Angkat Mutu Nila Merah

Filed in Ikan konsumsi by on 05/10/2010 0 Comments

Mundurnya waktu panen juga dialami peternak nila merah di karamba jaring apung (KJA) Waduk Kedungombo, Jawa Tengah. Contoh Mukhlis dan Puji yang masing-masing memiliki KJA lebih dari 80 dan 40 karamba. Menurut mereka seperti ditirukan Saptono, mantan ketua kelompok Mino Ngremboko di Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, selain mundur, tingkat keseragaman bobot pun rendah. ‘Dulu cukup 2 kali panen, tapi sekarang sampai 3 kali,’ kata Saptono.

Anjloknya produktivitas Oreochromis sp diamini Ir Sofi Hanif, MSc, ketua kelompok perekayasa komoditas ikan nila Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), Salabintana, Sukabumi, Jawa Barat. ‘Itu terjadi karena pemakaian induk tidak tepat,’ ujar Sofi Hanif. Maklum, nila merah yang masuk ke Indonesia pada 1980-an itu sebetulnya bibit sebar untuk dipelihara sebagai ikan konsumsi, bukan diperuntukkan sebagai induk. ‘Berdasarkan hasil penelitian mahasiswa bimbingan Prof Dr Ir Rustidja dari Universitas Brawijaya bahwa benih nila merah dapat dihasilkan dari persilangan nila putih dan nila hitam,’ tambah Sofi Hanif.

Menurut Dr Triyanto, MSc, dosen di Fakultas Perikanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, bila nila merah adalah hibrida, maka seharusnya hanya dipakai satu kali. ‘Jika digunakan untuk keturunan selanjutnya, kualitasnya semakin menurun,’ kata Triyanto.

7 tahun

Nah, untuk memperbaiki mutu nila merah itu perlu kembali ke titik awal. Maksudnya, ‘Mencari galur murni dari induk nila hitam dan nila putih lagi,’ tutur Dian Hardiantho SPi, MSi, perekayasa di BBPBAT Sukabumi. Untuk itu BBPBAT sebagai pusat pengembangan induk ikan nila nasional tengah melakukan perekayasaan untuk mendapatkan induk nila putih yang dapat menghasilkan nila merah dengan arahan Prof Komar Sumantadinata dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pada 2002 BBPBAT Sukabumi mendatangkan induk nila putih – yang berwarna putih perak pada sisiknya – dari Kabupaten Sleman, Yogyakarta. ‘Sampai saat ini belum ada penjelasan asal-usul nila putih di Sleman tersebut. Apakah mutasi genetik atau didatangkan dari luar negeri,’ kata Sofi Hanif.

Nila putih itu lantas dikawinkan dengan nila merah sehingga terjadi introgresi – penyisipan gen – gen warna merah dari nila merah ke dalam nila putih asal Sleman itu. Hasil persilangan itu menghasilkan 400 – 500 telur. Dengan tingkat kelulusan hidup 70%, maka diperoleh 300 nila putih. Setelah dilakukan proses introgresi di BBPBAT nila putih yang semula berwarna putih perak berubah menjadi putih tulang pada sisiknya. Generasi pertama (F1) nila putih itu kemudian dites satu per satu melalui progeny test atau uji keturunan.

Uji itu penting karena introgresi tak bisa dilihat kasat mata. ‘Perlu dilihat dari keturunannya,’ ungkap Dian. Tes progeni dilakukan dengan mengawinkan satu per satu induk betina nila putih dengan jantan nila hitam. Setelah 7 tahun penelitian akhirnya ditemukan nila putih yang dapat mewarisi gen nila merah.

Produktivitas tinggi

Menurut Dian semua strain nila hitamnya bisa menggunakan. Berdasarkan pengkajian, anakan yang dihasilkan tak memiliki perbedaan nyata. ‘BBPBAT menggunakan GESIT (Genetically Supermale Indonesian Tilapia), nirwana, dan nila hitam lain hasil kegiatan seleksi famili. Dari hasil silangan dengan nila putih, mutu nila merah yang diperoleh sama-sama bagus,’ tambah Dian. Itu tampak dari kualitas telur dan produktivitasnya yang bagus.

Sebagai induk nila putih pembawa gen merah, ia bisa dipakai sebagai pejantan maupun betina. Namun, Dian lebih banyak memakai betina nila putih dan jantan nila GESIT sebagai induk. ‘Supaya anakan yang dihasilkan monoseks, hanya menghasilkan nila merah jantan,’ kata Dian. Maklum, selama ini peternak pembesar menginginkan jantan lantaran pertumbuhannya 30% lebih cepat daripada betina.

Sayang, meski sudah ditemukan induk nila putih pembawa gen merah, jumlahnya terbatas. ‘Saat ini BBPBAT baru memiliki 2.000 nila putih pembawa gen merah. Bila ingin memenuhi kebutuhan peternak butuh ratusan ribu induk,’ ujar Sofi Hanif. Selain itu, peternak pun harus bersabar karena anggota famili Cichlidae itu harus melalui uji multilokasi terlebih dahulu seperti di tambak, kolam biasa, kolam air deras, hingga kolam jaring apung.

Yang pasti 1 – 2 tahun mendatang BBPBAT siap melepas induk nila putih pembawa gen warna merah ke kalangan peternak. Dengan penggunaan induk tepat, diperoleh bibit nila merah berkualitas sehingga waktu pemeliharaan menjadi lebih cepat seperti 10 tahun lalu saat Giyono pertama kali memelihara nila merah. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Ratu Annisa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software