Kayu Faloak : Bahagia Berkat Pohon Sengsara

Filed in Obat tradisional by on 03/08/2013
Mery meminum air rebusan kayu faloak sebagai pengganti air putih

Mery meminum air rebusan kayu faloak sebagai pengganti air putih

Pohon sengsara membuat penderita hepatitis bahagia.

“Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 80% pohon faloak yang ditemukan kulit batangnya terkelupas,” ujar Siswadi  S Hut, peneliti di Balai Penelitian Kehutanan Kupang. Menurut Ir Benediktus Polomain, kepala Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Timur, masyarakat menyebut faloak sebagai pohon sengsara. Sebab, masyarakat mencari pohon faloak Sterculia comosa  lalu mengambil kulitnya untuk mengobati berbagai penyakit seperti gangguan pencernaan, rematik, malaria, lever, dan hepatitis.

Pemanfaatan kulit pohon faloak berlangsung turun-temurun. Sebab, bukti empiris menunjukkan bahwa kulit kayu pohon faloak manjur mengatasi penyakit-penyakit itu. Pengalaman masyarakat yang sembuh setelah mengonsumsi rebusan kulit faloak membuat nama flolo—sebutan lain faloak di Kabupaten Timur Tengah Utara—kian dikenal masyarakat luas.

Donor darah

Beberapa penderita hepatitis di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, mengakui keampuhan faloak. Banyak anggota masyarakat di Belu terserang virus hepatitis A dan B. Menurut dr Primal Sudjana, Sp PD-KPTI, spesialis penyakit dalam RumahSakit Hasan Sadikin, Bandung, hepatitis disebabkan virus. Bila serangan virus itu dibiarkan hingga 6 bulan, dapat mengakibatkan akut. Enam bulan berikutnya dapat menyebabkan sirosis atau pengerasan hati.

Primal menuturkan, untuk mengobati hepatitis, dokter biasanya menyarankan terapi interferon yang berperan memperbaiki fungsi hati. Meski begitu, interferon tidak menjamin kesembuhan 100%. “Tingkat keberhasilannya hanya 10—15%,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran itu. Di Indonesia prevalensi penderita hepatitis B berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 mencapai  9,4%.

Mery Amelia Bell di Kupang merasakan khasiat kulit faloak. Penyakit itu terkuak ketika Mery berniat mendonorkan darahnya pada perayaan Hari Bakti Rimbawan pada 2000. Niat baik Mery justru membuatnya tercengang. Petugas Palang Merah Indonesia menolaknya sebagai pendonor karena terpapar virus hepatitis. Itu memang bukan pertama kalinya bagi Mery terdiagnosis menderita hepatitis. Pada 1988 dokter mendiagnosis Mery menderita hepatitis. Namun, setelah menjalani rawat inap di rumahsakit kondisinya pun membaik.

“Saya pikir virus itu sudah hilang,” ujar ibu 2 anak itu. Kejadian pada 2000 itu membuat Mery khawatir hepatitis yang dideritanya menular pada anggota keluarga lain. Beruntung, anak-anak dan suaminya tidak terpapar virus yang membuat Mery kerap kali tersiksa. Jika sedang kambuh ia merasakan perut bagian bawahnya terasa sakit sekali, seperti penderita usus buntu pada umumnya. Dokter yang menangani Mery menyarankan untuk meminum air dengan konsentrasi gula tinggi. “Larutan itu cukup membantu, tetapi tak bertahan lama,” kata Mery.

Seorang rekan kemudian menyarankan perempuan kelahiran 1963 itu untuk mengonsumsi rebusan kulit pohon faloak. Mery merebus 250 g kulit batang faloak dengan air sebanyak 1.250 ml atau 5 gelas air selama 20 menit hingga menjadi 1 gelas. Air rebusan biasanya menunjukkan warna merah pekat. Ia rutin meminum rebusan itu setelah makan selama 3 bulan. “Rasanya seperti air teh tawar,” ujarnya. Ia biasa mencampurnya dengan madu atau gula merah supaya manis. Kondisinya pun kian membaik dan Mery dapat kembali kerja.

