Babak Baru Tanam Tin

Filed in Laporan khusus, Majalah by on 03/02/2017

Para petani tin mengadopsi beragam inovasi. Produksi tanaman pun melambung. 

Buah tin longue verte grosse.

Buah tin longue verte grosse.

Tak henti-hentinya kata wow meluncur dari bibir Montserrat Pons I Boscana saat melihat sosok tin manresa di greenhouse milik Marzuki Safiee. Pakar tin dari Llucmajor, Mallorca, Spanyol, itu sangat terkesan pada pertumbuhan tin di kebun Marzuki. Menurut Montserrat sosok tin lebih bongsor daripada tin miliknya. Padahal, umur tanaman masih 1,5 tahun. Di Son Mut Nou, nama kebunnya, tin jenis itu berumur 5 tahun, lebih “mungil” daripada tanaman di tempat Marzuki.

Dengan teknologi fully Automatic fertigation system, Marzuki panen 125kg/hari.

Dengan teknologi fully Automatic fertigation system, Marzuki panen 125kg/hari.

Setelah membelah dan mencicip buah, Montserrat lebih terkesan. Meski ukuran buah lebih kecil, sekitar 60 g per buah, rasanya lebih manis dan daging buah tidak berongga. Montserrat membandingkan ukuran tin manresa di kebunnya mencapai 70 g tetapi kurang manis dan ada rongga di dalam buah. Wajar bila decak kekaguman terus mengalir dari mulut Montserrat.

Kebun terbaik
Sesekali Montserrat berdiskusi dengan Pierre Baud, koleganya asal Perancis, yang juga mengunjungi kebun Marzuki di di Kajang, Selangor, Malaysia. Keduanya hadir pada acara Fig Summit 2016. Peserta pertemuan yang berasal dari Malaysia, Indonesia, dan Thailand juga mengunjungi kebun Marzuki. Mereka pada umumnya terkesan dengan kebun Marzuki—bernama Fig Fertigation Malaysia.

Ada enam greenhouse untuk melindungi buah ara agar tumbuh sejahtera. Pada kunjungan pertama Trubus ke kebun itu pada akhir 2015, baru berdiri satu greenhouse seluas 500 meter persegi dengan produksi rata-rata 15 kg per hari. Kini luas rumah tanam mencapai 9.600 m² dari luas lahan total 1,2 ha. Tiga buah rumah tanam penuh tanaman dan 2 lainnya dalam taraf pengisian tanaman, dan satu untuk bibit.

Dalam setahun, greenhouse Marzuki bertambah menjadi 5 buah.

Dalam setahun, greenhouse Marzuki bertambah menjadi 5 buah.

Kini dari 3 greenhouse itu Marzuki menuai rata-rata 70 kg buah tin berwarna merah, 50 kg buah kuning, dan 5 kg buah hitam per hari. Harga ketiga jenis buah tin merah RM80, tin kuning RM150, dan tin hitam RM200 per kg. Nilai satu ringgit setara Rp4.000. Selain penambahan greenhouse, kebun Marzuki Safiee pun kini menerapkan sistem pemberian pupuk dan penyiraman otomatis.

Semua tahapan penyiraman dan pemupukan secara terkontrol. Petugas tidak perlu repot-repot mencampur air dan pupuk. Menurut Marzuki pemberian pupuk berdasarkan kepekatan elektrokonduktivitas (EC) pupuk. Jadwal pemupukan sesuai ketetapan pemilik. Pekerja hanya perlu meracik pupuk pekat (AB mix). Air dan pupuk pekat masuk ke dalam tangki secara otomatis bila volume di dalamnya kosong.

Marzuki Shafiee optimis dengan perkembangan tin di Malaysia akan semakin maju

Marzuki Shafiee optimis dengan perkembangan tin di Malaysia akan semakin maju

Jadwal pemberian air pupuk atau air biasa, serta kepekatannya ditetapkan dan memasukkan dalam input data yang terkoneksi dengan telepon. Penggunaan Fully Automated Fertigation System itu terintegrasi dengan berbagai sensor sangat membantu pekebun. Adanya alat itu membantu Marzuki mengurangi ketergantungan kepada pekerja sehingga mengurangi tingkat kesalahan akibat manusia.

