Belajar dari Mang Ihin

Filed in Majalah, Sayuran by on 17/05/2016

Budidaya padi organik yang tepat lambungkan hasil panen hingga 10 ton per hektare.

Produksi padi meningkat dengan menerapkan sistem budidaya SRI secara organik.

Produksi padi meningkat dengan menerapkan sistem budidaya SRI secara organik.

Lazimnya petani yang menanam padi varietas ciherang menuai 6 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Namun, Maman Setyawan, di Sukabumi, Jawa Barat, mampu panen lebih banyak. Pada musim tanam akhir 2015, Maman menuai hingga 10 ton per ha. Ia patut bangga sebab kenaikan produksi itu diperoleh tanpa pupuk maupun pestisida sintesis. Maman semakin senang karena harga jual gabah lebih mahal, yakni Rp6.000 per kilogram.

Bandingkan dengan harga gabah biasa paling tinggi Rp4.500 per kilogram. Produksi 10 ton itu menjadi 8,5 ton gabah kering giling (GKG). Dengan harga jual Rp6.000/GKG, ia meraup pendapatan hingga Rp51-juta. Pria yang akrab disapa Hadis itu mengatakan ongkos produksi memang lebih tinggi, mencapai Rp15,4-juta. “Porsi biaya produksi paling banyak terutama untuk pembelian kompos, penyiangan, dan panen,” ujarnya.

Nutrisi lokal
Petani konvensional hanya menghabiskan biaya sekitar Rp6-juta per ha. Meski demikian laba Maman lebih besar, Rp35,5-juta dalam satu musim tanam. Adapun petani konvensional hanya Rp16-juta. Kunci keberhasilan Maman menuai padi organik dengan produksi tinggi itu berkat penerapan metode budidaya System Rice of Intensification (SRI). Ia menuturkan budidaya organik butuh biaya lebih tinggi pada awalnya.

Sebab, petani perlu memperbaiki kesuburan tanah. Untuk kebutuhan kompos saja, ia menghabiskan 12 ton selama satu musim tanam. Maklum, sawah yang digarap pada akhir 2015 itu bekas budidaya padi padat bahan kimia sehingga kondisi tanah sangat memprihatinkan. Pria berusia 34 tahun itu menanam bibit usia muda yakni 7 hari pascasemai dengan jarak 30 cm x 30 cm.

Mantan Gubernur Jawa Barat, Solihin Gautama Purwanegara yang sohor dengan sebutan Mang Ihin memilih budidaya padi SRI organik.

Mantan Gubernur Jawa Barat, Solihin Gautama Purwanegara yang sohor dengan sebutan Mang Ihin memilih budidaya padi SRI organik.

Jumlah bibit per lubang tanam hanya satu individu. “Jarak longgar dan bibit tunggal memungkinkan bibit menyerap hara lebih efektif sebab tidak terjadi persaiangan,” ujar Maman. Hasilnya tanaman tumbuh cepat, sehat, dan mengeluarkan banyak anakan. Maman meramu sendiri pupuk organik sebagai nutrisi tanaman. Ia tidak menabur pupuk kimia maupun menyemprot produk pestisida tertentu.

Petani padi itu mengolah bahan organik menjadi larutan mikroorganisme lokal (MOL) sebagai pengganti pupuk pabrikan (lihat ilustrasi: ) Maman menyemprotkan nutrisi itu pada sore hari sebab mikroorganisme bekerja lebih optimal saat sinar matahari redup. Sawah Maman sama sekali tidak tergenang, hanya macak-macak sehingga hemat air, sekaligus mengurangi kemungkinan kerusakan akar.

Menurut dosen sekaligus peneliti di Jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung, Dr Ir Mubiar Purwasasmita tanah macak-macak atau lembap memiliki kecukupan air dan udara sehingga kerja akar lebih optimal. “Tanah yang tergenang menyebabkan kerusakan jaringan akar yang memicu pembusukan,” ujar Mubiar

Tanam kedua
Maman memperlajari budidaya padi berteknologi SRI dari sang pemilik lahan, Solihin Gautama Purwanegara, gubernur Provinsi Jawa Barat pada 1970—1974. Solihin menuturkan SRI mengajarkan cara budidaya padi yang efisien seperti penanaman bibit muda dan tunggal, pengaturan jarak tanam, dan pengelolaan air. “SRI semakin menguntungkan petani tatkala dipadukan dengan metode organik,” ujar mantan gubernur yang sohor dengan panggilan Mang Ihin itu.

Dr Ir Mubiar Purwasasmita bersama Hadis, Ir Alik Sutaryat, dan Sobirin saat berkunjung ke sawah organik milik Solihin GP.

Dr Ir Mubiar Purwasasmita bersama Hadis, Ir Alik Sutaryat, dan Sobirin saat berkunjung ke sawah organik milik Solihin GP.

Apalagi metode tanam ramah lingkungan itu hemat biaya dan mudah dilakukan. Menurut kelahiran Tasikmalaya 21 Juli 1926 itu budidaya padi organik menggunakan mikroorganisme lokal sama saja dengan menjaga kelestarian dan ekosistem alam. Sebab lingkungan terjaga dari efek zat kimia sintetis. “Petani pun tak lagi bergantung pada produk-produk pabrikan sebab mereka bisa membuat mikroorganisme lokal sendiri,” ujarnya.

Keuntungan lain keseimbangan ekosistem sawah pun terjaga. “Saya yakin pada musim tanam ketiga bakal memperoleh panen lebih banyak sebab kondisi tanah semakin subur,” ujar Maman. Menurut Kepala Bidang Program dan Evaluasi, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang, Jawa Barat, Dr Ir Priatna Sasmita MSi, dampak budidaya padi secara organik memang tidak diperoleh sesaat.

Apalagi bila sawah yang digarap sebelumnya ditanami padi secara konvensional. “Pada tahun-tahun awal hasil panen turun sebab pemenuhan tanaman tehadap kebutuhan ion tidak terpenuhi,” ujarnya. Priatna menuturkan budidaya organik baru dirasakan pada musim tanam berikutnya. Meski kesuksesan panen terhitung lebih lama, tanah semakin subur. Sebab pupuk organik berperan mengaktifkan kembali mikroorganisme dalam tanah. (Andari Titisari)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software