Air Banjir untuk Konsumsi

Filed in Lingkungan, Majalah by on 19/02/2020

Sebanyak 42 rumah tergenang di Kampung Ciasahan, Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor.

Teknologi sederhana dengan prinsip koagulasi, sedimentasi, dan filtrasi mengubah air banjir menjadi air baku layak konsumsi.

Hujan tanpa henti pada 31 Desember 2019 dan berlanjut hingga 1 Januari 2020 memicu banjir dan longsor di Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Desa Sukamaju khususnya Kampung Cigowong, Ciasahan, dan Cikaret dilalui dua sungai yaitu Sungai Cidurian dan Ciasahan. Pada pukul 10.00 air air mulai naik. Dua jam kemudian air meluap hingga memasuki perumahan dan sawah di sekitar aliran sungai.

Banjir di Bambuapus, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur mencapai tinggi 60―70 cm.

Luapan sungai di Kampung Ciasahan menyebabkan 42 rumah tergenang, 1 jembatan hanyut, dan sawah terendam. Hujan deras tanpa henti juga berdampak banjir di berbgai wilayah seperti di Jakarta, Tangerang, Provinsi Banten, dan Bekasi, Jawa Barat. “Air mulai masuk rumah sekitar pukul 05.30. Tingginya mencapai dengkul orang dewasa atau sekitar 50 cm. Kalau di luar lebih tinggi 60―70 cm,” kata Andiny Gameltha di Bambuapus, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Teknologi sederhana

Andiny memutus aliran listrik segera setelah air masuk agar tidak terjadi korsleting. Praktis ia tidak bisa mengakses air bersih di sumur gali sebab tidak ada aliran listrik untuk menghidupkan pompa air. Banjir surut pada pukul 18.00 tapi ia menunggu kondisi rumahnya benar-benar kering untuk menyambungkan kembali aliran listrik. Selama 12 jam Andiny dan warga Bambuapus yang terdampak banjir tidak dapat mengakses air bersih untuk kebutuhan domestik.

Saat banjir aliran listrik dan dan pasokan air dari Perusahaan Air Minum akan terhenti. Kalau ada sumur gali tentu airnya bercampur air banjir. Terang saja kondisi itu makin menyulitkan warga untuk memperoleh air bersih. Mereka hanya bisa mengandalkan bantuan air bersih yang ada di pengungsian. Air banjir keruh lantaran ada partikel kecil dan koloid seperti butiran penyusun pasir, tanah liat, sisa tanaman, dan kotoran lain.

Periset di Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Padjadjaran, Dr. Sophia Dwiratna Nur Perwitasari, S.TP., M.T., mengatasi permasalahan itu dengan membuat sarana pengolahan air banjir menjadi air baku. Istilah air baku merujuk pada air yang berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah, atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air minum.

Prinsip koagulasi, sedimentasi, dan filtrasi mengubah air banjir keruh kecokelatan menjadi air baku.

Sophia, Boy Makclin Putra, dan Dwi Rustam Kendarto sengaja merancang alat pengolah air secara sederhana tanpa perlu listrik untuk memudahkan pemakaian. Penjernihan air banjir menerapkan prinsip koagulasi, sedimentasi, dan filtrasi. Koagulasi bertujuan menggumpalkan kotoran berupa padatan tersuspensi seperti lumpur halus dan bakteri dengan bantuan tawas.

Proses selanjutnya sedimentasi ditandai dengan mengendapnya gumpalan kotoran di bagian bawah tangki. Filtrasi berfungsi untuk menyaring kotoran kecil dan ringan yang tidak ikut menggumpal. Caranya dengan mengalirkan air tercemar melalui media berpori. Penyaringan dapat menggunakan pasir, arang, dan gerabah. Sophia dan tim memilih filter gerabah karena Jawa Barat merupakan wilayah penghasil kerajinan tanah liat yang dibakar itu.

Sumber kehidupan

Bahan penyusun gerabah itu adalah tanah liat dan bekatul. Komposisinya 80:20. Hasilnya alat itu mampu meningkatkan kualitas air banjir yang keruh kecokelatan menjadi air bersih yang jernih dan layak digunakan sebagai air baku domestik. Proses pengendapan baiknya dilakukan saat malam sehingga keesokan paginya air bisa difilter dan siap pakai. Kepala Program Studi Sarjana Teknik Pertanian dan Biosistem itu mengamati selama ini warga terdampak banjir mengandalkan air bersih bantuan pemerintah.

Warga di pengungsian perlu air 15—20 liter per orang per hari termasuk untuk minum.

Padahal, kebutuhan air warga di pengungsian berkisar 15—20 liter per orang per hari. Selain itu, alat ini tidak memerlukan listrik sehingga dapat digunakan di area pengungsian. Masyarakat terdampak banjir dapat memenuhi keperluan air domestik secara mandiri. Ketersediaan air saat banjir amat melimpah. Warga terdampak banjir dapat menggunakan air itu untuk pemurnian.

Guru besar Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Budi Indra Setiawan, M.Agr., mengatakan, air tawar sumber kehidupan bukan malapetaka. Banyak cara untuk memanfaatkan air hujan atau sungai yang melimpah. Syaratnya tata kelola harus tepat. “Warga bisa siapkan sumur resapan yang berfungsi pula sebagai kantong air. Komunitas menyiapkan embung berlapis geomembran sehingga dapat menampung air hujan,” kata Indra.

Menurut periset bidang Manajemen Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi Hutan IPB, Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr, banjir umumnya digunakan untuk genangan air bukan di tempatnya atau di sungai dalam kondisi debit melebihi batas normal atau meluap. “Air banjir tidak dikehendaki, makanya air perlu dikendalikan supaya tidak banjir. Kalau terjadi banjir secepat mungkin bisa segera disurutkan,” kata Hendrayanto.

Menurut doktor Hidrologi Hutan alumnus Kyoto University, Jepang itu, mengendalikan jumlah aliran permukaan supaya tidak menyebabkan kerusakan atau korban jiwa. Salah satu cara mengendalikan air permukaan berlebih adalah dengan membuat drainase bawah tanah yg ditampung oleh reservoir bawah tanah juga. Air reservoir selanjutnya diolah menjadi air baku.

Budi menuturkan saat ini sudah banyak mesin filtrasi yang mengolah air kotor bahkan berlumpur menjadi air baku. Kata Hendrayanto, untuk keperluan darurat air bersih pada saat banjir, ada alat pengolah air portabel dalam beragam bentuk antara lain mikrofilter, filter dengan botol 600 ml, dan filter dengan penampung hingga 60 galon. (Sinta Herian Pawestri)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software