Aral Menyuling Kayuputih

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 11/02/2020

Banyak kendala menyuling kayuputih.

 

Menurut penanggung jawab Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) petak 93, 95, dan Mangunan, Sunarianta, banyak aral menyuling daun kayuputih . “Kadang menghasilkan minyak yang rusak atau malah tidak keluar minyak sama sekali, hanya air,” katanya. Rubiyo, Sunarno, dan para anggota kelompok tani mendapat bimbingan dari tim periset Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH).

Anjuran dan praktik kadang tidak sejalan. Contoh sederhananya bahan bakar penyulingan. Tim BBPPBPTH menganjurkan poktan memanfaatkan ampas daun bekas sulingan. Nyatanya ampas daun tidak cukup menghasilkan panas sehingga minyak tidak kunjung keluar atau malah sama sekali tidak menghasilkan minyak. “Setelah menggunakan kayu, minyak mulai keluar,” kata Sunar, panggilan akrab Sunarianta.

Sementara, ampas daun dari penyulingan itu hanya mereka gunakan untuk menguruk jalan akses ke penyulingan agar tidak terlalu becek setelah hujan. “Ampas daun memerlukan lebih banyak udara agar terbakar sempurna. Untuk itu harus ada pengembus (blower),” ungkap Sunar. Masalahnya, di tengah kebun yang jauh dari pemukiman itu belum tersedia aliran listrik untuk menyalakan pengembus. Mereka pun berpaling kepada alternatif yang tersedia di sekitar.

Warna minyak rusak kekuningan mirip minyak goreng.

Masalah selanjutnya adalah pengembunan distilat (uap). Lantaran jauh dari sumber air, poktan mengandalkan air dalam 2 drum yang ditempatkan lebih tinggi daripada ketel penyuling. Air dari drum mengalir ke dalam pendingin lalu keluar ke kolam terpal di tanah sampai suhunya kembali dingin. Pompa berbahan bakar bensin menaikkan air dari kolam terpal kembali ke drum. Mereka baru mengalirkan air setelah minyak menetes.

“Kalau air dalam tabung pendingin sampai terasa hangat di tangan, minyak pasti rusak,” kata Sunar. Minyak rusak berwarna kekuningan atau kecokelatan seperti air teh dengan aroma kayuputih yang tercampur bau mirip daun gosong. Menurut Sunarno aroma segar kayuputih dalam minyak rusak itu hilang 2—4 pekan pascapenyulingan, menyisakan bau daun layu. Minyak rusak itu tidak akan laku dijual, paling hanya untuk pemakaian sendiri sebelum rusak.

Selain teknis alat, pembagian personil pun sempat menjadi kendala. Semula semua sibuk mencari kayu sehingga tidak ada yang sadar ketika minyak mulai menetes. Tidak ada yang membuka keran untuk mengalirkan air pendingin, akibatnya minyak yang keluar gosong dan rusak. Demikian juga ketika akan menyuling berturutan. Harus ada orang yang membongkar ampas daun yang mengepulkan uap panas, menambahkan air, lalu mengisi daun segar.

Ketika Sunarno membongkar ampas daun, Trubus yang berdiri 2 m di sebelahnya reflek menjauh lantaran merasakan embusan uap panas. Sebelumnya, anggota poktan saling melempar tanggung jawab ketika membongkar ampas daun sehingga akhirnya Sunarno mengajukan diri. Setelah pembenahan alokasi personil, produksi lancar. Minyak kayuputih yang mereka produksi disetorkan ke balai litbang BBPBPTH. Selanjutnya balai meneruskan produk dalam jerigen 5 liter itu kepada perwakilan produsen. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software