Aroma Pengusir Elmaut

Filed in Topik by on 01/10/2009 0 Comments

 

Penyakit CVPD momok pekebun jeruk sejak 40 tahun silam. Daun yang terinfeksi bakteri Liberibacter asiaticus (Las), penyebab CVPD, itu tumbuh tegak dan menguning. Ukuran buah mengecil lantaran minim kadar air. Produksi buah anggota famili Rutaceae itu anjlok dari 40 ton/ha menjadi hanya 15 ton/ha.

Penyakit huanglongbing – sebutan lain CVPD – menghancurkan produksi jeruk hampir di seluruh sentra di tanahair. Di Garut, Jawa Barat, penyakit itu menyerang jutaan keprok pada 1964. Pekebun terpaksa menebang jeruk untuk mencegah penyebaran penyakit. Pada 1970, yang tersisa hanya ratusan hektar. Di daerah sentra seperti Karangpawitan dan Tajur, serangan penyakit terus mendera hingga 1980. Sentra produksi beralih ke Garut bagian selatan seperti Cikelet dan Pameungpeuk.

Tipu penciuman

Dua belas tahun berselang – pada 1992 – populasi jeruk yang tersisa di Garut hanya 52.000 pohon. Kejayaan Garut sebagai sentra jeruk pada era 1950-an dengan populasi 1,06-juta pohon pun runtuh. Produksinya hanya 520 ton/tahun atau 100 kali lebih rendah ketimbang produksi pada 1950. Nun di Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, ratusan hektar jeruk juga ditebang akibat huanglongbing pada 2000. ‘Pekebun kebanyakan beralih menanam palawija,’ kata Prof Dr Siti Subandiyah MAgrSc, ahli hama dan penyakit tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM

Menurut Siti, CVPD sulit dikendalikan. Banyak faktor penyebab serangan penyakit seperti penggunaan bibit, serangga vektor, dan lingkungan kebun. ‘Pekebun mesti mewaspadai ketiga faktor itu,’ kata Siti. Contohnya dalam penggunaan bibit. Pastikan bibit yang ditanam bersertifikat dan bebas bakteri penyebab CVPD. Bila salah satu faktor luput dari perhatian, maka CVPD masih mengintai

Hasil penelitian 4 institusi – Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta, Center for Horticultural Science University of Western Sydney, Australia, National Institute for Fruit Tree Science, Tsukuba, Jepang, dan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) – memberi cahaya terang buat pekebun jeruk. Mereka meneliti bersama di Desa Pulutan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah,

Riset mereka membuktikan budidaya jeruk secara tumpangsari dengan jambu sukun berdaging putih  menjadi salah satu cara menekan populasi kutu loncat Diaphorina citri. Diaphorina ialah serangga vektor bakteri penyebab CVPD. Bakteri itu menetap di saluran pencernaan diaphorina dan mengontaminasi air ludahnya. Lalu bakteri ditularkan melalui stilet pada saat diaphorina mengisap cairan jaringan tanaman jeruk. ‘Jadi inti pengendalian CVPD dengan mencegah diaphorina masuk ke kebun,’ kata Siti

Siti menuturkan keampuhan daun jambu sukun mengusir diaphorina berkat senyawa folatil dimetil disulfat (DMDS) yang menguar dari daun jambu. Aroma senyawa itu mampu mengaburkan penciuman Diaphorina citri sehingga tak bisa mencium aroma jeruk. Caranya deretan jambu sukun ditanam di antara deretan jeruk dengan jarak tanam 2,5 – 3 m. ‘Jadi, perbandingan populasi jeruk dan jambu biji sama,’ kata alumnus Shizuoka University, Jepang itu.

Menurut Ir Otto Endarto MSc, peneliti Balitjestro, agar lebih efektif jambu biji ditanam 1 – 3 bulan sebelum jeruk ditanam. Tujuannya ketika jeruk ditanam jambu biji sudah memasuki fase pertumbuhan vegetatif. Senyawa folatil dari daun jambu akan ‘membersihkan’ udara dari aroma jeruk sehingga kerabat zodia itu terlindung sejak dini dari diaphorina.

Pucuk

Siti menuturkan aroma terkuat dimetil sulfat berasal dari pucuk jambu sukun. Karena itu pekebun mesti rajin memangkas jambu sukun untuk merangsang pertumbuhan tunas. ‘Pada tanaman dewasa, pemangkasan juga merangsang buah,’ katanya. Dengan begitu pekebun ibarat sekali merengkuh dayung, dua – tiga pulau terlampaui. Sang kutu loncat minggat, jambu sukun pun didapat.

