Atasi Pencuri Laba Petani

Filed in Fokus by on 01/04/2013 0 Comments

Pertanaman bawang merah rentan hama dan penyakitStrategi untuk mengamankan bawang merah dari para perongrong.

Homo proponit, sed Deus disponit, manusia boleh merencanakan, Tuhan jualah yang Maha Penentu. Pekebun di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, Dulhadi Tayip, merencanakan untuk menuai minimal 10 ton  bawang merah di lahan 1 ha. Namun, apa lacur beberapa pekan menjelang panen pada 2009, antraknosa datang menyerang. Tayip hanya menuai 3 ton dari 10 ton yang direncanakan. Dengan harga jual Rp9.500 per kg, kerugian Tayip minimal Rp66,5-juta.

Suwandi menyemprotkan insektisida pada 15—35 hariAntraknosa akibat serangan cendawan Colletotrichum gloeosporoides itu bukan hanya menyerang bawang merah di lahan Tayip. Bawang merah di lahan-lahan lain milik anggota Kelompok Tani Mitra Tani seluas total 75 ha juga membusuk. Akibatnya mereka gagal panen lantaran 100% tanaman mereka hancur. Menurut Kepala Bidang Agribisnis dan Hortikultura Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Brebes, Sismunjidi, penanaman terus-menerus menjadikan siklus penyakit tidak pernah terputus.

Sismunjidi mengatakan bahwa semula petani menanam bawang merah hanya saat kemarau karena cuaca mendukung sehingga produktivitas tinggi. Namun, sejak 2006 pekebun juga membudidayakan sayuran anggota famili Liliaceae itu pada musim hujan. Semula saat musim hujan, kebanyakan petani menghindari menanam bawang merah. Akibatnya pasokan minim dan harga terdongkrak naik. Itu mendorong sebagian petani tetap menanam meski penyakit mengancam.

Cendawan

Para pekebun di Brebes menyebut penyakit yang menyerang lahan Tayip sebagai penyakit otomatis. Sebab, tanaman bawang merah yang dibudidayakan pada musim hujan hampir “otomatis” terserang antraknosa. Menurut Ir Baswarsiati MS, periset di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Malang, Jawa Timur, cirinya daun bawang merah yang terserang memutih dan melepuh sebelum akhirnya semua daun tiba-tiba patah  serentak.

Gejala serangan ringan di hamparan terlihat bidang-bidang kosong karena daun rebah, sepintas mirip gejala serangan padi di sawah yang terserang tikus. Saat itu petani mengendalikan serangan dengan fungisida berbahan aktif propamokarb atau tebukonazol. “Jika dibiarkan, seluruh lahan bisa terserang bahkan mengakibatkan petani gagal panen,” kata periset alumnus Universitas Brawijaya itu.

Cendawan antraknosa menyukai kelembapan tinggi dan lingkungan kaya nitrogen, yang lazim terbentuk di pertanaman pada musim hujan. Sebagai pencegahan, Baswarsiati menyarankan memperbaiki drainase sehingga air hujan segera mengalir keluar dari lahan. “Longgarkan jarak tanam untuk mengurangi risiko penularan akibat percikan air hujan,” kata alumnus Magister Pemuliaan Tanaman Institut Pertanian Bogor itu.

Sialnya, petani justru merapatkan jarak tanam saat musim hujan lantaran mereka tahu bahwa produktivitas saat itu rendah. Suwandi Dirja, petani di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, misalnya, menanam dengan jarak 5 cm x 15 cm. Kebanyakan pekebun menanam bawang merah berjarak tanam  10 cm x 15 cm  ketika kemarau. Namun, jika tanaman telanjur terserang, segera bongkar tanaman terserang sampai umbi agar tidak menjalar ke tanaman lain.

Penyakit lain yang juga mengintai tanaman bawang merah pada musim hujan adalah moler alias fusarium dan bercak ungu alias trotol akibat cendawan Alternaria porrii. “Jika tampak daun bawang merah yang melekuk, segera teliti kondisi daun di balik lekukan,” kata Dr Widodo, pakar hama dan penyakit tanaman di Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor.

Bila di lekukan itu terdapat noktah atau bercak kecil putih abu-abu, artinya  trotol datang menyambangi. Menurut Baswarsiati, penyebaran serangan trotol bisa terhenti dengan sendirinya jika kondisi tanaman sehat. Sebaliknya, jika daya tahan tanaman lemah, bercak akan melebar menjadi cincin keunguan dikelilingi warna kuning. Untuk mencegah serangan sebaiknya petani menanam bawang merah berjarak minimal 10 cm x 15 cm.

Sementara itu gejala serangan layu fusarium alias moler berupa daun tiba-tiba menguning lalu layu terpelintir dalam hitungan jam. “Saat daun layu, itu berarti pangkalnya sudah busuk,” kata Dr Widodo. Jika kita mencabut tanaman, daun langsung patah. Untuk mencegah serangan makin luas, bongkar tanaman terserang.

Sementara Ir Yos Sutiyoso, pakar fisiologi tanaman di Jakarta, menyarankan pemberian pupuk tinggi unsur kalium dan fosfor untuk memperkuat dinding sel. Adapun kebutuhan unsur nitrogen  dipenuhi melalui pemberian pupuk yang mengandung nitrat. “Dinding sel yang kuat sulit ditembus hifa cendawan penyebab penyakit,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Tanaman dengan dinding sel kuat relatif tahan stres sehingga mampu tetap berproduksi meski terserang penyakit

Hama

Jika musim hujan identik dengan penyakit, maka pada kemarau hama merongrong bawang merah. Tayip pernah kehilangan 2,5 ton bawang merah karena serangan hama Liriomyza sp. Omzet Rp21,25-juta pun tercuri hama grandong itu. Ia hanya memperoleh 7,5 ton dari lahan 1 ha.

Grandong melubangi daun dan bertelur di dalamnya. “Saat telur-telur itu menetas, mereka menggorok daun dari dalam,” kata Tayip.

Pria  kelahiran 46 tahun lalu itu lantas memilih insektisida berbahan aktif tiodikarb dan triflumuron untuk membasmi hama. Keduanya bersifat racun telur dan perut, yang mampu mengatasi berbagai jenis ulat. Hasilnya, panen aman dan mampu mencapai produktivitas 10 ton per ha.

Jenis hama lain yang kerap menyerang antara lain thrips, ulat daun, ulat grayak, dan ulat tanah. Banyaknya perampok yang mengincar itu membuat petani memilih langsung menyemprotkan insektisida sebagai pencegahan. Pekebun di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Suwandi, misalnya, menyemprotkan insektisida berbahan aktif fipronil—yang merupakan racun kontak perut—sejak tanaman bawang merah setinggi 7 cm atau berumur 15 hari setelah tanam.

Pekebun berusia 47 tahun itu menyemprot 6—8 kali sampai tanaman berumur 35—40 hari. Menurut Widodo, pemberantasan hama dan penyakit sebaiknya tidak menggunakan 1 jenis bahan aktif yang sama secara terus-menerus. “Tujuannya mencegah timbulnya resistensi pada hama target,” kata Widodo. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software