Agrowisata Jamur Thailand

Filed in Pojok luar by on 02/07/2013 0 Comments
Jamur tiram raja

Jamur tiram raja

Wisata petik beragam jamur di Khaoyai Panorama  Farm, Thailand.

Dua belas baglog itu tergantung dari ketinggian dua meter di atas permukaan tanah. Gantungan baglog itu berjajar membentuk sebuah tirai. Dari setiap baglog, muncul jamur tiram putih. Itulah pemandangan di Khaoyai Panorama  Farm di Provinsi Nakornratchasima, 1 jam bermobil dari  Bangkok, ibukota Thailand. Perusahaan itu memproduksi sembilan jenis jamur, seperti jamur merang, tiram raja, tiram putih, tiram merah muda, dan jamur kuping.

Selain itu Khaoyai Panorama juga memproduksi jamur subtropis seperti kepala monyet Hericium erinaceus, jamur salju Tremella fuciformis, dan jamur topi Agrocybe cylindracea. Jamur kepala monyet berasal dari Amerika Utara yang menghendaki suhu sejuk dengan kelembapan rendah. Jamur berbentuk mirip janggut itu lazim digunakan dalam masakan Cina untuk menggantikan daging sapi lantaran bertekstur kenyal dengan citarasa gurih.

Tumbuh di tanah

Jamur salju tergolong pendatang baru dalam dunia jamur konsumsi. Pasalnya, jamur yang tumbuh parasit terhadap jamur lain itu tercatat baru mulai dibudidayakan di Cina awal abad ke-19. Sejatinya jamur salju tidak hanya dijumpai di Tiongkok, ia jamur asli benua Amerika. Di Negeri Tiongkok, jamur salju lazim diolah menjadi sup, hidangan bercita rasa manis, atau sebagai campuran sarang burung walet untuk membuat minuman kesehatan.

Sementara jamur topi pendatang dari benua Eropa. Jamur topi sejatinya tergolong penyakit tumbuhan lantaran menyebabkan busuk putih di tanaman berkayu. Namun, konsumsi jamur topi mempunyai sejarah panjang sejak masa sebelum masehi dan menjadi hidangan kaum bangsawan pada masa Yunani dan Romawi. Masyarakat Italia biasa membudidaya poippino—sebutan jamur topi di Italia—itu di batang kayu. Dengan cara itu, mereka memanen jamur topi 6—8 kali setahun tanpa menginokulasi ulang sampai bertahun-tahun kemudian.

Beragam jamur itu tumbuh di kumbung produksi dengan ukuran beragam, tergantung jenis jamur yang dibudidayakan. Contoh untuk jamur paha ayam Coprinus comatus, ukuran kumbung 2,5 m x 6 m. Khusus jamur-jamur subtropis, Dr Piched Sowittayakul, ahli dari Universitas Maejo, Chiang Mai, Thailand,  merancang kumbung secara khusus. Harap mafhum, jamur itu memang tidak cocok dengan iklim tropis Thailand. Kumbung khusus itu berpendingin, suhu 10—15oC. Piched menyesuaikan suhu dan kelembapan agar pertumbuhan jamur optimal. Selain mengembangkan jamur di dalam kumbung, Khaoyai juga menumbuhkan jamur di tanah tanpa kumbung.

Perusahaan itu membudidayakan tiram cokelat Pleurotus giganteus dan jamur merang Volvariella volvacea di tanah yang ternaungi pohon. “Budidaya jamur biasanya memerlukan tempat dan kondisi khusus. Dengan menumbuhkan jamur di tanah, kesan itu hilang sehingga anak-anak tertarik untuk belajar,” kata Piched. Piched mengatakan bahwa menumbuhkan jamur konsumsi di tanah memerlukan trik khusus. Jika menabur media tanam di tanah lalu menginokulasi dengan bibit jamur, maka kemungkinan yang tumbuh bukan hanya jamur yang diinginkan. Jamur-jamur parasit seperti Aspergillus atau Trichoderma bakal ikut hadir.

