Aral Aglaonema

Filed in Majalah, Topik by on 01/06/2021

Pastikan aglaonema sehat sebelum diperbanyak sehingga pekebun bisa meminimalisir tanaman yang mati.

Bertani aglaonema memang menjanjikan untung. Apalagi jika menanam aglaonema yang didasari hobi. Pasti menyenangkan dan menghasilkan. Meski begitu, laba di depan mata bisa sirna jika aral yang datang tidak teratasi. Pekebun aglaonema di Desa Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Usnul Adhib dan Ali Akbar masygul lantaran sekitar 1.000 pot aglaonema mati pada Januari 2021. “Banyak bonggol yang busuk,” kata Adhib.

Jika bonggol itu hidup harganya Rp100.000—Rp500.000 per pot. Dengan kata lain kerugian Adhib dan Ali minimal Rp100 juta. Saat itu mereka tengah menggenjot produksi karena permintaan banyak yang belum terpenuhi. Saking melimpahnya tanaman yang diperbanyak, mereka terpaksa meletakkan bonggol di kamar mandi dan bawah rak tanaman. Bonggol hasil perbanyakan itu berdesakan. Sebetulnya rumah tanam milik Adhib dan Agus relatif besar yakni 1.500 m2.

Ternyata itu belum bisa menampung tanaman hasil perbanyakan. Tempat penyimpanan bersanitasi kurang baik dan lembap sehingga bonggol banyak yang busuk. Kini mereka memiliki lahan khusus menyimpan tanaman hasil perbanyakan. Lokasi kebun baru itu mendapatkan sinar matahari yang mencukupi dan bersirkulasi udara baik. Harapannya tanaman hasil perbnayakan tumbuh sehat.

Riza Adhika Warman, S.E., pun pernah merugi sekitar Rp20 juta saat kali pertama memelihara aglaonema pada 2015. “Kemungkinan media tanam kurang pas,” kata warga Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, itu. Ia pun mendatangi para pehobi senior untuk mempelajari komposisi media tanam yang tepat untuk aglaonema. (Riefza Vebriansyah)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software