Artis Tanaman

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 16/01/2020

Seorang ibu bahagia mendapati putranya mau jadi plant artist.  Dia menyebutnya art planter–maksudnya seniman yang berkarya dengan tanaman. Apa pun sebutannya, ahli tanaman memang diperlukan.  Itulah inti usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia.  Apa lagi di tengah kesadaran alam terkembang menjadi guru.  “Dia menemukan batang kayu hanyut dibawa banjir.  Ternyata di balik potongan kayu itu ada anggrek yang indah,” katanya.

Eka Budianta

Keping-keping kayu,batu, bahkan rongsokan logam ternyata bisa menjadi “media tanam”  yang menampilkan seni tumbuhan dengan keindahan istimewa.  Sebongkah batu karang yang ditumbuhi bunga melati pun jadi karya seni, katanya. Namun, bagi putranya, secuil sampah yang ditumbuhi  tapak dara kecil pun punya makna besar.  Ada narasi yang bisa dituliskan, foto yang dilampirkan, dan setiap karya diberi nama.

Itulah yang akan kita saksikan sepanjang tahun 2020 ini.  Berbagai pameran agrokultur dan hortikultur digelar di kota-kota besar.  Agenda utamanya adalah memaknai tumbuhan sederhana, tanaman marginal yang membawa kebahagiaan buat manusia. Seni menanam, merawat dan mempromosikan tanaman hias memang sudah berkembang sejak terciptanya taman gantung di Babylonia.

Topiari

Lebih jauh lagi, manusia konon diciptakan di sebuah taman. Firdaus alias taman surga.  Jadi, hubungan manusia, tanaman, dan kebun sudah terjalin sejak terciptanya alam semesta. Secara klasik kita lihat pada seni memangkas pohon atau topiari.  Topos artinya lika-liku permukaan atau tempat, seperti kita kenal pada topografi.  Topiari atau tophiary bisa kita nikmati di Taman Bunga Nusantara, kebun-kebun istana, kastil tua, bahkan, taman-taman pemakaman.

Seni memahat tanaman hidup ini pernah mengalami zaman keemasan pada abad ke-16. Lima ratus tahun silam kalau kita ingin menikmati bermacam topiari harus berkunjung ke berbagai kastil dan istana yang jauh di Turki, Italia, Eropa Barat, atau Eropa Utara. Tentu di Amerika dan Australia juga ada taman-taman topiari dengan labirin-labirinnya.  Beberapa di antaranya berumur 200 tahun.

Di Italia ada taman kota Padua yang dibangun sejak 1545 dan di Inggris ada Kebun Oxford yang dibuka sejak 1621. Sekarang dengan mudah bisa menjelajahi topiaria dan berbagai tayangan di internet.  Namun, kalau mau pesan pun tersedia banyak pilihan.  Berbagai situs penyedia jasa topiari bisa ditelepon dan dipesan melalui gawai di tangan Anda. Atau kalau suka, berkunjung saja ke Kebun Raya Bogor yang baru berulang tahun ke-202.

Beragam tanaman membentuk burung merak. Muncul imaji di setiap topiari.

Masalahnya belum semua masyarakat mengenal aneka macam tanaman hias.  Ada pot bermacam ukuran untuk bunga, sayuran, dan buah.  Ada teknik membuat bonsai, kokedama, dan terarium.  Namun, pendidikan, kursus keterampilan, dan promosi untuk memberikan apresiasi pada kegiatan bercococok-tanam, rasanya masih sangat diperlukan.

Tangan gunting

Pada 1990 muncul film Edward Si Tangan Gunting.   Diceritakan tentang seorang pria yang jari tangannya berbentuk gunting.  Akibatnya semua yang berjabat-tangan dengannya bisa terluka. Edward–nama lelaki itu, mengucilkan diri—untuk menghindari  jatuhnya korban.  Ia hidup menyendiri di kebun dan merawat aneka pohon.  Apa hasilnya? Ia memangkas aneka pohon menjadi bermacam patung dengan jari tangannya.

Ada gajah, jerapah, mobil bahkan macam-macam istana yang indah. Semua dari pohon yang ditanam dan dirawatnya. Moralnya jelas, setiap orang punya bakat tersembunyi. Bakat itu memberi keahlian dan kompetensi bila disertai latihan dengan tekun.  Setelah beberapa tahun, Edward menciptakan taman topiari paling indah di bumi. David Edward adalah nama seniman topiari paling top di dunia sekarang.  Ia bisa mengubah semak-semak menjadi bentuk-bentuk yang hidup dengan tangannya.

Topiari bermula dari seni pangkas taman di kerajaan atau kuil bangsawan Eropa pada abad pertengahan.

Sebaiknya kita juga catat taman-taman topiari kelas dunia seperti Levens Hall di Inggris dan Chateau de Villandry di Prancis.  Jangan dilupakan taman-taman topiari di Tiongkok seperti dipamerkan ketika menyambut Olimpiade Beijing. Yang tekenal adalah patung-patung topiari para musisi di Shanghai Century Park. Sekarang Indonesia rumah seratus juta milenial membuka peluang luas untuk lahirnya si tangan gunting.  Putra ibu yang mencurahkan isi hati pada Trubus itu termasuk sangat berbakat.

Ia perlu dukungan, sarana pameran, masukan ide, dan kurator untuk menyeleksi, apresiator, dan kolektor yang bisa membeli karya-karyanya.  Di atas semuanya. Tentu perlu promotor dan sponsor yang bisa membuat kombinasi daya cipta dan relasi  dengan alam menjadi bisnis. Kita telah menyaksikan Surabaya menjadi hijau dan taman berbunga.  Berbagai kota menyusul dengan tabebuya, jakaranda, lagerstroemia, dan pohon berbunga lainnya.

Yang kita tunggu adalah munculnya ahli-ahli, tenaga kerja seni tanaman yang kompeten dan berdedikasi. Sudah saatnya Indonesia menunjukkan bakat dan memproduksi karya-karya seni tumbuhan dan satwa yang kaya raya. ***

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software