Budidaya jamur tiram di atas permukaan tanah, tanpa baglog

Budidaya jamur tiram di atas permukaan
tanah, tanpa baglog

Petik dan masak jamur

Membudidayakan jamur subtropis di negara tropis seperti Thailand menelan biaya produksi sangat tinggi. Oleh karena itu Khaoyai Panorama Farm menjadikan jamur subtropis hanya sebagai pelengkap. Fokus mereka tetap pada jamur lokal. Selain kumbung besar, perusahaan itu juga membangun kumbung mungil berukuran 4 m x 5 m dengan rangka dan atap berbahan logam. Dinding depan dan belakang berbahan tembok setinggi  2,5 m, menyisakan jarak terbuka selebar 0,5 m dengan atap. Dr Piched Sowittayakul membiarkan dinding bagian samping terbuka untuk sirkulasi udara.

Saat musim hujan, tenaga lapangan menutup sisi terbuka itu dengan plastik transparan untuk mempertahankan kelembapan. Kumbung-kumbung mungil itu berfungsi sebagai ruang pamer bagi para pengunjung. Agrowisata di Distrik Pakchong, Provinsi Nakornratchasima, itu menawarkan memetik sendiri jamur bagai para pelancong. Mereka lalu membawa pulang atau memesan masakan langsung di restoran dengan menggunakan jamur hasil panen sendiri. Maklum, selain memproduksi jamur, di farm itu juga ada restoran yang menawarkan menu berbahan dasar jamur.

Untuk menyambut akhir pekan, hari libur, atau kunjungan rombongan, staf lapangan farm “menumpahkan” baglog terinokulasi, 3—4 hari sebelum menumbuhkan tubuh buah. Bagian ring dan sekitarnya dipertahankan agar tidak berantakan, lalu ditutup dengan tumpukan media tanam atau jerami. Langkah selanjutnya tinggal mempertahankan kelembapan media tanam. Saat tubuh buah keluar tinggal dipanen seperti biasa. Namun Piched mengingatkan bahwa cara itu sekadar untuk pameran untuk menarik minat pengunjung dan tidak bisa untuk produksi massal.

Khaoyai Panorama Farm yang berdiri pada 2011 itu merupakan kongsi dua orang, Dr Piched Sowittayakul dan Poramet Sittiwong. Semula Poramet Sittiwong tertarik membangun industri pertanian dengan membuka kebun jeruk limau Citrus amblycarpa. Ia membayangkan jeruk berbuah lebat di luar musim. Namun, ia mengurungkan hasrat itu  lantaran panen perdana jeruk limau ketika pohon berumur 2—3 tahun. “Itu belum bicara soal jangka waktu pengembalian modal yang pasti memerlukan waktu lebih lama lagi,” kata Poramet.

Atas saran Dr Piched Sowittayakul dari Universitas Maejo, Chiang Mai, Poramet membudidayakan jamur konsumsi. “Masyarakat Thailand sejak lama mengonsumsi jamur. Selain itu jamur konsumsi terbukti kaya nutrisi dan bebas gula,” kata Piched. Ahli jamur itu mewanti-wanti budidaya jamur memerlukan modal besar. Namun, Poramet tak gentar. Ia justru meminta Piched membuatkan rancangan kumbung yang sesuai dengan iklim Provinsi Nakornratchasima.

Poramet Sittiwong tertarik membudidayakan jamur lantaran produksi tinggi dan menjanjikan pengembalian modal dalam waktu singkat. Akhirnya Paromet dan Piched bergabung mendirikan Khaoyai Panorama Farm di tanah seluas 1 ha dengan modal hampir Rp3,4-miliar. Piched menangani produksi; Poramet, pemasaran dan pengembangan bisnis.

Selain itu masyarakat Negeri Siam itu memercayai bahwa konsumsi teratur 3 jenis jamur: merang, tiram, dan kuping akan baik meningkatkan kesehatan dan memperpanjang usia. Itu sebabnya, seperti di Indonesia, ketiganya juga paling banyak dibudidayakan. Thailand memiliki beberapa masakan tradisional berbahan jamur, sebut saja tom yam, sup jamur, atau salad. Namun, untuk menarik pelancong, mereka menciptakan hidangan berbahan jamur dari menu yang lazimnya menggunakan daging. Salah satunya sai aua, yang biasanya terbuat dari sosis. Selain itu mereka juga membuat minuman dari 7 jenis jamur.***

 

Powered by WishList Member - Membership Software