian depan ruang makan utama, Benny juga menanam pohon zaitun yang menjadi ciri khas vegetasi gurun di kawasan Timur Tengah. Di sebelah zaitun tumbuh baobab Adansonia digitata berumur 5 tahun. Ciri khas baobab berbatang bongsor dan tekstur batangnya terlihat tua. (baca: Dari Afrika Tumbuh di Subang, Trubus edisi Juli 2010).

Posisi zaitun dan baobab yang bersebelahan dipisahkan sebuah sumur. Dinding sumur terbuat dari susunan batu dan diberi atap jerami mirip dengan sumur yang dimiliki penduduk asli Benua Hitam. “Benar-benar memberi kesan seperti tinggal di kawasan pemukiman tradisional Afrika,” kata Benny. Padahal, semua pemandangan itu ada di Parijs van Java yang dingin dan sejuk. (Imam Wiguna/Peliput: Faiz Yajri)

Tunggul pulai berumur ratusan tahun kembali rimbun. Perlu biaya puluhan juta rupiah untuk memindahkannya dari Blora, Jawa Tengah, ke Bandung, Jawa Barat

Pandanus borasius gigan endemik pantai Cipatujah, Tasikmalaya, Jawa Barat

Gapura di pintu gerbang terbuat dari kayu jati berdiameter 1 m dan tinggi 4 m

Beberapa gubuk yang menyerupai rumah tradisional Afrika ditempatkan di beberapa titik di lingkungan kafe

Anak tangga menuju galeri terbuat dari kayu bekas bantalan rel kereta api

Benny Huis, merancang taman bergaya hutan Afrika untuk mempertegas suasana kafe miliknya yang diberi nama Congo

 

Powered by WishList Member - Membership Software