Menjadi Hepatitis B

Karena merasa kondisinya membaik, Mery tak lagi memperhatikan pola makan. Ia tak lagi menjalani anjuran dokter untuk tidak mengonsumsi soda, makanan pedas, serta berminyak. Keteledorannya itu membuat virus hepatitis kembali menggerogotinya pada 2004. Bahkan kondisinya lebih buruk dibanding sebelumnya. Tubuhnya sangat lemas, bahkan untuk memegang gelas pun ia tidak sanggup. Hasil laboratorium membuatnya tercengang. “Ibu positif terkena hepatitis B,” kenang Mery sambil meniru gaya bicara dokter yang menanganinya.

Ia pun teringat kejadian sebelumnya. Perempuan yang bekerja di Dinas Kehutanan Kupang itu pun meminta suaminya untuk mencarikan kulit pohon faloak. Menurut dr Primal Sudjana, Sp PD-KPTI tidak melulu pasien yang pernah terkena hepatitis akan mengalami hepatitis lagi. “Saat itu saya menjadikan rebusan faloak sebagai pengganti air putih, saya minum setiap merasa haus,” kata Mery. Menurut Siswadi S Hut yang meneliti faloak untuk hepatitis, selama ini belum ada efek samping yang ditemukan pada pasien hepatitis yang meminum rebusan hingga 15 kali sehari.

Namun, dibutuhkan penelitian lanjutan terkait dosis aman penggunaan kulit faloak. Kulit batang faloak memang dapat direbus hingga 3 kali atau sampai warna merahnya pudar. Mery dapat menggunakan 500 g untuk satu hari penuh. Cara ini ternyata ampuh membantu perbaikan kondisi Mery. Hanya dalam 1 bulan konsumsi ia dapat kembali memasak untuk anak-anak dan suaminya. Untuk memastikan virus itu tak lagi menyerangnya, Mery sempat melakukan uji laboratorium pada 2006 dan 2010, dan hasilnya negatif.

Penderita hepatitis lainnya, Julianus Nubatonis di Kecamatan Dirma, Kabupaten Belu. Julianus yang menderita hepatitis A selama bertahun-tahun dan mencoba berbagai pengobatan, tetapi tak kunjung sembuh. Jalan kesembuhan justru ditemui saat seorang herbalis di daerahnya menyarankan mengonsumsi rebusan kulit batang faloak. Begitu juga dengan Rudi Suwendi, pengusaha bengkel di Kecamatan Berafo, Kabupaten Belu, yang juga sembuh hepatitis B setelah rutin konsumsi kulit faloak.

Bukti empiris itu menunjukkan tumbuhan endemik NTT itu menghalau laju virus dan memperbaiki sel hati.  “Rebusan kulit pohon faloak juga bisa dicampur dengan batang serai, rimpang kunyit, dan atau kulit kayu manis untuk penambah daya tahan tubuh,” kata Marthen Eny, herbalis di Kecamatan Maulafa, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Marthen juga menyarankan untuk mencegah perubahan rasa, sebaiknya tidak menyimpan rebusan lebih dari 2 hari kecuali disimpan dalam lemari pendingin. Penyimpanan akan lebih efektif jika kulit kayu disimpan dalam bentuk segar.

Kesembuhan Mery dan penderita hepatitis lainnya di Kupang bukan tanpa sebab. Hal itu sejalan dengan riset Siswadi pada 2012.  Senyawa flavonoid dalam kulit batang faloak terbukti dapat memperbaiki sel hati yang rusak. Itu disebabkan flavonoid berfungsi sebagai antivirus. Mekanisme kerja flavonoid terungkap sebagai antipolimerasi, penghambatan siklus sel, dan pelindung struktur sel. Saat ini lulusan Universitas Palangkaraya itu sedang melakukan penelitian lanjutan mengenai kayu faloak sebagai alternatif herbal penderita hepatitis. (Rizky Fadhilah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software