Lebih terpadu
Teknisi perusahaan Prestigious Discovery Sdn Bhd, Shah Abdul Hafiz, mengatakan petani atau pekerja tin mudah menerapkan perangkat itu. Pekerja kebun tinggal memasukkan data, waktu, pH, dan EC yang diinginkan. Pada waktu yang telah ditetapkan alat penyiraman akan bekerja mengairi tanaman dengan pupuk atau air. Dengan demikian efisien dalam waktu pengerjaan dan mudah melakukannya.

Aneka penganan lezat dari tin.

Aneka penganan lezat dari tin.

Semua program itu tersambung dengan telepon pintar, sehingga saat mereka dalam perjalanan pun, masih dapat memantau dan mengontrol kondisi tanaman dan pemupukan. Menurut praktikus hiroponik di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Tatag Hadi, kebun tin Marzuki Safiee itu terkontrol, baik dari media, pupuk, fasilitas, dan greenhouse, sehingga kebutuhan tanaman terpenuhi. Pertumbuhan tanaman pun optimal.

“Pertanian masa depan itu, semua harus terkontrol,” kata Tatag. Pemakaian wadah keranjang atau air prunning pots (APP), misalnya, memungkinkan sirkulasi udara lancar. Sebab, bagian dinding pot berlubang memudahkan petani memangkas akar yang keluar dari lubang itu. Tanaman pun terangsang untuk memproduksi akar baru atau cabang akar sehingga tanaman lebih sehat. Bagian bawah pot langsung berhubungan dengan tanah.

Peserta Fig Summit 2016 dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Peserta Fig Summit 2016 dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Inovasi pot keranjang itu mengadopsi cara petani Jepang bertanam pada musim salju—agar mudah dimasukkan dalam rumah—juga mempunyai aerasi dan draenasi yang bagus. Karena keranjang itu mempunyai ukuran dan volume yang sama sehingga dapat dimanfaatkan untuk hasilkan produksi seragam. Dengan teknologi serba terkontrol itulah pemilik Fig Fertigation Malaysia itu mampu mendongkrak produksi.

Setahun silam produksi buah mereka rata-rata hanya 15 kg dari luas greenhouse 500 m², kini mengalami lonjakan yang sangat tinggi, mencapai 125 kg per hari. Marzuki pun mengembangkan varietas kuning, seperti gustisimo perretta, torque 2, lungo del portogallo, lungo de agusto, dan conadria de france. Sebelumnya ia hanya menanam tin buah merah, seperti super red hybrid, masui dauphine, holgin, dan cap terrat hava serta tin hitam (maltese falcon, de la reina, manresa, albacor, dan citrulara).

Montserrat Pons (kanan) dan Pierre Baud (kiri) mengagumi Manresa yang lebih manis.

Montserrat Pons (kanan) dan Pierre Baud (kiri) mengagumi Manresa yang lebih manis.

Menurut Marzuki varietas kuning itu rasanya manis dan berlemak, Produksinya bagus, dan cukup cantik penampilannya. Varietas kuning dihadirkan lantaran tin warna hitam masih kurang produktif. “Kami belum paham betul-betul perangainya,” ujar Marzuki. Menurut petani tin di Mampang, Jakarta Selatan, Ahmad Fauzi, kemajuan tin di Malaysia karena cara budidaya mereka yang memang lebih maju daripada kita.

Di Shah Alam, Masdar Mansor, menanam 400 tin di dalam greenhouse berbentuk terowongan. Yang menarik, Mansor memelihara semua koleksi hingga berbuah. Setelah melihat buah Masdar menilai kelayakan varietas itu untuk dikembangkan. Dari pengamatannya, terdapat 300 tanaman bisa berbuah, 50 tanaman sulit berbuah, dan 20 tanaman tidak enak buahnya. Kesimpulan lain, beberapa varietas dari Yunani, Maroko, Malta, dan Turki buahnya tidak bisa matang sehingga dipelihara di luar greenhouse.

Buah tin jenis hungarian black.

Buah tin jenis hungarian black.

