Ayam dari Dalam Tanah

Filed in Uncategorised by on 01/11/2012 0 Comments

Triono Untung Piryadi sukses membudidayakan jamur paha ayam di tanah. Jamur kayu lazimnya tumbuh di baglog.

 

Pekebun tertarik membudidayakan jamur paha ayam Coprinus comatus karena harganya yang tinggi. Saat ini harga jamur lezat itu Rp30.000-Rp35.000 per kg yang berisi sekitar 200 tudung jamur. Yang menggembirakan, biaya produksi juga relatif rendah dan cara budidaya mudah. Jamur itu mampu tumbuh di tanah sehingga pekebun dapat menanamnya seperti halnya membudidayakan sayuran lain. Pekebun di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, Triono Untung Piryadi, pernah menanam komatus di tanah.

Triono mula-mula menginokulasikan bibit jamur di baglog berbobot 1,2 kg. Itu sama persis dengan budidaya jamur tiram. Setelah miselium penuh dalam waktu sebulan, barulah ia menanamnya di dalam tanah. Tanah tempat budidaya jamur komatus itu benar-benar terbuka, tanpa naungan sama sekali. Beberapa pohon seperti kemiri dan murbei tumbuh di dekat lokasi budidaya itu.

Tanpa kumbung

Tanah tempat budidaya komatus, mesti bebas cendawan trichoderma. Kehadiran trichoderma menghambat pertumbuhan miselium komatus lantaran keduanya bersifat antagonis. Menurut Prof  Dr Iswandi Anas Chaniago, ahli tanah di Departemen Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, trichoderma biasanya terikat pada akar tanaman. Artinya, tanah untuk budidaya komatus mesti bebas dari sisa akar. “Kalau bisa gunakan tanah yang tidak pernah ditanami sama sekali,” kata Triono.

Untuk menanam komatus, keruan saja Triono membuang plastik pembungkus baglog terlebih dahulu. Pekebun 47 tahun itu menggali tanah kira-kira sedalam 10 cm untuk memendam baglog. Di dalam tanah baglog dalam posisi tidur. “Dengan posisi tidur permukaan bidang lebih luas sehingga diharapkan lebih banyak jamur yang tumbuh,” kata Triono. Ia lalu meratakan tanah sehingga seluruh permukaan baglog tak tampak lagi. Di atas tanah ia menghamparkan serbuk kayu secukupnya dan menyiraminya untuk menjaga kelembapan.

Menurut Triono paha ayam relatif mudah beradaptasi di berbagai jenis tanah. Tak ada perawatan berarti, selain penyiraman ketika tanah mulai kering. Dua puluh satu hari kemudian, ia panen paha ayam. Jamur itu siap panen jika ukuran antara tudung dan batang proporsional. Jika tudung lebih pendek daripada batang, pertanda jamur masih muda. Sebaliknya jika tudung lebih besar daripada batang, panen telat.

Ia hanya menguji coba beberapa baglog di tanah. Ketika Trubus datang ke lokasi budidaya, tercatat 106 jamur paha ayam tersisa. Mereka tumbuh menyebar. Beberapa jamur malah tumbuh di dekat akar pohon kemiri. “Ini sudah panen ke-4,” kata alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Sebelum membudidayakan jamur di tanah, ia juga pernah mencoba budidaya komatus di polibag bermedia tanah, sebagaimana menanam cabai.

Caranya persis budidaya di tanah, hanya saja baglog penuh miselium ia pendam dalam polibag. Frekuensi panen antara jamur yang ditanam di tanah dan di baglog sama: 4 kali. Interval panen 21 hari. Total jenderal, Triono memanen 6 ons per baglog. Selain kedua jenis jamur itu, ia juga pernah menanam jamur george Calocybe gambosa di tanah.

Budidaya jamur di tanah seperti dilakukan oleh Triono Untung Piryadi memang tak lazim. Triono yang pernah mengunjungi farm jamur di berbagai negara seperti Taiwan dan India belum pernah melihat jamur-jamur itu ditanam di dalam tanah. Setelah yakin bahwa jamur-jamur itu mampu tumbuh di tanah, ia berencana mengembangkannya dalam skala luas. Pada masa mendatang, “Orang dapat menanam jamur di tanah, tak harus bergantung pada baglog,” kata Triono.

Teknik baru

Model penanaman jamur di tanah itulah yang kelak akan ia kembangkan sebagai alternatif budidaya bersama para pekebun plasma. Persis jamur tiram yang kini banyak dikelola dalam bentuk kemitraan. Pekebun tak harus membangun kumbung sebagai rumah tanam. Sebab, tanpa kumbung pun jamur dapat dibudidayakan. Artinya, pekebun dapat menghemat puluhan juta rupiah. Menurut Sahim, petani jamur di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, biaya membangun kumbung berukuran 4 m x 10 m setinggi 4 m hampir Rp15-juta.

Peneliti jamur di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr Iwan Saskiawan, mengatakan budidaya jamur komatus di tanah merupakan hal baru. “Kalau ada petani yang sudah menanam itu merupakan informasi yang bagus,” tutur Iwan. Ia mengatakan petani lazim membudidayakan jamur kancing di tanah. Tujuannya adalah untuk menguatkan tubuh buah miselia ketika keluar. Sebab, unsur hara dalam tanah cukup baik untuk menunjang pertumbuhan miselia.

Komatus salah satu jamur eksklusif. Orang yang baru pertama kali mencicipi potongan-potongan komatus mirip daging ayam berbalut tepung menyangka itu daging ayam betulan. Begitu digigit, tekstur dan cita rasa daging ayam seketika memenuhi rongga mulut. Masyarakat Inggris menjulukinya shaggy mane-artinya bulu yang kusut lantaran tudungnya mirip bulu binatang yang tidak terawat.

Jamur paha ayam cocok sebagai bahan berbagai olahan, termasuk menggantikan daging dalam makanan kaum nabatiwan alias vegetarian. Aroma lembap jamur tidak masalah lantaran mudah diatasi dengan pemberian bumbu. Pasalnya, “Bahan jamur mudah menyerap aroma rempah,” kata Ratidjo Hardjo Soewarno, pemilik Jejamuran, restoran khusus jamur di Beran, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Termasuk komatus yang sosok dan cita rasanya mirip daging ayam. (Sardi Duryatmo & Argohartono Arie Raharjo)


Keterangan foto :

  1. Jamur paha ayam atau komatus hasil budidaya di tanah
  2. Coprinus comatus hasil budidaya di tanah
  3. Cita rasa jamur komatus mirip ayam
 

Powered by WishList Member - Membership Software