Anthurium: Jalan Menuju Jawara Kontes

Filed in Tanaman hias by on 04/09/2013 0 Comments

Dwi Bintarto dan Haryanto sukses mendulang gelar juara berkat perawatan prima.

Tiga anthurium koleksi Dwi Bintarto meraih prestasi gemilang pada kontes anthurium nasional di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, akhir Juni 2013.  Tanaman hias elok anggota famili Arecaceae koleksi Bintarto menjadi yang terindah di kelas variegata, madya, dan campuran. Begitu juga anthurium koleksi Haryanto yang meraih juara pertama di kelas utama dan prospek. Sejak 2010 nama Dwi Bintarto terus berkibar sebagai pemilik anthurium kampiun di berbagai kontes.

Setidaknya ada 10 anthurium koleksinya yang berhasil menjuarai kontes. Padahal, ketika itu pamor anthurium tak lagi bersinar seperti pada 2007. Namun, hal itu tidak menyurutkan hasrat Dwi untuk merawat tanaman anggota famili Arecaceae itu. “Merawat anthurium itu seperti merawat bayi. Kalau kita telaten dan sungguh-sungguh maka hasilnya pun memuaskan. Menang kontes itu bonus,” kata pehobi di Jakarta Selatan itu.

Sejak belia

Dwi Bintarto mempersiapkan anthurium untuk kontes sejak tanaman berumur 3 bulan. Ia memperhatikan pertumbuhan kerabat aglaonema itu secara saksama hingga berumur setahun. “Yang paling utama untuk diperhatikan adalah karakter tanaman,” ujar Dwi. Contohnya dalam mempersiapkan Anthurium jenmanii variegata. Pada umur setahun susunan daun harus terlihat roset dan mulai muncul warna variegata yang tegas.

Dwi juga memperhatikan setiap fase pertumbuhan tanaman. Pada saat muncul daun baru, misalnya, ia menutup calon daun itu dengan kantong plastik bening. “Tujuannya untuk melindungi daun muda agar tidak mudah sobek saat bersinggungan dengan daun tua yang lebih tebal dan kaku,” ujar Dwi. Ia menggunakan plastik karena tipis dan lentur sehingga bisa mengikuti bentuk daun saat tumbuh. Sebaiknya gunakan plastik bening agar tidak mengganggu proses fotosintesis.

Jika daun muda sobek, sangat sulit memperbaikinya. Bagian tepi daun yang sobek akan berwarna cokelat kehitaman. Menurut ahli Fisiologi Tumbuhan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Ir Edhi Sandra MSi, munculnya zat warna hitam di bagian tepi daun yang sobek salah satu bentuk sistem pertahanan tanaman. Daun muda yang sobek nantinya akan mengerut akibat adanya tarik-menarik antarjaringan. Daun muda merupakan organ yang sedang tumbuh sehingga sel-selnya aktif membelah dan membesar.

“Pada proses tumbuh bentuk daun seharusnya proposional. Namun, karena terputus akibat sobek, maka pertumbuhan daun menjadi  tidak seimbang sehingga pada saat tua daun tampak berkerut,” ujar master bidang Fsiologi Tumbuhan itu. Untuk menciptakan susunan daun yang roset, Dwi Bintarto menancapkan lidi dan stirofoam untuk mengarahkan pertumbuhan daun yang menjuntai terlalu rendah, lebih cenderung ke kiri atau kanan, dan yang tumbuh dekat media tanam.

Ia melakukannya pada 6 bulan sebelum kontes agar tanaman tampil prima. Susunan daun yang roset, kompak, sehat, dan daun tersusun rapi, bagian dari estetika yang memperoleh nilai tinggi saat penilaian kontes. “Daun muda bersifat elastis. Selama proses pertumbuhan akan membelah, membesar, dan menebal sehingga perlu diarahkan agar hasilnya bagus,” ujar Edhi Sandra.

Media porous

Edhi menyarankan agar pehobi berhati-hati saat memberikan hormon auksin, pupuk NPK, dan Urea karena bersifat panas. “Jika kecipratan zat itu saat memberikannya ke media tanam dapat membuat daun cepat kuning dan layu,” kata Edhi. Yang paling rentan terkena cipratan pupuk adalah daun tua yang terletak pada susunan paling bawah.  Daun paling bawah juga lebih rentan busuk karena tumbuh paling dekat dengan media tanam yang cenderung lembap, apalagi saat baru disiram.

Media tanam juga tak kalah penting dalam melahirkan anthurium kelas kontes. “Media tanam harus porous,” kata Dwi Bintarto. Karena itu ia meramu media tanam berupa campuran cacahan batang pakis, kaliandra, dan pasir malang dengan perbandingan 3:  : . Dwi mencuci bersih cacahan pakis, lalu merendamnya dalam larutan efektif mikroorganisme selama sepekan dalam tempat tertutup plastik dan disimpan di tempat teduh.

Menurut dosen kesuburan tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Dr Ir Ani Yuniarti MP, perbandingan karbon (C) dan nitrogen (N)—CN ratio—cacahan pakis tinggi sehingga memerlukan nitrogen pada saat penguraian. Jika tanpa fermentasi maka akan mengambil nitrogen yang seharusnya menjadi makanan anthurium. ”Pakis sumber energi yang berasal dari selulosa dan polisakarida. Namun, minim unsur hara jika tidak diuraikan oleh mikoorganisme efektif,” tambah Edhi.

Dwi dan Haryanto juga memberikan larutan yang mengandung vitamin B1 sebagai antistres dan zat perangsang tumbuh setiap 1—2 pekan sekali. Dosis keduanya hanya separuh dari anjuran yang tertera di kemasan. “Kalau satu takaran nantinya daun terlalu bongsor sehingga ukuran antara daun lama dengan daun baru terlalu jauh perbedaannya,” ujar Haryanto. Begitu juga dengan dosis insektisida, fungisida, dan bakterisida, yang disemprotkan selang-seling setiap 2—3 pekan.

Ani juga menyarankan agar berhati-hati saat penyiraman. “Hindari penyiraman saat tengah hari atau matahari sedang terik,” katanya. Pada kondisi terik penguapan terlalu cepat sehingga air belum dimanfaatkan secara optimal oleh tanaman. Ketersediaan air juga penting sebagai pelarut nutrisi yang terkandung dalam media tanam.

Dengan perawatan intensif itu, pantas bila jenmanii variegata koleksi Dwi yang telah dirawat selama 3 tahun sukses meraih tiga kali gelar juara di kelas variegata. Begitu juga dengan anthurium eka milik Haryanto. Ratu daun  yang diperoleh dari Budi Tjahyana, kolektor anthurium asal  Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu menyandang tiga kali juara di kelas utama sejak berumur 1,5 tahun “Koleksi anthurium milik Dwi Bintarto dan Haryanto memang layak jadi pemenang. Mereka melakukan perawatan optimal untuk persiapan kontes,” kata Eddy Pranoto, juri dari Semarang, Jawa Tengah. (Pressi Hapsari Fadhillah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software