Agar Panen Kopi Tinggi

Filed in Inspirasi, Majalah by on 18/09/2019

Hasil panen tinggi dengan pemupukan intensif.

 

Pemupukan tepat jenis dan tepat waktu rahasia produksi kopi tinggi.

Pupuk hayati membantu pemasakan buah dan meningkatkan hasil panen.

Pekebun kopi di Catangmalang, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Hendiarto Djuwandi, girang bukang kepalang. Produksi kopi di lahannya terus meningkat. Ia memanen 600 kg green beans atau kopi beras segar per hektare. Rata-rata populasi mencapai 800 tanaman. Artinya produktivitas mencapai 1,3 kg per tanaman. Bandingkan dengan produksi sebelumnya, rata-rata hanya 100 kg per ha.

Lonjakan produksi signifikan itu berkat pemupukan. Hendiarto merawat pohon kopi yang semula terbengkalai sembari menanam bibit baru. Menurut Hendiarto menghasilkan kopi unggul perlu perlakuan tepat, baik saat budidaya, panen, hingga pascapanen. Tepat budidaya antara lain, tepat penyiangan dan pemupukan. Penyiangan penting dilakukan, karena gulma bisa menghambat kopi menyerap unsur hara.

Pupuk tepat

Menurut Hendiarto penyiangan bisa dilakukan berbarengan dengan pemupukan. Hendiarto menyiangi dan memupuk 2 kali setiap tahun, saat awal musim hujan dan akhir musim hujan. Pekebun sejak 2012 itu mengatakan, pemupukan saat musim kemarau kurang optimal. Tanaman anggota famili Rubiaceae itu menghendaki tanah lembap agar bisa menyerap nutrisi dari pupuk optimal.

Hendiarto memberikan 1 sendok Urea per pohon menjelang musim hujan dan 1 sendok phonska per pohon saat akhir musim hujan. Mula-mula pekebun 60 tahun itu membuat lubang melingkar sedalam 10 cm di bawah tajuk kopi. Di lubang itulah ia menaburkan pupuk lalu memendam dengan tanah. Hendiarto mengatakan, dengan budidaya intensif kualitas tanaman lebih baik. Itu terlihat dari daun yang berwarna hijau cerah, dan lebat.

Pada fase generatif, tanaman juga berbunga dan berbuah lebat. Menurut Hendiarto jika perawatan tepat didukung iklim hasil panen kopi tinggi bukan mustahil. Bukan hanya Hendi yang merasakan hasil panen besar berkat perawatan intensif. Pekebun kopi di Desa Kancediwe, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan, Darjo mengalami peningkatan panen.

Darjo menggunakan pupuk hayati produksi PT Pupuk Sriwidjaja Palembang. Dosis pupuk hayati relatif rendah, hanya 12 kilogram per hektare. Pekebun kopi sejak 1977 itu melarutkan 1 liter pupuk hayati dalam 20 liter air. Darjo mengaduk rata, memasukkan ke dalam tangki,

Pekebun kopi di Catangmalang, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Hendiarto Djuwandi merawat intensif kopi demi mutu tinggi.

dan menyemprotkan ke sekujur tanaman. Menurut Darjo waktu penyemprotan pupuk hayati pada sepekan sebelum pemupukan kimia. Frekuensinya 2 kali setahun.

 

Total panen Darjo 2,4 ton green beans per hektare. Bandingkan dengan panen sebelumnya ketika tanpa pupuk hayati, Darjo hanya memetik 2 ton per hektare. Peningkatan produksi 400 kilogram green beans. Harga jual green beans mencapai Rp22.000 per kg, sehingga Darjo mendapat tambahan omzet Rp8.800.000. Sementara itu harga pupuk hayati hanya Rp30.000 per liter atau total Rp360.000 per 12 liter. Darjo tetap meraih laba.

Pengaruh musim

Menurut anggota staf Departemen Riset, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, Dedi Prantoro, pemupukan tepat pada tanaman kopi sangat berpengaruh terhadap produktivitas kopi. Kopi secara umum membutuhkan unsur hara makro dan mikro. Tanaman membutuhkan unsur hara makro antara lain nitrogen, fosfor, kalium, kalsium dan magnesium yang berperan dalam proses pembentukan klorofil, pembelahan sel, sintesis protein, sintesis akar dan daun serta fotosintesis.

Menurut Dedi tanaman kopi juga memerlukan asupan unsur hara mikro seperti seng dan boron yang berperan dalam pembentukan gula dan polen. Tanaman kopi juga memerlukan asupan pupuk hayati. Peran pupuk hayati menambat nitrogen dan melarutkan fosfor dan kalium. Pupuk hayati terbukti mampu mempercepat pemasakan buah. Pupuk hayati kreasi PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, Bioripah, mengandung bakteri yang dapat memfiksasi nitrogen, bakteri pelarut fosfat dan kalium di dalam tanah menjadi tersedia bagi tanaman.

Kualitas kopi di cangkir amat bergantung hasil budidaya dan pascapanen.

“Unsur hara makro dan mikro dapat dipenuhi dengan memberikan pupuk NPK 15-15-15 sebagai sumber nitrogen, fosfor dan kalium. Sedangkan unsur mikro seng dan boron dapat dipenuhi dengan pupuk mikro nutremag,” kata Dedi. Menurut Hendiarto panen raya tanaman kopi berbuah melimpah selang 4 tahun. Panen raya terakhir pada tahun 2016. Dengan perawatan intensif tanaman lebih sehat, mutu dan hasil panen meningkat. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software