Aquarama 2013 – Satu Pilihan: Akuarium Nano

Filed in Laporan khusus by on 03/07/2013
Akuarium nano disukai konsumen karena sarat teknologi dan mudah dirawat

Akuarium nano disukai konsumen karena sarat
teknologi dan mudah dirawat

Inovasi yang memicu perkembangan ikan hias tidak muncul pada Aquarama 2013. Pilihannya jatuh kepada akuarium nano yang populer pada Aquarama 2011.

Sepuluh kotak kaca di arena kontes akuarium air laut itu sepintas tampak biasa. Kotak kaca itu berisi terumbu karang yang ditata dengan tema tertentu berpadu dengan aneka ikan hias laut. Namun, bila diperhatikan saksama, panjang dan lebar kotak kaca itu tidak biasa. Ukurannya seragam. Panjang dan lebar kotak kaca itu masing-masing 2,5 dan 2 kali jengkal tangan orang dewasa. Itulah akuarium nano.

Akuarium yang juga mendominasi pemandangan sekitar 60% dari 200-an stan ikan hias di Aquarama 2013 itu bukan inovasi baru. Sebab pada perhelatan Aquarama 2011, kotak kaca itu telah dipamerkan. Ukurannya beragam mulai dari 15 cm x 15 cm x 15 cm, 24 cm x 24 cm x 28 cm sampai 31 cm x 31 cm x 31 cm. Kotak kaca nano itu tidak melulu berisi terumbu karang, tapi juga aquascaping hingga terarium. “Kami menyediakan akuarium nano sesuai keinginan konsumen,” kata Gan Li Lian, direktur ekspor dari Adec Aquarium Supplies Pte. Ltd yang berkedudukan di kawasan Pasir Ris, Singapura.

Akuarium nano memang dianggap istimewa karena sarat teknologi. Kotak kaca itu memiliki sistem filter biologi dikombinasi tata cahaya lampu yang menjadi satu paket dalam sebuah desain akuarium nano. Sudah begitu perangkat itu tahan lama. Lampu, misalnya bisa menyala 3 tahun tanpa putus. Filter biologis pun cukup dibersihkan setiap 4 bulan. Dengan sederet keunggulan itu kini harga akuarium nano relatif murah. Di stan Aquatic Style dari Singapura, misalnya, kotak kaca itu dibanderol Rp3-juta dari semula Rp4-juta pada 2012.

Berbeda

Harga akuarium nano cenderung menurun seiring meningkatnya minat konsumen

Harga akuarium nano cenderung menurun seiring
meningkatnya minat konsumen

Sejauh ini konsumen akuarium nano di negeri Singa, misalnya, membeludak. “Kami rata-rata bisa menjual 300 set setiap bulan,” ujar Andi Yap dari Qian Hu Fish Farm di Singapura. Volume penjualan itu naik 20% dibandingkan kurun 2011—2012. Akuarium nano kini menyumbang 10% dari total pendapatan eksportir ikan hias terbesar di Tumasik itu

Bagaimana kondisi di tanahair? Menurut Hernowo dari Jogja Aquarium di Yogyakarta, minat konsumen di Kota Gudeg, misalnya, tidak besar. Hernowo yang menyediakan kotak kaca nano mulai ukuran 20 cm x 40 cm sampai 60 x 40 cm sejak 2010 itu rata-rata menjual 30 akuarium per 2—3 bulan. Padahal harga akuarium nano yang dijual ayah 2 putra itu tidak mahal-mahal amat, Rp500.000 per akuarium tanpa filter dan lampu.

Tri Aditya dari Didy Aquarium Design di Bandung, Jawa Barat justru sebaliknya. Saat ini Tri mampu menjual 2—3 akuarium ukuran 50 cm x 40 cm setiap pekan. Volume penjualan itu meningkat dibandingkan pada 2012, sebanyak 3 akuarium per bulan. Tri menuturkan saat ini 50% konsumennya adalah mahasiswa. “Mungkin melihat akuarium cara mereka menghilangkan stres setelah kuliah,” ujar anggota staf di sebuah perusahaan media yang menjual Rp750.000—Rp1,5-juta per set bergantung pada desain akuarium. Pun Dody Aliwijaya dari PT Aqua Jaya di Jakarta. “Mahasiswa dan pemilik apartemen adalah pembeli akuarium nano saya,” ujar Dody yang rata-rata menjual 8—15 akuarium per bulan itu.