Pengusaha mebel itu menanam tin dalam pot beton setinggi 30 cm dan berdiameter 70 cm. Ia mengisi pot dengan media tanam berupa campuran tanah hitam dan perlit. Masdar meletakkan pot tanaman berjarak 1,5 m x 1,5 m. Jarak itu sangat rapat sehingga menjadi hutan tin. Untuk menahan tanaman tidak rebah, ia melilit setiap cabang dengan tali yang digantung dari atas. Tanaman tumbuh sejahtera karena Masdar memberikan pupuk dengan irigasi tetes.

Selain itu ia juga memberi pupuk tambahan ke media. Dengan metode itu, Masdar bisa memanen 10 kg buah segar setiap hari. Setelah memanen, Masdar memangkas berat tanaman hingga tersisa 30 cm dari permukaan media. Dari setiap batang utama ia mempertahankan 4 cabang yang tumbuh ke berbagai arah untuk menghasilkan buah. Ia memanfaatkan batang pangkasan sebagai bibit dengan menanam setek itu di kotak stirofoam.

Chef Daud, manfaatkan tin untuk industri es krim.

Chef Daud, manfaatkan tin untuk industri es krim.

Para petani tin di Malaysia rata-rata menerapkan budidaya intensif, di antaranya dengan pemakaian greenhouse. Selain itu mereka lebih terorganisir dan membidik segmen produksi buah atau komersial. Dalam segi penelitian pun mereka berjalan lebih dahulu. Hasil penelitian mereka, di antaranya menunjukkan varian-varian unggul dan menemukan varian unggul, serta pemanfaatan tin, misalnya kandungan daun dan pemanfaatan daun dan buah untuk kosmetik.

Buah olahan
Menurut Fauzi produsen buah di Malaysia pun menyortir kualitas buah. Mereka menjual buah berkualitas bagus dalam bentuk segar. Adapun buah berkualitas rendah karena pecah atau tergores, diolah sendiri atau dijual ke perusahaan pengolah buah. Harga buah itu jauh lebih rendah daripada kualitas A sehingga harga jual produk olahan terjangkau masyarakat luas. Buah tin diolah menjadi produk selai, jeli, acar, sabun, dan kosmetik lain.

Ada juga yang mengolah menjadi jus dan sari buah tin. Mereka mengemasnya dengan sangat menarik sehingga layak ekspor. Aida Ibrahim dan Daud, suaminya, memproduksi olahan tin berbeda. Warga Gombak, Kualalumpur, itu menanam tin untuk keperluan sendiri dan mengolahnya menjadi penganan lezat. Harap mahfum, Aida dan Daud sepasang juru masak terkenal di Malaysia.

Dengan Fully Automatic Fertigation System, ketergantungan pada tenaga manusia berkurang.

Dengan Fully Automatic Fertigation System, ketergantungan pada tenaga manusia berkurang.

Mereka memiliki perusahaan kue dan roti berstandar ekspor. Daud mengolah buah tin menjadi aneka pancake dan kuer tart dengan topping tin. Produk yang paling terkenal ialah gelato ice cream fig. Menurut Aida kebun mereka hanya sebagai cadangan saat bahan baku dari kebun langganan kurang. Mereka memanfaatkan buah di bawah kualitas A sebab harga lebih rendah. Buah kualitas A seharga 80 ringgit per kg, kurang layak untuk usaha.

Dengan remote control, proses pemupukan dan penyiraman dapat diaktifkan dari jauh.

Dengan remote control, proses pemupukan dan penyiraman dapat diaktifkan dari jauh.

Selain itu ada sinergi antara petani dan peneliti tin. Para petani kerap menawarkan dan mengungkapkan masalah untuk diteliti mahasiswa atau peneliti. Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) paling banyak meriset tin. Peneliti di UKM, Prof Dr Zahira Yakoob, banyak membimbing mahasiswa untuk meneliti buah anggota famili Moraceae itu. Ia dan suaminya, Shamsul Akmal Shamsudin, pemilik Saf Fa Fig Garden, berkeinginan memajukan tin di Asia tenggara. (Syah Angkasa)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software