Kesimpulan penelitian itu menyebutkan tumpangsari jeruk dengan jambu sukun mengurangi populasi Diaphorina citri hingga 80%. ‘Sejak awal percobaan selama 2,5 tahun saya tak pernah sedikit pun menyemprotkan insektisida,’ kata Otto yang juga salah satu tim peneliti. Padahal, lokasi kebun  merupakan kawasan endemik CVPD. Di daerah endemik, jeruk biasanya mulai tertular CVPD pada tahun kedua.

Dalam percobaan itu sejatinya tak hanya jeruk yang ditumpangsarikan dengan jambu sukun daging putih. Kerabat kemuning itu juga ditumpangsarikan dengan jambu biji daging merah, kopi, dan mahkotadewa. Namun, dibandingkan dengan ketiga tanaman itu jambu sukun daging putih paling top menekan populasi D. citri. Jambu biji daging merah, kopi, dan mahkotadewa tidak menekan populasi secara signifikan.

Minyak mineral

Empat lembaga itu juga merekomendasikan cara menekan diaphorina dengan menyemprotkan agricultural mineral oil (AMO) atau horticultural mineral oil (HMO). Keduanya minyak mineral yang berantai karbon 21 dan 24. Di beberapa negara seperti Australia dan Amerika Serikat, kedua minyak itu lazim digunakan sebagai insektisida organik. Minyak dicampur air dengan konsentrasi 0,5.

Minyak mineral hanya disemprotkan pada saat tanaman sedang semarak tunas. Pada saat muncul tunas populasi D. citri biasanya tinggi. Mereka beramai-ramai membentuk koloni dan meletakkan telur di permukaan tunas. Pengalaman Siti musim tunas di Purworejo biasanya pada September, November, Maret, dan Juli. Penyemprotan dilakukan hanya 2 kali dengan interval sekali sepekan. ‘Dari mulai tunas kecil hingga daun mekar sempurna perlu waktu 14 hari,’ kata Siti.

Minyak mineral itu melapisi permukaan tunas. Lapisan minyak membuat D. citri mengurungkan niatnya untuk meletakkan telur. Minyak yang mengenai permukaan tubuh kutu dewasa akan meresap melalui trakhea (saluran pernapasan serangga, red). Dampaknya serangga sulit bernapas dan akhirnya mati. Perlakuan itu berhasil menekan 35 – 45% populasi D. citri. Jumlah itu lebih tinggi ketimbang pemakaian insektisida sistemik atau kontak yang diaplikasikan setiap bulan sepanjang budidaya jeruk. Masing-masing perlakuan itu hanya mampu menekan 25 – 35% dan kurang dari 20% populasi. Sayang, kedua minyak mineral itu belum dijual bebas di tanahair. ‘Kami sedang mengurus izin impornya,’ ujar Siti.

Aman

Menurut Ir Edhi Sandra MS, ahli fisiologi tumbuhan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, pada dosis rendah lapisan minyak di permukaan daun tak berpengaruh buruk pada tanaman. Sebaliknya jika terlalu banyak dapat mengganggu respirasi tanaman dan mematikan.

Yos Sutiyoso, ahli hama dan penyakit yang juga peramu pupuk di Jakarta, pun sepakat penggunaan minyak mineral aman bila hanya melapisi permukaan daun. Permukaan daun terdiri atas jaringan kutikula yang merupakan jaringan mati. Namun, bila sampai meresap hingga jaringan mesofil yang di dalamnya terdapat jaringan palisade dan bunga karang yang berperan dalam fotosintesis dan penyimpanan cadangan makanan, daun bisa ‘terbakar’ dan akhirnya mati.

Namun, tumpangsari dan penyemprotan minyak mineral hasilnya nihil bila pekebun tidak menjaga lingkungan kebun. ‘Di sekitar kebun tidak boleh tumbuh tanaman inang D. citri,’ kata Siti. Anggota famili Rutaceae umumnya disukai kutu loncat untuk berkembang biak. Karena itu bila menjumpai kerabat jeruk seperti kemuning jawa Murraya paniculata, kemuning jepang Murraya paniculata var exotica, salam koja Bergera konigii, tikusan Clausena sp, dan jeruk kingkit Triphasia trifoliata, segera tebang. Jeruk pun terhindar dari ancaman maut. (Imam Wiguna/Peliput: Evy Syariefa)

Keterangan Gambar:

  1. Penanaman tumpangsari jeruk dan jambu sukun daging putih, paling top kendalikan populasi diaphorina, vektor CVPD
  2. Penyemprotan agricultural mineral oil atau horticultural mineral oil pada tunas jeruk cegah Diaphorina citri letakkan telur
  3. Daun jeruk sehat, warnanya hijau dan segar
  4. Daun jeruk terinfeksi CVPD, tumbuh tegak dan kuning
 

Powered by WishList Member - Membership Software