Ashitaba: Olah Daun Esok

Filed in Laporan khusus by on 04/10/2013
Ragam olahan ashitaba

Ragam olahan ashitaba

Konsumsi daun ashitaba meninggalkan citarasa tak enak di mulut. Olah menjadi kapsul atau kombinasikan dengan herbal penetral rasa.

Ashitaba Angelica keiskei terbukti berkhasiat melawan beragam penyakit, seperti hepatitis, diabetes mellitus, asam urat, dan kanker. Namun, bagi sebagian orang konsumsi daun ashitaba segar atau air seduhan tehnya meninggalkan rasa kurang ‘nyaman’ di lidah. Ning Harmanto, herbalis di Koja, Jakarta Utara pernah mendapat keluhan dari pasien. “Menurutnya rasanya agak langu, jadi kurang enak dikonsumsi meskipun sudah dibuat dalam bentuk teh,” tutur Ning.

Menurut herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, kandungan zat hijau daun pada ashitaba penyebab rasanya menjadi kurang nyaman. Ahli Fisiologi Tumbuhan dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor Ir Edhi Sandra MS menuturkan klorofil alias zat hijau daun memang bercitarasa kurang nyaman di lidah. Pengalaman Lina aroma dan rasa ashitaba membuat kita ingin meludah terus. Untuk mengatasinya, Lina mengombinasikan tomorrow leaf itu dengan mentimun. Setiap mengolah 5—7 tangkai ashitaba menjadi seduhan, ia menambah 200 g mentimun. Lina meresepkan seledri jepang itu untuk pasien asam urat, stroke, dan darah tinggi. “Rasa ashitaba ditekan oleh rasa mentimun yang cenderung hambar dan segar,” kata Lina.

 

Ir Baggem Sofiana Sembiring, “Semua bagian ashitaba aman dikonsumsi”

Ir Baggem Sofiana Sembiring, “Semua bagian ashitaba aman dikonsumsi”

Kapsul

Mula-mula Lina mencacah daun ashitaba dan memasukkan bersama buah mentimun utuh tanpa dikupas ke dalam 1,5 gelas air. Ramuan itu direbus dengan api kecil hingga tersisa 1 gelas. “Ramuan itu diminum sehari sekali,” kata Lina. Namun menurut Lina, daun ashitaba masih sangat jarang dijumpai di pasaran. Oleh karena itu Ning Hermanto berinisiatif mengolah ashitaba menjadi teh dan kapsul.

Sejak 2008 Ning mengolah ashitaba menjadi kapsul. Produksi teh dihentikan karena citarasa langu ashitaba sulit dihilangkan. Untuk membuat kapsul ashitaba hampir sama dengan membuat kapsul herbal lain seperti kapsul daun sirsak dan daun sukun. Ning Hermanto mengekstrak daun itu kemudian memasukkannya ke dalam kapsul. Selain praktis, kapsul juga tidak meninggalkan rasa saat dikonsumsi.

Selain Ning ada Dwi Ranny Pertiwi, produsen herbal di Bekasi, Jawa Barat yang mengolah daun ashitaba menjadi kapsul. Setiap kapsul dengan berat 300 mg, mengandung serbuk ashitaba 50% dan ditambah herbal lain seperti kunyit Curcuma longa, temugiring Curcuma heyneana, dan cacing kering Lumbricus rybellus. “Kombinasi herbal akan menambah khasiat herbal tersebut,” kata Ranny.

Menurut Ning dari 1 kg ashitaba segar bisa menjadi 100 g kering dan kemudian diekstrak menjadi sekitar 50 g. Pengolahan herbal yang inovatif itu membuat konsumen menjadi banyak pilihan. Iwan Setyabudi, produsen ashitaba di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur mengolah ashitaba menjadi simplisia dalam bentuk rajangan dan bubuk. Ia merajang daun dengan lebar sekitar satu jari kemudian menjemur selama 2 hari (lihat ilustrasi). Iwan juga mengolah getah ashitaba menjadi produk siap konsumsi yang aman (lihat Ilustrasi).

Kunci mengolah getah antara lain penggunaan alat steril. Iwan mensterilisasi alat pemanen dan botol penampung dengan alkohol 70%. Baik daun maupun getah tanaman yang Iwan jual selalu terserap pasar.

Menurut peneliti ashitaba dari Balai Penelitian Obat dan Aromatika (Balittro), Cimanggu, Kota Bogor, Jawa Barat  Ir Baggem Sofiana Sembiring daun esok itu dapat diolah menjadi beragam produk herbal. “Semua bagian tanaman aman dikonsumsi dan bisa dibuat kapsul, teh, ataupun direbus. Asalkan bersih dan bebas bakteri saja,” ujarnya. Olahan ashitaba untuk konsumen sangat beragam, tinggal pilih saja sesuai kebutuhan. (Bondan Setyawan/Peliput: Argohartono Arie R, Kartika Restu S, dan M Cahadiyat Kurniawan)

Cover 1.pdf

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software