Asuh Pohon Demi Masa Depan

Filed in Lingkungan by on 01/04/2013 0 Comments

Trembesi berpotensi menyerap karbon cocok ditanam di tepi jalanSistem adopsi pohon kian marak. Mendorong masyarakat melestarikan spesies langka sekaligus menjaga lingkungan.

Gina D Alamsyah bukanlah orang yang waktu luangnya melimpah. Anggota Women International Club (WIC) itu rutin mengunjungi asrama anak di Jakarta dan sekitarnya setiap pekan. Di sana Gina mengajarkan keterampilan mengolah kertas bekas menjadi benda yang lebih berguna kepada anak-anak. “Kegiatan tersebut cukup menyita waktu,” kata wanita kelahiran Jakarta itu. Ia juga merawat koleksi tanaman buah dalam pot (tabulampot). “Sejak kecil saya menyukai tanaman,” kata Gina.

Keberadaan hutan sangat bermanfaat bagi makhluk hidup termasuk manusiaMeski sibuk, master Pendidikan dan Konseling alumnus sebuah universitas di Amerika Serikat itu turut mengadopsi pohon pada September 2012. Bahkan, Gina mengajak keluarganya menanam 3 pohon di Taman Ekologi, Pusat Sains Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Saat itu Gina menanam jamblang Syzygium cumini. Ia memang penggemar buah kerabat jambu air itu. Pengadopsi pohon lain, menanam matoa Pometia pinnata dan honje Nicolaia solaris ke dalam lubang tanam yang tersedia.

Tujuh area

Di Taman Ekologi itu Gina “memiliki” 2 pohon. Untuk menanam sebuah pohon di sana, ia mesti membayar Rp50.000 per tahun kepada Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Itulah biaya adopsi sebatang pohon. Sebulan berselang Gina dan beberapa rekan mengunjungi tempat itu. “Saya ingin memastikan tanaman saya dapat tumbuh dan berkembang,” kata Gina yang bermukim di di Pondokindah, Jakarta Selatan. Mantan ketua WIC itu berencana membuat kunjungan lebih terjadwal setiap 6 bulan.

Setiap berkunjung, biasanya ia menghabiskan waktu hingga 2 jam. Selain memantau kondisi tanaman, sesekali ia pun memetik daun yang kering. Kegiatan Gina dan rekan lakukan itu adalah program pohon asuh yang dikelola oleh Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.  “Program pohon asuh bergulir sejak 2005,” kata Ir Sugiarti, anggota staf hubungan masyarakat Kebun Raya Bogor. Ia juga menuturkan program pohon asuh sebagai upaya konservasi tanaman asli Indonesia.

Sistem penanaman di Taman Ekologi terbagi menjadi 7 ekoregion. Ketujuh ekoregion itu adalah Sumatera, Jawa-Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Namun, tidak semua jenis tumbuhan ekoregion itu yang ditanam di Taman Ekologi. “Hanya bibit yang dapat hidup dan beradaptasi di Ecology Park yang ditanam,” ujar Ir Sugiarti. Contoh jenis bakau yang tak mungkin beradaptasi di Cibinong, tak ditanam. LIPI mengutamakan spesies yang memiliki nilai konservasi atau tumbuhan langka.

Selain itu, LIPI juga mengutamakan spesies yang bernilai etnobotanis. Itu terkait dengan kultur masyarakat suatu daerah, misalnya tanaman yang biasanya digunakan untuk bahan baku obat, makanan, pewarna pakaian,  dan bahan bangunan. Palem merah Cyrtostachys lakka mewakili Sumatera, gandaria Bouea macrophylla dan burahol Stelechocarpus burahol menempati wilayah Jawa-Bali, sedangkan cendana Santalum album mewakili Nusa Tenggara. Pohon jenis meranti-merantian mendominasi bioregion Kalimantan, eboni Diospyros celebica (Sulawesi), kenari Canarium commune (Maluku), dan palem paleman Arecaceae (Papua).

Menurut Sugiarti perusahaan, kelompok, atau individu bisa terlibat dalam program pohon asuh itu. Syaratnya pihak yang ingin berpartisipasi mesti mengeluarkan biaya. Biaya untuk “memiliki” pohon asuh bagi individu atau anak sekolah Rp50.000 per orang per pohon. Sementara biaya untuk perusahaan kecil, US$100 atau sekitar Rp980.000 per pohon dan US$1.000 (Rp9,8-juta) per blok  (berisi sekitar 50 pohon) bagi perusahaan besar. “Itu untuk biaya perawatan pohon asuh selama setahun,” ujar Sugiarti. Hingga saat ini terdapat      10 adopter individu dan perusahaan yang mengasuh 3.500 pohon di Taman Ekologi. Dari 32 ha kawasan Taman Ekologi, kini tersisa 9,6 ha lahan masih menunggu ditanami pohon asuh.

