Agar Jagung Tanpa Bulai

Filed in Inspirasi, Majalah by on 16/10/2020

Jagung komoditas palawija ditanam sebagai tanaman sela.

 

Penyakit bulai mengincar jagung. Kerugian hingga 90%.

Cendawan Peronosclerospora maydis mengakibatkan bulai pada daun jagung.

Cendawan Peronosclerospora maydis kembali berulah. Menurut Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan pada 2019 cendawan itu menyerang 1.275 hektare lahan jagung yang menyebabkan gagal panen. Penyakit bulai akibat serangan cendawan itu menjadi momok bagi petani jagung seperti Yajid Bastimi. Petani jagung di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur itu memilih mengantisipasi serangan bulai daripada kewalahan pada kemudian hari.

Menurut peneliti di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Hammam Abdullah Rizki, S.P., bulai merupakan penyakit jagung yang sporadis atau ditemukan di berbagai daerah. Alumnus Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Universitas Brawijaya, itu mengatakan, serangan tanpa memandang perbedaan topografi. Gejala serangan bulai pada tanaman anggota famili Poaceae itu daun menguning dan pucat.

Pengaruh nutrisi

Kondisi daun menguning itu akibat klorofil tanaman yang habis akibat serangan cendawan anggota famili Peronosporaceae itu. Akibatnya tanaman tidak dapat berfotosintesis sehingga pertumbuhan tanaman terhambat. Menurut Hammam kerugian akibat serangan bulai berkisar 70—90%. “Penyebaran spora dapat melalui tanah maupun udara. Namun, kebanyakan serangan melalui akar dan kemudian menyerang melalui jaringan pengangkut,” kata Hammam.

Serangan penyakit makin masif ketika kondisi nutrisi tanaman tidak tersedia. Pria kelahiran 9 Januari 1995 itu mengatakan, salah satu upaya pencegahan serangan bulai adalah dengan pemupukan berimbang. “Kalium tidak boleh lupa, supaya jaringan tanamannya lebih kuat. Jadi, spora tidak mudah menginfeksi,” kata mahasiswa pascasarjana jurusan Entomologi Pertanian, Universitas Brawijaya itu.

Selain itu pH tanah juga memengaruhi tingkat serangan bulai. Cendawan itu menyukai kondisi tanah yang masam. Namun, lahan penanaman jagung sering terabaikan karena dianggap tanaman selingan pengganti padi. Jadi, lahan yang digunakan untuk jagung biasanya minim pengolahan. Menurut Development and Registration Manager PT Royal Agro Indonesia, Hadi Suparno, gejala serangan bulai biasanya muncul pada tanaman berumur 7—10 hari setelah tanam.

Bila satu daun muncul gejala, satu tanaman pasti sudah terinfeksi cendawan. Bila dibiarkan, bulai akan segera menyerang tanaman lain di lahan yang sama, bahkan di kebun sekitar. Salah satu upaya pencegahan bulai dengan perlakuan benih menggunakan fungisida sphinx 500 SC. Fungisida produksi PT Royal Agro Indonesia itu berbahan aktif dimetomorf 500 g/l. Sphinx bekerja dengan cara menghambat pembentukan dinding sel cendawan dan menghambat perkecambahan spora, sehingga memproteksi benih jagung dari serangan bulai.

Umur 10 hari

Yajid Bastimi merendam 5 kg benih jagung selama 15 menit dalam 50 ml larutan fungsisida itu. Pria 34 tahun itu meniriskan dan menanam benih di lahan 1 hektare. Yajid tidak waswas terhadap tanaman jagungnya setelah melakukan perendaman benih. Selain itu ia menyemprotkan fungisda yang sama ketika tanaman berumur 10 hari untuk perlindungan.

Ia menggunakan konsentrasi hanya 15—20 ml per 14 liter air atau satu tangki semprot. Petani jagung sejak 2005 itu menghabiskan 14 tangki agar perlindungan optimal. Tiga tahun terakhir, lahannya aman dari serangan bulai. Ia memanen 5—7 ton jagung dari lahan 1 hektare.

Peneliti di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Hammam Abdullah Rizki, S.P.

Menurut Hadi produsen benih sebenarnya sudah melapisi benih dengan pestisida atau coating. Namun, petani lebih baik mencegah serangan bulai dengan perenaman seperti dilakukan Yajid. Menurut alumnus jurusan Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor itu, bulai dapat tumbuh di berbagai kondisi cuaca. Paling cocok adalah masa peralihan musim. Karena kondisi lembap, suhu hangat mengakibatkan spora lebih cepat berkembang.

Menurut pria kelahiran 7 Januari 1982 itu, terdapat beberapa daerah dengan investasi bulai paling tinggi. Daerah-daerah itu antara lain Provinsi Lampung, Kabupaten Grobogan (Jawa Tengah), dan Kabupaten Probolinggo (Jawa Timur). Menurut pria 38 tahun itu, di daerah investasi tinggi sangat berbahaya bila tidak dilakukan pencegahan. Hadi mengatakan, membiarkan jagung begitu saja mengakibatkan serangan 100% atau seluruh tanaman rusak terserang bulai. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software