Awas! Ada Monster

Filed in Topik by on 01/07/2009 0 Comments

Lazimnya myriostigma berbentuk seperti belimbing dengan 5 rib – semacam pasi pada buah belimbing. Bentuk tubuh berubah total jadi seperti monster lantaran, ‘Sebagian gen yang mengatur ekspresi bentuk rusak,’ tutur Ir Edhi Sandra MSi, ahli fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Menurut Edhi di dalam tanaman ada gen yang bertugas mengatur ekspresi organ tanaman. Misal, organ buah, bunga, atau daun. Pada kasus myriostigma, gen yang mengekspresikan bentuk tanaman secara keseluruhan rusak. Akibatnya sosok tanaman berubah signifikan. Kelainan itu lazim disebut montrose alias monster.

Montrose merupakan 1 dari 3 bentuk mutasi di kaktus selain variegata dan kristata. Di antara ketiganya, variegata paling mudah terjadi. Itu karena mutasi hanya terjadi pada gen pengendali warna. Makanya variegata dikenal sebagai kelainan warna. Meski disebut paling mudah muncul, peluang lahirnya variegata hanya 1:5.000 dari semaian biji. Literatur lain menyebut 1:1.000.000. Artinya, dari 1-juta biji yang disemai hanya 1 yang tumbuh sebagai variegata.

Kristata vs monster

Dua mutasi yang lain – kristata dan montrose – sama-sama kelainan bentuk tanaman yang terjadi pada sel meristematik, terutama di titik tumbuh pucuk. Sel-sel hasil pembelahan sel meristem mampu membelah dengan cepat membentuk jaringan baru. ‘Kristata terjadi karena sel meristem yang membelah secara horizontal rusak. Akibatnya tanaman tidak mengalami penebalan, tapi tumbuh memanjang dan gepeng,’ ujar Edhi. Itu yang terjadi pada Echinopsis subdenudata kristata koleksi Handhi, pemilik nurseri Rumah Pohon di Tangerang, Banten. Sosok subdenudata itu seperti kipas. Contoh lain, Mammillaria sp kristata milik Linda di Surabaya, Jawa Timur.

Tanaman kristata mudah diidentifikasi jenisnya karena bentuk tanaman masih jelas. Contohnya Astrophytum myriostigma kristata koleksi Handry. Sosok sukulen itu berlipat-lipat di bagian bawah dan tengah. Sementara ujungnya tampak sosok myriostigma asli, berbentuk belimbing dengan 5 – 7 rib.

Pada montrose mutasi yang terjadi jauh lebih hebat. Sebagian besar gen pengatur bentuk dari sel-sel meristematik mengalami kekacauan. Akibatnya, ‘Tanaman montrose bentuknya jadi tak beraturan sehingga sulit diidentifikasi lagi jenisnya,’ kata Dr Susiani Purbaningsih DEA, ahli fisiologi tumbuhan di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia. Makanya bentuknya disebut seperti monster.

Menurut Susiani fenomena montrose jarang ditemukan pada tanaman selain kaktus. ‘Yang lazim terjadi hanya variegata dan kristata,’ kata doktor dari University Montpellier II, Perancis, itu. Menurut Edhi montrose bisa terjadi pada tanaman yang sistem organnya belum terspesialisasi dengan baik dan berada di kondisi lingkungan sangat ekstrim. Tanaman yang pertumbuhannya cepat dan memiliki banyak titik tumbuh pun berpeluang mengalami mutasi montrose. Makanya tak heran montrose paling banyak dijumpai pada kaktus dibanding tanaman lain.

Dari ketiga mutasi di kaktus, montrose yang paling kecil kemungkinan munculnya. Makanya harga kaktus monster jauh lebih mahal ketimbang yang normal. Sebut saja Myrtillocactus geometrizans montrose milik Pukhao Chakasik di Pathumthani, Thailand. Kaktus setinggi 50 cm dan diameter 17 cm itu berharga Rp15-juta. ‘Yang biasa dengan tinggi sama harganya kurang dari Rp500.000,’ kata Erminus Temmy, pemilik nurseri Venita di Lembang, Bandung, Jawa Barat.

DNA rusak

Menurut Edhi mutasi – variegata, kristata, dan montrose – disebabkan banyak faktor. Senyawa kimia yang bersifat mutagenik – misalnya kolkisin – dan radiasi sinar berenergi tinggi yang mengenai tanaman dapat merusak DNA atau kromosom. Makanya sinar gamma dipakai Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk mengubah susunan kromosom tanaman. Bedanya perubahan diarahkan untuk menghasilkan tanaman pangan atau produksi yang unggul.

Senyawa kimia bersifat asam juga bisa mengakibatkan susunan gen berubah. ‘Asam nukleat penyusun gen bisa rusak bila terkena cairan asam,’ kata kepala unit kultur jaringan di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB, itu. Selain reaksi kimia, perlakuan fisik berlebihan juga dapat menyebabkan rusaknya organ atau jaringan yang akhirnya mengganggu penggandaan DNA. Contohnya perbanyakan tanaman dengan cacah batang. Suhu tinggi pun dapat menyebabkan asam nukleat penyusun kromosom rusak. Bila jumlah asam amino yang rusak di sel meristem sangat banyak, maka lahirlah monster seperti A. myriostigma koleksi Handry. (Rosy Nur Apriyanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software