Batal Kemoterapi dan Radioterapi

Filed in Topik by on 02/05/2011

 

Begitu keluar ruangan dokter, Ngadirah pun langsung bersujud syukur. Derita akibat kanker endometrium – lapisan terdalam pada rahim – stadium I yang dialami sejak setahun silam berakhir sudah. Bayangan menakutkan efek samping kemoterapi seperti perut mual, muntah, ginjal rusak, iritasi rongga mulut, rambut rontok, hasrat seksual turun, sariawan, dan diare pun sirna.

Kini Ngadirah kembali menjalankan aktivitas seperti biasa. “Dulu saya tak bisa melakukan apa-pa karena sering mengalami pendarahan,” katanya. Terkadang pendarahan itu disertai keluarnya gumpalan darah seukuran telapak tangan orang dewasa dari vagina. “Rasanya seperti melahirkan. Sakit sekali,” ujarnya.

Divonis kanker

Menurut Dr dr Andhika Rachman SpPD, ahli onkologi RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, gejala lain kanker rahim adalah nyeri saat melakukan hubungan seksual, muncul benjolan, dan keputihan yang berbau. Gejala-gejala itu muncul bersamaan. “Tapi tak bisa langsung divonis kanker. Ketika gejala itu muncul harus segera dikonsultasikan ke dokter,” katanya.

Semula Ngadirah menduga gejala itu biasa dialami wanita menjelang menopause. Maklum, ketika itu usia Ngadirah 48 tahun, usia transisi menuju menopause. Khawatir berdampak buruk, ia pun memeriksakan diri ke puskesmas terdekat.

Oleh dokter puskesmas ia hanya diberi obat pereda sakit. Namun, sampai obat habis kondisi Ngadirah tak kunjung membaik. Ibu asal Kutasari, Purbalingga, Jawa Tengah, itu disarankan berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan di RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, Purwokerto, dekat kediamannya. Dokter spesialis kandungan di sana menganjurkan Ngadirah melakukan kuret untuk membersihkan rahim dari gumpalan darah yang kerap luruh di luar masa haid.

Pada Desember 2009, Ngadirah pun dikuret. Pascakuret ia disarankan untuk memeriksa darah dan jaringan di laboratorium histopatologi. Hasil tes menunjukkan pada rahim Ngadirah terdapat adenokarsinoma endometrium berupa jaringan tumor epitelial berbentuk tubular dan harus operasi. Setelah operasi, Ngadirah juga disarankan untuk melanjutkan pengobatan kanker dengan kemoterapi dan radioterapi.

Khawatir kanker beranjak ke stadium lanjut, Ngadirah pun menuruti saran dokter untuk operasi. Ia memilih operasi di RS Sardjito karena ada kakak iparnya yang tinggal di Yogyakarta. Namun, setibanya di sana, operasi tak kunjung terlaksana. “Ketika itu alasannya ruang rawat inap penuh dan harus menunggu 3 bulan,” ujar Surodjo, suami Ngadirah.

Daun sirsak

Selama masa tunggu itulah Ngadirah rutin mengonsumsi air rebusan daun sirsak. Ia mengenal daun sirsak dari Suwadji, kakak iparnya yang seorang apoteker. Sepuluh daun sirsak direbus dalam 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Air rebusan sirsak itu diminum 3 kali sehari.

Pada Maret 2010, Ngadirah akhirnya menjalani operasi pengangkatan rahim. Pascaoperasi ibu 2 anak itu melakukan tes darah untuk memeriksa kemungkinan sel kanker masih bersarang di tubuh. Hasilnya mengejutkan, tak ada tanda-tanda sel kanker. Kemoterapi yang semula mesti ditempuh Ngadirah pun batal. Namun, hingga kini Ngadirah tetap mengonsumsi rebusan daun sirsak sekali sehari untuk berjaga-jaga.

Menurut Andhika Rachman tindakan operasi yang dilakukan pada kanker stadium awal dapat menghilangkan sel kanker. Namun, secara genetik sang pasien masih menyimpan gen kanker. Artinya, jika si pasien kembali terpapar zat karsinogenik, maka sel kanker berpeluang muncul kembali. “Sel kanker itu immortal (tak bisa mati), renewal (mudah memperbaiki diri kembali), dan unlimited (perkembangannya tanpa batas),” kata Andhika.

Bagaimana peran daun sirsak? Andhika menuturkan acetogenins pada daun sirsak memang teruji menghambat pertumbuhan sel kanker. “Tapi baru pada tingkat in vitro di laboratorium. Harus diuji lebih lanjut penggunaannya pada manusia,” tuturnya.

Dokter dan herbalis di Tangerang, Banten, dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir, berpendapat pada kasus Ngadirah daun sirsak mampu menghambat pertumbuhan sel kanker selama masa tunggu operasi. Efeknya dalam 3 bulan kanker tidak berkembang ke stadium lanjut. Daun sirsak juga meningkatkan daya tahan tubuh sehingga sel kanker tidak berkembang. Kondisi psikis stabil dan rasa optimis sembuh saat mengonsumsi daun sirsak turut membantu menghambat perkembangan sel kanker. Makanya pascaoperasi sel kanker langsung hilang. “Biasanya sel kanker masih tersisa 20%,” kata alumnus University of Degli Studi di Padova, Italia, itu.

Namun, pascaoperasi pasien mesti menjaga kondisi psikis, ketahanan tubuh, dan gaya hidup sehat agar gen kanker tak lagi memunculkan sel kanker. Karena itu konsumsi daun sirsak mesti dilanjutkan dengan dosis yang lebih rendah untuk pencegahan. Dengan begitu, derita akibat kanker tak lagi menyerang. (Imam Wiguna/Peliput: Amadea Pranastiti)

Keterangan foto

  1. Ngadirah, lanjutkan konsumsi daun sirsak untuk mencegah sel kanker datang kembali
  2. Dr dr Andhika Rachman SpPD, tindakan operasi pada kanker stadium awal dapat menghilangkan kanker. Peran daun sirsak pada kanker masih harus diteliti lebih lanjut pada manusia
  3. Rekam medis sebelum dan sesudah operasi
 

Powered by WishList Member - Membership Software