Solusi adopsi

Selain di Taman Ekologi, lokasi adopsi pohon juga ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Penyelenggaranya adalah Konsorsium Gede Pahala yang terdiri atas 14 institusi antara lain manajemen taman nasional, lembaga internasional (Conservation International Indonesia dan UNESCO), lembaga swadaya masyarakat (seperti Yayasan Owa Jawa), pemerintah daerah, dan swasta.

“Areal penanaman program adopsi pohon terutama dilakukan di kawasan perluasan taman nasional,” uajr Aisyah Yustinawati, Program Admin Assistant Conservation Internasional Indonesia. Sejak 2003 kawasan kedua taman nasional itu mengalami perluasan areal. Keputusan Menteri  Kehutanan menyebutkan areal TNGP menjadi 21.975 ha, semula 15.196 ha. Sementara wilayah TNGHS yang 40.000 ha semakin luas hingga 113.357 ha.

Perluasan kawasan diperlukan karena kedua taman nasional itu merupakan habitat alami beberapa spesies terancam punah seperti owa jawa Hylobates moloch, elang jawa Spizaetus bartelsi, macan tutul Panthera pardus melas, dan lutung Presbytis comata. Kawasan itu juga merupakan daerah tangkapan air bagi 20-juta penduduk yang tinggal di kota-kota sekelilingnya, termasuk Jakarta. Berdasarkan hasil kajian, nilai sumber air yang dimanfaatkan mencapai Rp10-miliar per tahun.

Areal perluasan taman nasional sebelumnya kawasan hutan produksi yang dikelola Perum Perhutani. Menurut koordinator adopsi pohon bidang Bogor, Tangguh Triprajawan, perluasan itu mengharuskan petani penggarap berhenti menggunakan lahan Perhutani. Sebab, “Sesuai aturan yang berlaku di dalam taman nasional dilarang adanya aktivitas manusia seperti pertanian,” tutur Tangguh. Alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada itu mengatakan sulit meminta petani untuk keluar dari kawasan.

Program adopsi pohon menjadi solusi. “Tujuan program adopsi pohon tidak hanya menanam pohon, tapi juga memberdayakan masyarakat sekitar hutan,” kata Aisyah. Mantan petani penggarap di TNGP, Entah Tahyudin, misalnya, kini menjadi pemelihara pohon yang diadopsi. Saat musim hujan seperti ini Entah dan rekan merawat pohon adopsi per 2 bulan sekali, sebelumnya per 3 bulan. “Musim hujan mengakibatkan gulma cepat tumbuh. Jadi harus segera dibersihkan,” ujar warga Kampung Cibilik, Desa Naggerang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat,.

Setiap hari selama 2 pekan ia dan anggota Kelompok Masyarakat Peduli Alam Konservasi (Kompak) itu bekerja pukul 07.00—14.00. Mereka membersihkan gulma yang melilit pohon. Selain itu menghitung diameter dan tinggi pohon untuk basis data. Kompak juga memeriksa keadaan tanaman. “Tanaman yang mati akan diganti dengan yang baru,”ujar Entah. Jika dalam setahun ia dan rekan berhasil merawat tanaman dengan baik, maka  pihak Konsorsium Gedepahala memberikan bantuan 11 kambing. “Bentuk bantuan setiap lokasi berbeda. Tergantung kondisi masyarakat,” kata Aisyah.

Di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, juga terdapat sistem adopsi pohon. Namun, “Program itu lebih kepada penghijauan kawasan Jababeka,” kata Manajer Landskap Jababeka Infrastructure, Rachmat Januar. Ia menyatakan Jababeka menanam rata-rata 1.000 pohon setiap tahun sejak 2011. Kini sekitar 2.500 pohon tertanam di lingkungan Jababeka. Meski begitu, Januar menyambut baik jika ada institusi tertentu yang ingin melaksanakan penghijauan di wilayah kerjanya. “Kami siap menyediakan lahan dan bibit,” ujar Januar. Ia menjamin pihak yang ingin menanam pohon bebas dari biaya apa pun.

Trembesi Samanea saman, mahoni Swietenia mahagoni, angsana Pterocarpus indicus, dan bintaro Cerbera manghas mendominasi vegetasi Jababeka. Penanaman pohon disesuaikan dengan lokasi. Misal untuk penghijauan di tepi jalan Januar memilih mahoni. Sebab, “Mahoni relatif kuat dan risiko ranting patah juga kecil,” ucap pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, itu. Januar berharap semakin banyak pohon yang tumbuh di Jababeka. Dengan demikian alam terjaga masyarakat sekitar pun sentosa. (Riefza Vebriansyah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software