Aral Bertanam Porang

Filed in Majalah, Topik by on 03/03/2020

Tidak selamanya bertanam porang itu mudah. Jika teknik budidaya tidak tepat bermunculan serangan hama dan penyakit. Suyanto mesti merelakan uang puluhan juta rupiah melayang lantaran ribuan porang miliknya mati pada 2016. Setelah evaluasi, warga Dusun Giringan, Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, itu menyimpulkan biang kerok gagal panen karena penggunaan pupuk ayam yang tidak terfermentasi. “Pupuk itu panas sehingga tanaman tidak tahan dan akhirnya mati,” kata Suyanto. Larva juga kerap menyerang umbi dan daun.

Serangan cendawan salah satu penyakit pada porang.

Menurut Suyanto cendawan dan ulat muncul karena fermentasi pupuk yang belum maksimal. Oleh karena itulah peneliti porang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Rodiyati Azrianingsih, S.Si.,M.Sc.,Ph.D., menganjurkan masyarakat menanam porang di habitat aslinya bersamaan dengan pohon lainnya. Bukan penanaman monokultur yang kini tengah marak. “Saya khawatir ada penyakit yang luar biasa jika dipaksakan budidaya intensif,” kata Rodiyati. Ia merujuk pada kejadian di Jepang dan Cina pada 2017.

Di kedua negara itu konjac Amorphophallus konjac ditanam secara monokultur dan terserang virus. Dampaknya produksi konjac di kedua negara itu pun menurun. Kekhawatiran Rodiyati lainnya yakni porang yang berupa tanaman hutan bakal memerlukan pasokan pupuk yang banyak pada budidaya intensif. Padahal pasar ekspor tidak menghendaki porang yang terlampau banyak pupuk dan pestisida. Tantangan lain bertanam porang yaitu harga bibit mahal. Suyanto mengatakan pekebun mesti merogoh kocek hingga Rp50 juta untuk pembelian bibit berladang porang di lahan 1 hektare dengan populasi 10.000 tanaman.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”8129520315″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Harga bibit mahal karena penanaman porang masif, sedangkan pasokan benih terbatas. Namun modal besar itu untuk penanaman perdana saja. Pekebun bisa menggunakan bibit dari budidaya sebelumnya untuk penanaman berikutnya. Jadi hanya beli bibit sekali, tapi panen seterusnya. Jika pun mesti membeli bibit baru karena kurang banyak, biaya penyediaan benih tidak sebanyak penanaman pertama. Rodiyati dan tim tengah meneliti penyediaan benih porang dengan teknik kultur jaringan. Harapannya bisa mendapatkan benih porang yang lebih banyak dan seragam dengan waktu yang relatif lebih cepat.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si., tantangan lain pengembangan porang yakni belum tersedia varietas unggul porang, penggunaan benih didominasi umbi yang berharga mahal, ekspor porang hanya terbatas pada irisan kering atau tepung, dan bocornya sumber daya genetik sehingga memunculkan pesaing baru. Solusinya antara lain merilis varietas porang lokal, penyediaan benih massal, diversifikasi produk porang, dan melarang ekspor porang segar. (Riefza Vebriansyah)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software