Atur Nutrisi Melon

Filed in Buah, Majalah by on 07/09/2020

Petani di Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, Firhat Lausi, menggunakan 3 kg kompos sebagai pupuk dasar. Setelah penanaman Firhat melakukan 5 kali pemupukan. Pertama pada 8—10 hari setelah tanam (hst) 300 gram NPK yang dilarutkan dalam 200 liter air. Dosis itu untuk seribu tanaman. Delapan hari berselang ia kembali memupuk, yakni 300 gram NPK dan 200 gram pupuk mikro (Mg, S, Fe, Mn, Zn, B, dan Cu).

Di sela-sela pemupukan Firhat menyemprotkan pupuk silika. Manfaatnya untuk membentuk rambut-rambut di permukaan daun dan batang agar lebih kokoh. Pemupukan ketiga ketika tanaman berurmur 32 hari. Dosis NPK dan pupuk mikro masih sama. Namun, ia menambahkan kalsium dan kalium masing-masing 250 gram. Adapun pemupukan keempat saat tanaman berumur 40 hari, jenis pupuk sama dengan sebelumnya.

Ia juga menambahkan pupuk cair fosfat dan kalium (pk) tinggi sebanyak 250 ml. Tujuannya untuk menunjang pembentukan pentil buah dan menjaga ketersediaan nutrisi untuk pembesaran buah. Pemupukan terakhir tidak lagi menggunakan NPK karena pertumbuhan vegetatif berakhir. Pemupukan kelima itu menggunakan 400 gram kalium, 400 gram kalsium, 200 gram pupuk mikro, dan ditambah 500 ml pk tinggi.

Petani di Kabupaten Kalianda, Provinsi Lampung, Gede Santiasa, melakukan hal serupa. Santiasa memupuk delapan kali. “Hasilnya tidak mengecewakan. Dari segi rasa masuk ke permintaan pasar,” kata pria kelahiran 10 Juni 1971 itu. Pada musim tanam kedua yakni pada Juli 2019 pria 49 tahun itu sempat keliru. Ia tidak melakukan melakukan pengolahan lahan. Tetapi ternyata kemas tetap tumbuh optimal dan bebas dari serangan virus gemini. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software