AGROKAPITAL

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 17/06/2019

Eka Budianta

Mulai 29 April 2019, pindah ibu kota menjadi bahan pembicaraan dan pemikiran yang serius. Presiden Joko Widodo bahkan langsung meninjau usulan-usulan lokasi di Pulau Kalimantan.  Empat gubernur serentak pergi ke Jakarta untuk menawarkan lokasi di Provinsi Sulawesi Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Berbagai seminar dan diskusi digelar. Ada aspek hukum, undang-undang, dan administrasi.

Ada juga aspek teknis tata-kota yang terkait langsung dengan pertanahan, arsitektur, energi, dan transportasi.  Tentu, ada juga pembangunan ekonomi, politik, sosial, dan kultural.  Intinya, ibu kota perlu dipindahkan untuk memecahkan masalah disparitas. Itu sudah dibahas sejak Presiden Soekarno memikirkan Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 1957. Namun, baru sekarang aspek-aspek praktisnya bukan hanya dibicarakan, tetapi dilaksanakan.

Etalase

Bagaimana aspek pangan, khususnya pertanian dan peternakan?  Produksi agrikultur selalu menjadi kunci kemakmuran sebuah kota.  Setiap kota menjadi maju berkat cadangan air dan pangan yang berkelanjutan.  Di Indonesia pendekatan agropolis dan agropolitan sudah dikembangkan sejak 1974. Kuncinya membangun kota di tengah ladang, baik pertanian, perkebunan, maupun kelautan.

Berbagai studi membangun kota berbasis pertanian dan peternakan juga tersedia di banyak daerah.  Ada yang masih pada tingkat wacana atau prasaran. Namun, ada contoh sukses.  Misalnya Balaikarangan, Kalimantan Barat, sebagai ibu kota durian,  Malang (Jawa Timur), sebagai kota tempe, Tomohon (Sulawesi Utara) penghasil bunga, Kisaran (Sumatera Utara) kota burung walet, dan seterusnya.

Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berhasil memasok jeruk dan bambu untuk Bali.  Ada kota-kota kecil yang bangkit berkat stroberi, cokelat, melon, dan susu-sapi.  Contoh paling nyata adalah komoditas sebagai agen perubahan.  Bisa kelapa sawit, vanili, peternakan puyuh, dan keramba ikan. Belum lagi konsep-konsep urban farming atau tani perkotaan di berbagai kota besar.

Bahkan New York, Amerika Serikat, dan Tokyo, Jepang, pun punya konsep pertanian kota yang dijadikan jaminan pangan pada masa depan. Sejumlah gedung pencakar langit sedang diubah menjadi lahan vertikultur dan hidroponik pemasok sayuran.  Pendeknya asupan konsumsi warga perlu cadangan. Itulah pegangan atau peta jalan berkelanjutan.

Sebuah permukiman selalu bermula dari tersedianya sumber minum dan makan yang terjangkau.  Para perantau dari berbagai daerah berani datang ke Jakarta karena tersedia pasokan pangan murah.  Ada bubur kacang hijau dan nasi hitam dan warung-warung tegal di sepanjang jalan.  Dua generasi yang silam, air teh-tawar gratis. Tanpa ada sumber pangan itu, mustahil terjadi banjir urbanisasi ke Jakarta pada 1970 dan 1980.

Selain itu Jakarta menjanjikan bermacam makanan rakyat, buah-buahan (rambutan, sawo betawi, salak condet, dan durian lebakbulus). Ditambah lagi kerang hijau dan ayam-ayaman. Sekarang bagaimana sebuah ibu kota dibangun dengan sadar akan kedaulatan pangan? Apakah instansi-instansi pemerintahan akan berdiri di tengah kolam-kolam ikan, ternak kelinci dan angsa, ladang jagung, serta kebun buah-buahan?

Usaha menghasilkan beragam bahan pangan seperti budidaya udang pun bisa dilakukan di pusat kota.

Apakah istana presiden berada di balik rimbun kebun kelapa yang selalu siap dipetik untuk minuman korps diplomatik? Menyatunya ladang dan kebun dengan pusat pemerintahan itu pernah saya lihat di San Jose, ibukota Kostarika, Amerika Tengah. Selain itu, sebuah kota, apalagi ibu kota, tidak akan bebas dari kebutuhan kuliner yang istimewa. Bebek beijing, keju amsterdam, es krim manila,  soto betawi, croisant paris, serta fish and chip di London sekadar contoh.

Jadi, di mana pun lokasi ibu kota baru nanti, program untuk tanam dan ternak yang khas perlu diprioritaskan. Ibu kota bagaimana pun harus menjadi etalase untuk produk-produk terbaik, baik hasil bumi, maupun hasil lautan. Buah paling unggul, durian, manggis, mangga, dan rambutan pilihan. Juga ikan paling lezat: kakap, tenggiri, cakalang, kerapu, bandeng, kepiting soka, dan udang jerbung.

Agroindikasi

Domba garut, jeruk pontianak, duku palembang, beras solok, tahu sumedang, lunpia semarang, soto lamongan, dan seterusnya adalah contoh yang memasyarakat.  Ibu kota yang kita dambakan juga perlu siap dengan indikasi geografisnya.  Oleh karena itu, dari awal perlu desain agribisnis dan agroindustri penunjangnya.  Kopi sidikalang, anjing kintamani, bakmi aceh, bubur manado, coto makassar adalah inspirasi yang tidak boleh dilupakan.

Sejak zaman Orde Baru, kita sudah dibiasakan berpikir bahwa setiap kota punya satwa, bunga, bahkan, pohon pusaka. Masalahnya kota bukanlah sebuah ekosistem.  Dalam banyak contoh, kota sering diibaratkan sebagai akuarium.  Kota perlu sumber air, makanan, bahkan populasi yang didatangkan dari tempat lain. Kota Surakarta, Jawa Tengah, maju karena wilayah penyangganya Boyolali, Karanganyar, dan Wonogiri yang memasok pangan dan tenaga kerja.

Demikian pula tentunya ibu kota yang akan dibangun. Tentu memerlukan kawasan penyangga yang luas dan potensi yang besar. Pakar ilmu lingkungan,  Prof. Jatna Suprijatna mengingatkan agar pembangunan mengoptimalkan hutan yang telanjur dibuka.  Tidak merusak membuka hutan lindung yang berakibat pada rusaknya ekosistem dan mengganggu keaneka-ragaman hayati.

Ketika Bung Karno mengusulkan Palangkaraya menjadi ibu kota, sebagian pengamat menghitung pembiayaan dari hasil hutan, terutama kayu.  Sekarang produk kayu sudah mengalami moratorium. Oleh karena itu, inovasi agribisnis, agroteknologi, dan agrokelautan selayaknya dipertaruhkan.Tidak ada pilihan lain, ibu kota Indonesia yang baru sepatutnya mengandalkan kepiawaian anak bangsa mengelola agrokapital. ***

*) Budayawan, Kolumnis Trubus sejak 2001,aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang.

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software