Ahli Bicara Budikdamber

Filed in Majalah, Topik by on 05/07/2020

Sayuran tumbuh subur dengan nutrisi hanya dari air limbah ikan.

 

Sejak memelihara ikan dan sayuran dalam ember, tetangga Darmatasiah semringah lantaran selalu kebagian hasil panen setiap pekan. Dari satu ember, perempuan kelahiran Tanjungjabung Barat, Jambi, 10 Desember 1980 itu memperoleh sekilogram lele terdiri atas 8—9 ekor serta dua ikat sayuran. Darmatasiah mengelola enam ember sehingga itu lebih dari cukup untuk konsumsi sekeluarga.

Ia mengisi ember dengan 50—100 benih lele. Tingkat kematian juga rendah lantaran alumnus jurusan Agribisnis Universitas Terbuka itu tekun menyortir dan menempatkan ikan berdasarkan ukuran. Menurut para ahli, lele dan kangkung pilihan tepat bagi pemula akuaponik sederhana seperti budikdamber.

Dr. Iwan Setiawan
Periset Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Padjadjaran

Peminat budikdamber meningkat saat pandemi terutama di kompleks perumahan. Jadwal tanam bergantian dari beberapa ember memungkinkan panen berkelanjutan setiap 1—2 pekan. Apalagi benih lele dan sayuran seperti kangkung, bayam, dan selada dapat dibeli di toko pertanian terdekat. Jenis sayuran pun makin beragam. Itu turut mengubah fungsinya bukan sekadar sumber pangan tapi juga tanaman penghias.

Budikdamber berpotensi memperkuat ketahanan pangan rumah tangga terutama bagi kalangan menengah bawah. Keberadaan pos benih di setiap RT atau RW dapat berperan membagikan benih gratis dan pendampingan praktik bagi kelas bawah yang rentan pangan.

Dr. Yudi Sastro
Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu

Bagi pemula yang ingin mencoba akuaponik dapat mengadopsi sistem budikdamber. Alasannya budidamber relatif mudah, murah, dan penempatan tidak rumit menjadi kelebihan utama. Sebaiknya pilih jenis ikan yang tahan kepadatan tinggi dengan kadar oksigen rendah. Selain lele, gabus bisa menjadi pilihan. Namun gabus cenderung bersifat kanibal dengan penguasaan ruang yang luas.

Komoditas selain kangkung, perlu media inert—media tanam yang tidak mengandung unsur hara. Contohnya arang sekam, sabut kelapa, atau kerikil. Bila sudah menguasai budikdamber, pegiat dapat mencoba sistem akuaponik lain dengan kolam lebih luas dan aliran yang lebih kompleks sehingga variasi ikan dan sayuran lebih banyak.

Dr. Kukuh Nirmala
Periset Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

Adanya komponen air, ikan, dan tanaman dalam budikdamber sudah memenuhi persyaratan sistem akuaponik sederhana. Namun kondisinya serba terbatas alias bukan untuk skala produksi besar. Budikdamber lazimnya dengan air stagnan dan frekuensi penggantian air cenderung rendah dan tanpa penambahan oksigen dengan aerasi. Itu menyebabkan kepadatan tebar relatif rendah, kecuali lele, sehingga produksi ikan juga terbatas.

Air limbah ikan mengandung pupuk dengan unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, dan sulfur yang berasal dari pakan ikan. Adapun nutrien mikro seperti kalium, kalsium, magnesium, natrium, dan klorin, serta mineral lain juga tersedia tapi kadarnya belum mencukupi untuk pertumbuhan sayuran. Unsur Mg diperlukan tanaman sebagai unsur utama pembentuk klorofil yang berperan penting dalam fotosintesis. Kekurangan Mg menyebabkan daun—selain kangkung—pucat dan tanaman kurang subur.

Namun, hal itu tidak berlaku untuk kangkung Ipomoea reptans. Pada dasarnya untuk beradaptasi pada media tanam berupa air. Batang mendominasi biomassa keseluruhan tanaman kangkung. Batang tersebut tinggi kandungan air dan selulosa. Unsur pembentuk utamanya C, H, dan O yang tersedia melimpah pada air limbah ikan. Ketiga unsur itu berasal dari protein, karbohidrat, dan lipid pakan.

Sementara itu, daun menyumbang biomassa hanya sedikit sehingga tidak memerlukan banyak nutrien. Kegagalan akuaponik termasuk budikdamber dengan ikan selain lele dan sayuran selain kangkung lazim terjadi pada pemula.

Penyebabnya jenis ikan yang dipilih tidak memiliki nafsu makan sebesar lele sehingga limbah sebagai pupuk tanaman turut berkurang. Pemilihan sayuran selain kangkung juga memerlukan pemupukan tambahan agar tumbuh optimal. Pupuk tambahan sebaiknya diaplikasikan pada bagian tanaman terutama daun, bukan pada air media ikan.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Dr. Ade Sunarma
Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi

Populasi ideal budikdamber 50 ekor lele per ember berkapasitas 80—100 liter. Air limbah dengan kepadatan tebar 50 ekor per ember sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kangkung di 16—17 wadah bagian atas. Oleh karena itu, pelaku budikdamber harus mengalirkan air di ember untuk tanaman lain.

Selain kuat, lele juga ekonomis lantaran umur panen relatif singkat 2,5—3 bulan pascatebar benih. “Gurami kurang ekonomis sebab populasi yang efektif hingga panen hanya 5 ekor per 100 liter air. Pemeliharaannya juga lama 8—10 bulan,” kata Ade Sunarma. Nila masih ekonomis sebab tiap ember dapat berisi 8—10 ekor dengan umur panen hingga tiga bulan. Upaya itu sekaligus mencegah aroma tak sedap. Budikdamber lebih cocok untuk mewujudkan ketahanan pangan keluarga.

Dr. Yani Hadiroseyani
Dosen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB

Penggantian air sebuah kemestian bagi pelaku budikdamber. Tujuannya untuk mengencerkan buangan ikan yang dapat bersifat racun bagi ikan itu sendiri. Pengurasan dengan mengambil air dari atas jika kotoran teraduk rata di kolom air. Namun jika kotoran mengendap di dasar ember, sedot bagian bawah dengan selang—metode sifon. Tambahan air baru sesuai volume yang dikuras. (Sinta Herian Pawestri)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software