Bakteri Pelindung Anggrek

Filed in Majalah, Tanaman hias by on 09/12/2019

Anggrek phalaenopsis kerap menjadi sasaran serangan layu fusarium.

 

Bakteri antagonis pelindung anggrek dari serangan layu fusarium.

Puluhan daun aneka jenis anggrek keriput dan layu. Lama-kelamaan daun anggrek menguning. Umbi semu juga kurus dan akar membusuk. Pembusukan pada akar meluas ke atas hingga ke pangkal batang. Pemilik anggrek, Wisnu, mengatakan, penyakit itu akibat serangan cendawan Fusarium oxysporum. Akibatnya puluhan anggrek di kebun Wisnu di Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Yogyakarta, mati.

Anggrek phalaenopis yang terserang layu fusarium.

Padahal, Wisnu melakukan berbagai upaya pencegahan seperti sterilisasi media tanam pakis dengan merebusnya. Pemilik kebun anggrek Widarakandang itu juga mencuci bersih dan membakar pot yang akan digunakan sebagai wadah tanam. Ia juga merendam bibit hasil kultur jaringan dalam larutan fungisida sebelum penanaman dalam pot. Namun, berbagai upaya itu tak menjamin seluruh tanaman selamat dari ancaman cendawan.

Merugikan

Wisnmu mengatakan, “Rupanya fusarium juga menyebar melalui air, angin, dan tanah.” Ketika ada tanaman yang terserang, ia berupaya agar serangan tidak sampai meluas. Caranya dengan memangkas bagian tanaman yang terserang dan memusnahkan tanaman bila fusarium menyerang sebagian besar tanaman. Ia juga rutin menyemprot tanaman dengan fungisida setiap 10 hari.

Menurut peneliti Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Prof. (Riset). Dr. Ir. Ika Djatnika, M.S., layu fusarium tergolong penyakit serius yang bersifat tular media. Penyakit itu mengancam anggrek sejak dipindah dari media kultur jaringan. “Patogen itu biasanya menyerang anggrek phalaenopsis, cattleya, dan oncidium,” ujarnya. Di Amerika Serikat, penyakit itu dapat menyebabkan kematian tanaman dan kehilangan hasil panen lebih dari 50%.

Patogen itu juga sulit dikendalikan dengan hanya menggunakan fungisida. Namun, hingga kini pekebun anggrek masih mengandalkan fungisida untuk mengendalikannya. Padahal, penggunaan fungisida kimia sintetis kerap menimbulkan polusi terhadap lingkungan.

Bakteri B37 (Pseudomonas spp) bakteri paling ampuh menekan jumlah tanaman yang terserang layu fusarium.

Menurut Ika layu fusarium dapat dikendalikan menggunakan pengendali hayati, misalnya menggunakan bakteri antagonis Pseudomonas spp. kelompok fluorescens. Di samping itu ada juga beberapa jenis mikrob yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit itu. Namun, dalam mengembangkan mikrob antagonis yang perlu diperhatikan bukan hanya efektivitas dalam mengendalikan patogen tanaman, tapi juga aspek keamanannya.

Mikrob antagonis lain yang dapat digunakan untuk mengendalikan patogen tular tanah adalah cendawan Trichoderma spp. dan Gliocladium spp. Namun, kedua makhluk liliput itu juga dapat memicu pengomposan bahan organik. Itulah sebabnya kedua cendawan itu tidak dapat digunakan untuk mengendalikan patogen tular media pada anggrek karena dapat menyebabkan media tanam mudah lapuk.

Bakteri antagonis

Ika menyeleksi bakteri antagonis yang dapat mengendalikan layu fusarium pada anggrek, tapi tidak menimbulkan kerusakan pada media tanam. Ia mengisolasi bakteri antagonis dari tanah, media tumbuh, bagian tanaman anggrek, atau lahan tanaman sayuran (cabai atau tomat) sehat yang berdekatan dengan tanaman sejenis yang terkena gejala layu di beberapa daerah di Jawa Barat dan Jakarta.

Dari hasil isolasi itu Ika memperoleh 154 populasi yang potensial sebagai bakteri antagonis. Selanjutnya ia menguji efektivitas bakteri terhadap pertumbuhan Fusarium spp. di laboratorium dan terhadap tanaman anggrek di rumah kasa. Dalam uji itu, Ika menggunakan objek tanaman anggrek bulan kultivar esmeralda yang diaklimatisasi selama 1 bulan. Ia menyemprotkan larutan yang mengandung bakteri antagonis berkonsentrasi 107 cfu/ml.

Penyemprotan dengan tangan pada seluruh bagian tanaman dan permukaan media tumbuh anggrek rata-rata 20 ml per pot. Perlakuan itu diulang setiap 14 hari dengan dosis dan konsentrasi sama. Sehari setelah penyemprotan pertama dengan bakteri antagonis, Ika menginokulasi setiap pot tanaman anggrek dengan 20 ml suspensi Fusarium spp. berkonsentrasi 107 cfu/ml. Penyemprotan patogen hanya dilakukan satu kali.

Ia lalu memelihara tanaman anggrek seperti biasa, yaitu menyiramnya sehari sekali menggunakan semprotan tangan setiap pukul 8.00. Ia juga memberi pupuk daun berkonsentrasi 2 g/l setiap 7 hari sebelum pukul 7.00. Dari 154 isolat bakteri yang diisolasi dari lapangan, hanya ada tiga isolat, yaitu nomor B23, B 26, dan B37 yang dapat menekan pertumbuhan F. oxysporum pada media potato dextrose agar (PDA).

Sampai pengamatan pekan ke-10 setelah inokulasi, setiap bakteri mampu menekan jumlah tanaman yang terserang layu fusarium, yaitu sebesar 46,9%, 48,9%, dan 65,3%. Masing-masing bakteri itu juga mampu menekan intensitas penyakit layu 50,5%, 43,9%, dan 55,1%. Keampuhan ketiga bakteri itu setara dengan fungisida berbahan aktif prochloraz dan carbendazim.

Kedua bahan aktif itu dapat mengendalikan layu fusarium secara kuratif masing-masing 50% dan 34,4%. Dengan demikian, tiga isolat bakteri B23, B26, dan B37 cukup optimal untuk mengendalikan layu fusarium pada tanaman anggrek. Bakteri B37 adalah Pseudomonas spp. kelompok fluorescens. Sayangnya dua isolat bakteri lain belum teridentifikasi. (Imam Wiguna)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software