Meledaknya minat konsumen sudah diprediksi jauh-jauh hari oleh Ignatius Mulyadi, praktikus ikan hias dari Bandung yang ditemui Trubus pada Aquarama 2011. Saat itu Mulyadi menyebutkan konsumen bakal menyukai akuarium nano. “Pembeli melihat penampilan keseluruhan. Bila akuariumnya kecil, kompak, desain isinya menarik, serta perawatannya mudah, pasti mereka suka,” katanya. Prediksi Mulyadi itu kini terbukti. Pada Aquarama 2013 kehadiran akuarium nano menjadi daya tarik terbesar pengunjung.

Aneka pakan

Trubus mengamati bukan hanya akuarium nano yang mendominasi area ekshibisi Aquarama 2013. Paviliun yang menyediakan aksesori, filter, dan pakan ikan hias juga marak. Menurut Haryanto Kosasih, ketua umum Indonesia Pets, Plant, Aquatic Expo (IPPAE) kondisi itu memperlihatkan upaya produsen mendekatkan diri kepada pehobi. “Apapun yang dibutuhkan konsumen yang memiliki akuarium harus tersedia,” katanya.

Itu pula yang mendorong UFO Aquarium System dari Cina memajang banyak lampu akuarium aneka bentuk dan warna. “Kami juga menyediakan filter biologi yang mudah dibersihkan dengan harga murah,” ujar TF Zhou, anggota staf pemasaran. Satu set filter biologi untuk akuarium nano Rp300.000—Rp400.000.

Qian Hu yang membidik pasar menengah ke atas yang lekat dengan teknologi bereaksi dengan meluncurkan produk akuarium lumiq. Produk yang diperkenalkan pada Aquarama 2011 itu kini semakin diminati. Akuarium lumiq istimewa karena memiliki lampu LED (Light Emiting Diode) yang bisa diatur warnanya. “Konsumsi listriknya rendah hanya 12 volt,” kata Alvin. Itu setara kekuatan aki motor. Sudah begitu untuk memanjakan pemilik, bagian atas akuarium dibenamkan slot untuk mengisi ulang baterai telepon seluler serta speaker untuk mendengarkan lagu dari perangkat music player.

Bagi pemilik arwana di akuarium kini muncul pelet arwana. Pakan yang diproduksi oleh salah satu anak perusahaan Grup Qian Hu itu digadang-gadang bisa menjamin kecukupan nutrisi siluk. Menurut Edo Kristanto dari Elkindored, penangkar dan eksportir superred di Jakarta Barat, pelet arwana sudah ada di Indonesia sejak 2008. Sayangnya, sedikit pehobi yang antusias. “Teksturnya terlalu keras sehingga kurang disukai arwana,” ujar Edo yang pernah mencoba memberikan pakan itu untuk arwana-arwananya pada 2012.

Hal senada disampaikan Suwandi dari PT Arwana Indonesia di Cibubur, Jakarta Timur. “Saya pernah mencoba, tapi nafsu makan arwana malah turun dan air kolam cepat kotor karena pelet yang mengendap,” katanya. Namun, bagi pehobi yang sulit memperoleh pakan alami seperti penuturan Andy Yap, pelet itu bisa menjadi solusi ketersediaan pakan.

Satwa klangenan

Pergelaran Aquarama 2013 tak melulu ikan hias. Panitia juga menampilkan anjungan satwa klangenan seperti anjing, kucing, dan kelinci. Boleh jadi hal itu untuk menyiasati berkurangnya peserta dari kalangan pebisnis ikan hias. Sebagai gambaran pada Aquarama 2001—2011, tidak pernah sekalipun terdapat anjungan satwa klangenan. Menurut Gwen Ng dari UBM, pengelola pameran, penyelenggaraan Aquarama mendatang lebih memadukan ikan hias dan satwa klangenan seperti pameran Interzoo di Jerman.

Faktanya pada Aquarama 2013 area satwa klangenan paling banyak menyedot pengunjung melalui aneka lomba seperti kontes kelinci, ketangkasan anjing, hingga grooming anjing. Aquarama sebagai kiblat kemajuan bisnis ikan hias sepertinya mulai berubah arah. Peluang itu sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh pelaku bisnis ikan hias di tanahair. “Inilah kesempatan kita untuk menjadi barometer ikan hias dunia berikutnya,” ujar Dr Maman Hermawan MSc, direktur Pengembangan Produk Nonkonsumsi Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. (Dian Adijaya S/Peliput: Rizky Fadhilah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software