Air Limbah Kembali Bersih

Filed in Lingkungan, Majalah by on 23/11/2019

Budidaya sayuran memanfaatkan air limbah yang dimurnikan.

Mengolah air limbah rumah tangga untuk mengatasi pencemaran lingkungan sekaligus budidaya sayuran.

Paino menutup hidung saat memasuki kampungnya sendiri, Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya, Jawa Timur. Harap maklum, rumah Paino dekat dengan Sungai Gadukan Utara, tempat berkumpulnya limbah dari berbagai daerah di Surabaya. Keruan saja, limbah itu menimbulkan bau tak sedap di area rumahnya. “Semua limbah berkumpul di sungai dekat kampung kami. Sampai ada limbah industri juga di sini,” ujar Paino.

Paino dan Instalasi Pengolahan Air Limbah buatannya sendiri.

Sungai itu merupakan tempat pertemuan air dari wilayah Surabaya utara dengan air laut. “Kalau air laut tinggi bisa masuk ke kampung saya. Tetapi kalau air tawar tinggi, akan keluar ke laut,” ujar lelaki kelahiran 1 Juni 1964 itu. Paino yang menjabat ketua Rukun Tetangga (RT) 11 Rukun Warga (RW) 5 tak pasrah dengan keadaan. Bersama warganya ia bertekad mengakhiri keadaan itu.

Saring air

Paino bukan sekadar bermimpi. Bersama warga ia sejatinya ingin membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL. Sayangnya, untuk membuat IPAL membutuhkan dana besar. Sebuah instalasi lengkap dengan pipa dan besinya bisa menghabiskan Rp3 juta. Paino tak kehabisan akal. Ketika di tempat kerja, ia melihat sebuah drum bekas oli tak terpakai. Ia membawa pulang drum itu sembari mampir ke toko bahan bangunan untuk membeli pipa, besi dan segala perlengkapan IPAL.

“Akhirnya saya bisa membuat IPAL dari drum bekas oli itu. Total biayanya hanya Rp700.000,” ujarnya bangga. Paino memasang instalasi di selokan tempat berkumpulnya air dari rumah-rumah. Ada selokan lebarnya satu meter dan terhubung dengan pembuangan air rumah-rumah. Di situ ia memasang menara setinggi tiga meter. Air di selokan itu mengalir ke atas lalu masuk ke drum penyaringan.

Air itu kemudian masuk ke saringan pertama berupa pasir, lalu turun ke saringan kedua berupa kerikil, turun lagi ke saringan ketiga berupa arang tempurung kelapa, dan terakhir melewati saringan ke empat berupa ijuk. Paino memanfaatkan air limbah yang tersaring untuk menyiram sayuran. Di sepanjang jalan sungai ia membuat rak-rak setinggi 1,2 meter sebagai tempat pot-pot tanaman dari botol-botol plastik bekas.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-layout-key=”-er+o+l-go+rw”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3417295201″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Ia membudidayakan sayur-mayur seperti sawi, kangkung, bayam merah, dan cabai. Paino yang jago mengelas itu menggunakan media tanam campuran 10% ayakan briket, 50% kompos, dan 40% tanah. Selama budidaya, ia tak menambahkan pupuk. “Kompos mengandung banyak nutrisi, saya kira sudah cukup. Warga sekitar juga sering menyiram tanaman dengan air cucian beras,” ujarnya.

Bank sampah

Sayur-mayur seperti sawi dan bayam merah sudah mulai panen sekitar umur 45 hari setelah tanam. Paino mempersilakan anggota masyarakat yang ingin memanen sayuran, tetapi ada syaratnya. “Di depan rak sayuran itu ada bank sampah. Warga harus membawa botol bekas, kardus, atau plastik yang tak terpakai untuk diberikan kepada bank sampah. Warga antusias memanen beragam sayuran.

Paino dan warga RT 11 RW 5, Kelurahan Morokrembangan, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Melihat perkembangan itu, Paino berinisiatif mengikutkan kampungnya ke lomba Surabaya Green and Clean (SGC) yang diselenggerakan oleh pemerintah daerah Surabaya. Salah satu syaratnya harus sudah ada IPAL, sehingga ia bisa mengikuti. Akhirnya Paino dan warga setempat menang sebagai juara pertama kelas pemula. Paino mengggunakan hadiah lomba untuk menyempurnakan IPAL agar lebih jernih lagi airnya.

“Saya tambahkan satu wadah lagi berkapasitas 80 liter dengan isi penyaringan sama dengan yang pertama. Jadi, setelah air limbah melewati drum pertama yang 200 liter itu, kemudian masuk lagi ke drum 80 liter. Baru stelah itu digunakan untuk penyiraman,” ujarnya. Pada 2018, Paino kembali meraih penghargaan best of the best SGC kelas berkembang. Saat ini kampung itu masuk 50 besar.

Ia berharap menang lagi agar masyarakat termotivasi untuk memperbaiki kondisi air limbah itu. Warga pun tak lagi menutup hidung ketika memasuki wilayahnya sendiri. Aroma segar, panorama hijau berkat beragam sayuran yang tumbuh di sekitar Sungai Gadukan Utara. (Bondan Setyawan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software