Atas Bawah Bisa

Filed in Sayuran by on 31/10/2011

 

Pada penanaman kol bunga di dataran rendah jarak tanam padat pada kemarau, musim hujan lebih longgarProduktivitas kol bunga varietas dataran rendah mencapai 14 ton/haDua tahun silam nama Gambiran, Cluring, dan Srono – ketiganya kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur – tak pernah disebut-sebut sebagai sentra sayuran. Kini, ketiganya menjadi pemasok kol bunga di pasar Surabaya dan Bali, bersama Sempu yang sudah lebih dulu sohor sebagai sentra sayuran di Kota Gandrung itu. Ketiga kecamatan di ketinggian 50 – 150 meter di atas permukaan laut itu menjadi salah satu sentra kol bunga sejak munculnya beberapa varietas dataran rendah.

”Sejak 2 tahun silam, mulai bermunculan benih kol bunga dataran rendah,” kata Nasrul Nastain STP, konsultan agribisnis yang menjalin kemitraan dengan para pekebun sayuran di Banyuwangi. Para pekebun di dataran rendah di Banyuwangi menanam kol bunga bergiliran dengan cabai. Menurut pengelola klinik agribisnis hortikultura Prospek Mandiri Mutiara Timur, itu, ada sekitar 10 varietas kol bunga yang ditanam pekebun di Banyuwangi.

Lebih segar

Beberapa varietas kol bunga yang adaptif di dataran rendah yaitu PM 126, white island, dan nova. Ketiga varietas itu sebetulnya bukan hanya cocok di dataran rendah, tetapi juga di dataran tinggi. ”Ketiganya berbunga putih dan adaptif di dataran tinggi maupun rendah,” tutur Nasrul. Di antara ketiga varietas Brassica oleracea var. botrytis subvar. cauliflora itu, pekebun lebih banyak menanam PM 126. Sebab, umur panen PM 126 relatif genjah. ”PM 126 bisa dipanen umur 45 hari atau lebih cepat dibanding varietas dataran tinggi yang rata-rata dipanen umur 60 hari,” ujar H Deden, pekebun di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Umur panen varietas dataran rendah lain rata-rata 50 – 65 hari. Namun, bobot bunga white island misalnya, lebih besar dibanding PM 126. Di Banyuwangi, bobot rata-rata white island 0,7 – 1 kg, sementara PM 126 sekitar 0,5 kg. Di kebun Deden, bobot PM 126 rata-rata 8 ons. Bobot per krop di dataran rendah relatif sama dengan bobot di dataran tinggi. Pasar menghendaki kol bunga berbobot 0,5 – 0,8 kg. ”Konsumen terbesar adalah ibu rumah tangga yang hanya butuh dalam jumlah kecil. Jika krop terlalu besar, sisanya terbuang percuma. Makanya ukuran kecil lebih disukai,” ujar Nasrul.

Keunggulan varietas kol bunga dataran rendah antara lain lebih segar dan tahan lama di pasar. Varietas dataran rendah tahan simpan 4 – 7 hari; sedangkan varietas dataran tinggi rata-rata 3 hari. Musababnya, kol bunga asal dataran tinggi cenderung berkadar air lebih tinggi. Akibatnya mudah rusak, busuk, dan berubah kecokelatan (browning) jika terkena gesekan.

Di dataran rendah Banyuwangi, produktivitas kol bunga rata-rata 12 ton per ha. Di kebun Deden, produktivitas kol bunga dataran rendah juga relatif tinggi mencapai 5,9 ton per 4.000 m² atau sekitar 14,75 ton per ha. Pekebun yang menanam kol bunga di lahan seluas total 2 ha secara bergilir itu menanam dengan populasi 7.375 tanaman per 4.000 m². ”Saya menggunakan pola penanaman rapat berjarak 50 cm x 50 cm pada musim kemarau,” ujarnya. Pada musim hujan, jarak tanam longgar, menjadi 60 cm x 60 cm.

Potensial

Nun di Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, ada Ayi Sumarna yang juga mengembangkan kembang kol dataran rendah sejak awal 2011. Lokasi kebun Mara – panggilan akrab – di ketinggian 30 meter di atas permukaan laut. ”Potensi pemasaran sayuran dataran rendah besar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal,” tutur Mara.

Ia mengembangkan kol bunga di lahan 3.000 m² bekas tanah tegalan. Untuk mengubahnya menjadi kebun kembang kol, mula-mula Mara mencangkul tanah itu dan menaburinya dengan 1,5 ton pupuk kandang. Selain itu ia juga menaburkan 100 kg pupuk TSP di lahan. ”Setelah itu saya membuat bedengan dengan lebar 1 m dan panjang 20 m,” kata Mara.

Untuk mencegah tumbuhnya gulma, Mara memasang mulsa plastik hitam perak. Mafhum saja biaya pencabutan gulma relatif mahal, Rp600.000 dalam satu periode atau selama dua bulan. Menurut Nandang Nurdin SP dari Dinas Pertanian dan Kehutanan, Kabupaten Indaramyu, selain mengenyahkan gulma, mulsa mengoptimalkan produksi. ”Warna peraknya memantulkan cahaya matahari sehingga fotosintesis lebih optimal, sementara hitam menyerap panas sehingga suhu akar hangat dan perkembangan tanaman pun lebih pesat,” tutur Nandang.

Keunggulan lain, penggunaan mulsa menghindarkan daun tanaman dari kerusakan akibat cipratan air yang menyentuh tanah. ”Jika daun rusak fotosintesis tidak optimal,” tutur Mara. Pekebun itu lantas melubangi mulsa untuk membuat lubang tanam berjarak 30 cm x 40 cm. Populasi mencapai 3.500 tanaman untuk luasan 3.000 m2. Mara mengocorkan campuran 8 kg NPK dan 300 liter air saat tanaman berumur 15 hari. Dosis untuk tiap tanaman sekitar 200 ml campuran. Ia mengulangi perlakuan itu saat tanaman berumur 30 hari.

Mara memanen 2 ton kol bunga saat tanaman berumur 60 hari. Harga jual ke pengepul mencapai Rp5.000 per kg dengan tangkai, sementara tanpa tangkai Rp10.000 per kg. Harga itu memang relatif tinggi daripada harga rata-rata kembang kol dataran rendah di daerah lain yang hanya Rp3.000 per kg. Total jenderal omzet Mara Rp20-juta. Adapun biaya produksi hanya Rp3,5-juta. (Tri Susanti/Peliput: Faiz Yajri)

 

 

 

 

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software