Ayam Bongsor dari Dramaga

Filed in Majalah, Satwa by on 12/03/2021

Ayam IPB D1 merupakan ayam komposit hasil silangan 3 jenis ayam lokal dan 1 jenis ayam ras.

Ayam lokal baru tahan beberapa penyakit, pertumbuhan bongsor, dan daging bercita rasa mirip ayam kampung.

Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Sc., ketua peneliti ayam IPB D1.

Ayam lokal memerlukan 12 pekan untuk mencapai bobot 0,921 kg. Bandingkan dengan ayam baru bernama IPB D1 pada umur 12 pekan berbobot 1,5 kg per ekor. Ayam komposit atau ayam persilangan itu memiliki komposisi genetik 75% ayam asli (pelung, kampung, dan sentul) serta 25% parent stock ayam broiler strain cobb. Kementerian Pertanian mengakui ayam IPB D1 sebagai rumpun dengan nomor SK pelepasan rumpun 693/KPTS/PK230/M9/2019.

Ketua tim peneliti dan pemulia ayam IPB D1, ahli genetika dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri. Menurut Cece tujuan penyilangan keempat jenis ayam untuk menciptakan ayam lokal pedaging yang cocok untuk peternakan rakyat yang bersifat ekstensif. Cita rasa daging seperti ayam kampung, pertumbuhan lebih cepat, serta memiliki ketahanan terhadap penyakit yang bagus seperti ayam kampung.

Vaksin Minimal

Anggota tim peneliti, Prof. Niken Ulupi, mengatakan, “Ayam yang tahan penyakit sangat sesuai dengan kondisi peternakan masyarakat, karena masyarakat tidak melaksanakan biosekuritas sama sekali. Tidak ada vaksin dan vitamin.” Ayam IPB D1 juga resisten atau tahan terhadap penyakit seperti tetelo akibat virus newcastle disease (NDV). Itu warisan ayam asli yang ada 75% pada genetik ayam IPB D1.

Ayam IPB D1 sangat cocok untuk peternakan rakyat yang semiintensif atau ekstensif.

Bibit ayam ras lazimnya harus memperoleh beberapa jenis vaksinasi seperti mareks, infectious laryngo tracheitis (ILT), dan infectious bursal disease (IBD). Selama pengamatan penelitian ayam IPB D1 teruji mampu bertahan hidup tanpa vaksinasi selama pengamatan 12 pekan. Genetik ayam IPB memang memiliki gen-gen penyandi kekebalan tubuh terhadap bakteri Salmonella pulmoris serta virus newcastle disease (NDV) yang dapat diturunkan.

Itulah hasil penelitian Dr. drh. Sri Murtini, ahli penyakit unggas dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Kedua penyakit itu sejatinya yang paling lazim menyerang ayam, terlebih bila sistem peternakan ekstensif. “Perlu diperhatikan bahwa ayam IPB D1 bukanlah ayam asli, tetapi merupakan ayam lokal. Ayam lokal merupakan ayam hasil introduksi ataupun persilangan yang telah dikembangbiakkan minimal 5 generasi,” tegas Prof. Cece.

Telur ayam IPB D1 di dalam mesin tetas di peternakan Sinar Harapan.

Kelebihan lain ayam IPB D1 adalah pertumbuhan stabil terhadap asupan nutrisi yang berubah-ubah. Peternak ayam IPB D1 di Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Ali Mustopa, S.Pt, membuktikan keunggulan ayam itu. Ali mengelola peternakan ayam Sinar Harapan. Populasi ayam IPB D1 60 induk dan 4.000 ekor day old chick (DOC).

Pria berumur 28 tahun itu mengembangkan ayam semiintensif dalam kandang dan diumbar secara terbatas. Ayam tetap diumbar supaya dapat mencari pakan tambahan alami secara mandiri seperti cacing-cacingan, larva, dan vegetasi tanaman. Semula Ali meneliti ayam IPB D1 dengan cara budidaya intensif. “Pengamatan saya selisih bobot ayam versus semiintensif di kandang saya yaitu 50—100 gram untuk betina dan 200 gram untuk jantan,” ujar Ali.

Rasa daging

Ali Mustopa, S.Pt. membudidayakan ayam IPB D1 di peternakan Sinar Harapan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Menurut Ali umur panen yang sama yaitu 12 pekan pada kandang Ali menghasilkan 0,9—1,1 kg ayam betina dan 1,1—1,3 ayam jantan. Ali hanya memberikan pakan pabrikan untuk DOC berusia 0—1 bulan. Selanjutnya ayam mengonsumsi pakan bikinan Ali berbahan baku dedak padi, jagung, pucuk daun indigofera, dan magot lalat tentara hitam. Peternak sejak 2016 itu juga memberikan magot segar setiap sore sebagai camilan.

Rasio konversi pakan (Feed Conversion Ratio) ayam IPB D1 berkisar 3—5. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging, ayam IPB D1 memerlukan 3—5 kg pakan. Bandingkan dengan FCR ayam kampung lokal yang mencapai 4—6.

Daging ayam IPB D1 mengandung zat besi (Fe), selenium (Se), mangan (Mn), dan seng (Zn) relatif tinggi. “Ayam IPB D1 sangat berpotensi dikembangkan sebagai daging ayam berantioksidan tinggi,” kata Prof. Cece. Menurut Ali rasa daging ayam IPB D1 seperti ayam kampung. “Harga daging ayam kampung lebih tinggi dan stabil ketimbang ayam ras. Kisaran harga ayam kampung hidup di sini Rp25.000—Rp40.000 dengan rata-rata Rp33.000,” kata Ali. Ali senang karena harga ayam IPB D1 yang merupakan ayam komposit setara ayam kampung.

Ayam potong IPB D1 yang diproduksi oleh Ali Mustopa

Peternak ayam IPB D1 lainnya, Fikri Al Habib di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, memelihara 300 ekor. Ayam-ayam itu di kandang Habib tak pernah sakit tetelo ataupun snot. (Tamara Yunike)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software