Atasi Layu Fusarium

Filed in Inspirasi, Majalah by on 12/02/2020

Buah cabai terserang layu akibat ulah cendawan Fusarium oxysporum.

Tepat mencegah dan mengatasi layu fusarium tanaman cabai.

Senior Crop Manajer Vegetable PT Bina Guna Kimia (FMC), Agus Suryanto.

Tanaman cabai di lahan Ivan Kurniawan tiba-tiba layu ketika terpapar sinar matahari. Padahal, tanah milik pekebun cabai di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu masih basah. Daun dan batang menguning. Itulah gejala serangan cendawan Fusarium oxysporum. Ivan tak mampu menyelamatkan 720 tanaman yang terserang cendawan anggota keluarga Netriaceae itu. Ia menanam cabai di lahan 4.000 m² berpopulasi 6.000 tanaman.

Ivan sigap dengan memisahkan dan membakar tanaman yang terkena gejala demi mencegah penyebaran. “Terdapat spora cendawan pada akar tanaman jika dibelah,” kata alumnus Jurusan Agribisnis, Universitas Suryakancana, Canjur, Jawa Barat itu. Ivan segera mengaplikasikan fungisida secara merata ke seluruh lahan, setelah memusnahkan tanaman dengan gejala layu.

Gagal panen

Akibat serangan layu fusarium, petani gagal panen.

Penelitian Nita Wahyu Suwardani dari Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Kota Purwokerto, Jawa Tengah, membuktikan, gejala layu fusarium pada tanaman cabai merah diawali dengan memucatnya tulang-tulang daun, terutama daun bagian atas, diikuti dengan merunduknya tangkai, kemudian tanaman layu secara keseluruhan. Cendawan fusarium menginfeksi akar lalu ke seluruh tanaman melalui pembuluh kayu atau xylem.

Dampaknya proses transpor air dan penyerapan nutrisi pada tanaman pun terganggu. Fusarium berkembang pada suhu tanah 21–33°C, optimum pada 28°C. Menurut Senior Crop Manajer Vegetable PT Bina Guna Kimia (FMC), Agus Suryanto, curah hujan dan kelembapan udara tinggi dapat meningkatkan serangan fusarium. Pemicu lain karena penanaman cabai di lahan sama secara terus-menerus tanpa pergiliran tanaman. Serangan berat biasanya terjadi pada musim hujan dengan tingkat kerugian 30% hingga puso atau gagal panen.

Penyeimbang pH tanah produksi FMC.

Menurut Agus pengendalian fusarium dimulai dari pengolahan tanah. Pada pengolahan tanah (sebelum tutup mulsa) petani bisa menyemprotkan Microferti Magnet untuk menstabilkan pH tanah dengan dosis 20 liter per hektare. Pada persemaian, 2–5 hari sebelum pindah tanam petani bisa menyemprotkan fungisisda Octave 50WP degan konsentrasi 2 gram per liter atau pada saat pindah tanam dicelupkan pada larutan Octave dengan konsentrasi 2 gram per liter air.

Fungisida produksi FMC.

Agus menyarankan aplikasi fungisida seawal mungkin sebelum terjadi seragan penyakit layu fusarium (moler). Sejak persemaian atau disaat pindah tanam. Namun, secara umum bisa dilakukan aplikasi Octave 50WP mulai umur 14 hari setelah tanam (HST) dan diulang lagi pada saat umur 21 HST. Kemudian dilanjutkan pada fase generatif pada 56 HST dan 63 HST.

Penyemprotan fungisida Octave 50WP secara tunggal maupun dicampur dengan fungisida lain, insektisida, dan pupuk daun. Dosis sesuai dengan anjuran yaitu 650 gram per hektare atau konsentrasi 2 gram per liter. Apabila ditemukan penyakit lainnya seperti Alternaria porri dan antraknosa petani bisa mencampurkan atau merotasikan dengan fungisisda Rovral 50WP dengan dosis 500–750 gram per hektare. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software