Banyak Tawa, Baru Juara

Filed in Satwa by on 30/06/2011

Dari jauh suara itu persis orang tertawa. Ada seperti suara tawa yang terkekeh-kekeh, mendayu-dayu layaknya irama musik, ada juga seperti suara burung, kuuuk…kuuuk, serta menyeramkan seperti suara Mak Lampir. Suara itu saling bersahutan dan bercampur baur. ‘Ayam ketawa memang pintar menirukan suara. Ketika bersuara beberapa ayam sampai membungkukkan tubuh,’ kata Aji, salah satu peserta kontes.

Keunikan suara ayam endemik Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, itulah yang dilombakan di Gelanggang Remaja, Koja, Jakarta Utara, akhir Juni 2011. Selama 15 menit, semua ayam yang diletakkan pada tenggeran kayu diberi kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya: bersuara indah.

Tiga macam tawa

Dalam kontes, peserta dikelompokkan menjadi 3 kategori: kerajinan bunyi atau geretek, bersuara dangdut, dan bersuara slow. Pemenang di kategori geretek adalah ayam yang rajin berkokok. Kategori dangdut untuk ayam yang bersuara mendayu-dayu dengan tempo cepat. Sedangkan kategori bersuara slow untuk ayam ketawa dengan suara bertempo lambat.

Siro, ayam klangenan Santiaji, hobiis di Cempaka Mas, Jakarta Pusat, tampil menjadi jawara kategori rajin bunyi. ‘Siro memperdengarkan suaranya 41 kali dalam 15 menit,’ kata Bustamin, juri dari Sidrap, Sulawesi Selatan. Ayam berbulu putih itu memang tak henti-hentinya terkekeh-kekeh. Pantas para penonton berdecak kagum atas penampilan yang ditunjukkan Siro. ‘Ia tertawa mengekeh hingga tubuhnya terbungkuk-bungkuk,’ kata Heri, pengunjung dari Plumpang, Jakarta Utara. Saingan Siro datang dari Sumantri 2 milik Iko, hobiis di Warakas, Jakarta Utara, yang berselisih 1 suara.

Di kategori dangdut, Ceppaga meraih gelar juara. Ayam milik Oding di Jakarta Selatan itu berkokok dengan tempo cepat, lebih dari 8 ketukan pada suara tengah. Irama pun mendayu-dayu, enak didengar. ‘Ceppaga unggul di irama, suara penutup, dan mutu suara,’ ujar Muhammadong, juri yang didatangkan langsung dari kampung halaman ayam ketawa, Sidrap, Sulawesi Selatan. Selain itu, 43 kali kokokan yang disenandungkan Ceppaga, menjadi nilai tambah bagi ayam yang memiliki corak bulu blorok itu.

Tak lama, arena kontes berganti suara. Kali ini lebih syahdu karena kokokan seperti orang sedih. Di kategori ini, Cindelaras milik Agus asal Solo, Jawa Tengah, jagonya. ‘Cindelaras memiliki suara jernih,’ tutur Bustamin. Keunggulan lain yang dimiliki Cindelaras yang sudah 3 kali memenangkan kontes ialah pada ketukan atau irama, suara angkatan, dan suara penutup. Dalam kontes, kategori slow kerap disebut kategori bergengsi. Harap mafhum, dibandingkan jenis lain, jumlah ayam bertipe suara slow masih sedikit dan langka.

Ajang perkenalan

Kontes yang terselenggara atas dukungan Forum Komunikasi Pencinta, Pelestari, Penggemar, dan Peternak Ayam Ketawa Seluruh Indonesia (Forkom P4 Aksi) itu diikuti lebih dari 150 ekor. Para peserta datang dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. ‘Sayangnya, teman-teman dari Sulawesi tidak bisa hadir karena tersandung prosedur karantina. Padahal, mereka sangat antusias untuk mengikuti kontes,’ ujar Letkol Andi Sutomo, pembina Forkom P4 Aksi.

Meski begitu, suasana kontes terlihat meriah dan kualitas peserta ada peningkatan daripada kontes-kontes sebelumnya. Namun, masih kalah dibandingkan dengan manu gaga – sebutan ayam di daerah asal – yang ada di Pulau Selebes. Menurut Bustamin, ayam ketawa yang berkualitas harus memenuhi 5 kriteria penilaian: kekuatan suara, suara angkatan, suara tengah, suara penutup, dan mutu suara yang baik.

Andi Hamzah, ketua panitia, berharap kontes ini menjadi ajang perkenalan ayam ketawa yang asli Indonesia kepada seluruh khalayak. ‘Bukan hanya kepada masyarakat lokal, tetapi juga mengangkat ayam ketawa di level internasional,’ kata Andi. Rencana ke depan Forkom P4 Aksi akan terus mencari manu gaga berkualitas melalui kontes dengan standar penilaian yang bisa berlaku secara umum. Salam ketawa!. (Tri Istianingsih)

 

Powered by WishList Member - Membership Software