Banjir Hanyutkan Monstera

Filed in Laporan khusus, Majalah by on 09/02/2020

 

Indukan philodendron variegata terendam banjir.

 

Musibah banjir pada malam Tahun Baru membuat beberapa nurseri hancur.

Beberapa rumah tanam mini untuk menyimpan tanaman hasil perbanyakan hanyut.

Handry Chuhairy menyambut malam pergantian tahun 2019—2020 dengan duka cita. Hujan yang mengguyur sepanjang malam Tahun Baru menyebabkan sejumlah daerah di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, banjir. Musibah itu ternyata turut melanda nuseri milik Handry. Sungai yang mengalir di dekat nurseri miliknya di Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, Banten, itu meluap.

Luapan air menjebol gerbang depan dan pagar belakang nurseri. Akibatnya, air merangsek masuk ke area nurseri dan menyapu sejumlah tanaman hias koleksi milik Handry. Menurut Handry area yang tergenang banjir itu adalah kebun untuk produksi. Di sanalah ia menyimpan berbagai jenis tanaman induk. Beberapa jenis di antaranya adalah tanaman yang kini sedang tren, seperti aneka jenis philodendron, monstera, dan anthurium variegata.

Hanyut

Yang menyedihkan, sejumlah tanaman keluarga aroid—sebutan tanaman anggota famili Arecaceae–hasil perbanyakan turut terbawa hanyut. Beberapa di antaranya juga terdapat tanaman hasil introduksi dari Thailand. Pemilik nurseri Hans Garden itu sedang memulihkan kondisi tanaman. Handry menyimpan tanaman-tanaman itu dalam beberapa rumah tanam mini yang terbuat dari pipa plastik dan ditutup dengan plastik ultraviolet.

Pot-pot anthurium rebah akibat terjangan banjir.

Fungsi rumah tanam itu untuk menyungkup tanaman hasil perbanyakan dan proses adaptasi tanaman yang baru didatangkan dari mancanegara. “Saat banjir beberapa rumah tanam dan tanamannya terbawa hanyut,” ujarnya. Padahal, pada awal 2020 ini Handry fokus memperbanyak beberapa jenis tanaman aroid yang permintaannya tinggi dan berharga premium. Salah satunya Monstera adansonii variegata.

Koleksi tanaman hias yang semula tertata seperti taman menjadi berantakan akibat tersapu banjir.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”8129520315″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Tanaman kerabat talas itu tengah naik daun sehingga harga jualnya tergolong premium. “Untuk tanaman hasil setek dengan 1—2 helai daun saja bisa laku hingga Rp15 juta—Rp20 juta per tanaman,” tutur mantan atlet renang itu. Namun, kini impian untuk meraup laba dari hasil penjualan pun sirna. Keesokan harinya banjir pun surut. Beruntung sejumlah tanaman hias indukan yang berukuran besar masih tersisa.

Aneka jenis sikas dan encephalartos selamat dari sapuan banjir karena ditanam dalam media pasir malang yang berat. Adapun aneka jenis tanama aroid seperti monstera, philodendron, dan anthurium yang ditanam dalam media tanam yang ringan sebagian besar rebah. Koleksi Anthurium jenmanii milik Handry selamat karena disimpan di permukaan rak sehingga lolos dari genangan banjir.

Pemulihan

Beberapa monstera variegata hasil perbanyakan yang berhasil diselamatkan.

Meski sebagian besar tanaman selamat dari sapuan banjir, Handry mesti bersusah payah untuk memulihkan kondisi tanaman yang tersisa. Pasalnya, beberapa tanaman tampak merana pascabanjir. Contohnya sikas yang terendam air banjir lama-kelamaan daunnya berubah menjadi cokelat mengering. Untuk mencegah dampak serupa pada monstera dan tanaman aroid lainnya, ia terpaksa membongkar dan mengganti media tanam.

Handry juga menggunting akar-akar yang busuk, lalu menyemprot seluruh tanaman dengan fungisida, bakterisida, dan insektisida. Ia juga mesti menata ulang seluruh tanaman agar nurseri yang ditata menjadi taman itu kembali sedap dipandang. Tak hanya Handry yang terdampak musibah banjir. Andhi Lim yang juga memiliki nurseri di kawasan Tangerang Selatan, turut tergenang banjir.

Namun, beruntung air sungai yang meluap tak sampai menggenang dan menghanyutkan tanaman koleksinya. Pasalnya, ia meletakkan sebagian besar tanaman di atas rak sehingga luput dari rendaman banjir. “Air hanya mengalir di kolong rak. Hanya beberapa pot saja yang hanyut yang tidak disimpan di atas rak,” tuturnya. (Imam Wiguna)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software