Agar Harga Tetap di Atas

Filed in Sayuran by on 07/03/2013
Menutup baglog menjelang harga anjlok

Menutup baglog menjelang harga anjlok

Strategi menahan harga tinggi jamur tiram dengan karet gelang.

Masyarakat bersuka cita menyambut Tahun Baru atau Lebaran. Pekebun tiram justru bersedih karena permintaan biasanya anjlok. Sudah begitu harga pun mengikuti. Saat Lebaran atau Tahun Baru, masyarakat cenderung mengonsumsi daging sehingga permintaan jamur tiram merosot. Pekebun di Cisarua, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Suyono, mengatakan saat Lebaran, misalnya, harga menukik hingga Rp1.500 per kg. Celakanya, “Naiknya pelan sekali, untuk sampai harga normal perlu sekitar setengah bulanan,” kata Suyono.

Pekebun di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahmadi, menyebutkan agar petani tidak rugi, maka harga jual minimal idealnya Rp5.000 per kg. Jika harga anjlok, petani tak punya pilihan lain kecuali menjual dengan harga murah karena tiram tidak tahan simpan. Ahmadi mengatakan penurunan permintaan mencapai 50% pada hari-hari itu. Oleh karena itu perlu strategi itu untuk menahan harga agar tetap bertengger di atas. Pekebun di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Ikhsan Sanubari—bukan nama sebenarnya—menghentikan sementara pertumbuhan jamur menjelang harga anjlok.

 

Prediksi Pasar Tiram 2013

Prediksi Pasar Tiram 2013

Karet gelang

Ikhsan Sanubari mampu memprediksi kecenderungan harga jatuh berdasarkan pengamatannya sejak 2003. Berdasarkan pengamatan intens ia memahami harga jual tiram cenderung turun dan bahkan tidak ada pasar pada momen tertentu (lihat infografis Prediksi Pasar Tiram). Pada awal tahun, misalnya, harga cenderung turun, bahkan pada 1 Januari tidak ada pasar. Dengan menghentikan pertumbuhan jamur, harga jual jamur tiram di tangan Ikhsan relatif stabil sepanjang tahun. Sebab, Ikhsan bisa menunda panen hingga harga kembali normal.

Menurut Ikhsan harga dan permintaan anjlok berkaitan dengan hukum pasar. Ketika pasokan melimpah, sementara permintaan tetap, maka harga cenderung turun hingga 30%. Artinya, pekebun bakal merugi. Untuk mencegah rugi, Ikhsan Sanubari memiliki strategi menghentikan pertumbuhan sementara jamur tiram dengan cara sederhana.

Pada baglog yang tertutup atau belum pernah panen, ia tak akan membukanya hingga beberapa hari. Sebab sepanjang baglog tertutup dan tanpa penyiraman, tubuh buah tak akan muncul, meski warna baglog putih. Baglog yang berwarna putih indikasi fully colonize atau spora telah menyebar. Ikhsan baru membuka baglog saat harga jamur tiram mulai membaik.

Pada baglog yang pernah panen tapi tubuh buah belum muncul lagi—biasanya ada selang 15—21 hari sejak panen pertama— lain lagi caranya. Pekebun itu mula-mula membersihkan permukaan baglog yang posisinya dibuat tidur itu. Caranya dengan menyemprotkan air bersih melalui nozel. Di permukaan baglog biasanya muncul beragam serangga hama atau telur hama. Ketika Ikhsan menyemprotkan air melalui selang ke permukaan baglog, telur pun rontok. Setelah itu, ia menutup permukaan depan baglog dengan karet gelang, seperti kondisi baglog sebelum panen. Menurut Ikhsan seorang pekerja berpengalaman mampu menutup 5.000 baglog dengan karet gelang per 7 jam.

Sebagai gambaran, pekebun yang mengelola total 25.000 baglog, volume panen rata-rata 80—100 kg jamur per hari. Jika ia menerapkan teknologi itu, maka akibat penghentian pertumbuhan, pekebun hanya panen 4 kg sehari. Bagaimana dengan baglog yang telah panen dan muncul tubuh buah? Ikhsan membiarkan tubuh buah membesar dan siap panen 4 hari kemudian. Ikhsan mengatakan jumlah panen jamur seperti itu sangat kecil, di bawah 5% dari volume panen biasanya.

 

Hambat oksigen

Ikhsan mengatakan bahwa penutupan baglog sesuai dengan biologi jamur tiram sehingga tidak akan merusak pertumbuhan. Menurut alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada itu, tiram memerlukan 15—21 hari untuk pertumbuhan vegetatif atau pertumbuhan miselium. Setelah itu baru muncul tubuh buah atau pertumbuhan generatif. Ahli jamur dari Pusat Penelitian Biologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Dr Iwan Saskiawan mengatakan bahwa penutupan baglog menyebabkan pasokan oksigen kian turun sehingga pertumbuhan vegetatif pun lebih lambat.

Iwan Saskiawan, ahli jamur dari Pusat Penelitian Biologi LIPIDampaknya pemunculan tubuh buah pun lebih lambat. “Pembentukan tubuh buah sangat dipengaruhi oksigen. Ketika baglog ditutup, pasokan oksigen akan berkurang. Jika plastik sobek, jamur akan muncul di lokasi yang sobek itu,” kata Saskiawan. Selama penutupan baglog, jamur memanfaatkannya sebagai waktu pemulihan. Itulah sebabnya ketika baglog dibuka kembali, jamur tumbuh sehat dan normal. “Penutupan hanya menunda waktu pertumbuhan tubuh buah jamur. Pada waktu baglog nanti dibuka, jamur akan tumbuh kembali,” kata Ikhsan.

Pekebun jamur sejak 10 tahun terakhir itu mengatakan, produktivitas baglog yang mengalami penutupan tetap tinggi, rasio efisiensi biologi mencapai 38%. Rasio efisiensi biologi adalah perbandingan antara total produksi jamur segar dan baglog segar kali 100%. Angka itu mencerminkan produktivitas jamur, semakin tinggi produksi maka semakin besar persentase angka efisiensi. Selain itu penutupan baglog sementara juga berperan mengendalikan hama atau penyakit. Saat baglog tertutup, maka serangga tak memiliki akses ke dalam baglog. Sebaliknya larva yang di dalam pun tak dapat keluar sehingga mati. Itulah sebabnya jika serangan hama melebihi ambang batas, pekebun dapat menyemprotkan insektisida. Pada saat penyemprotan, posisi baglog tertutup sehingga relatif aman.

Menurut Ikhsan, lama penutupan 7 hari. Pada awal menerapkan teknik penutupan, Ikhsan pernah membiarkan baglog tertutup lebih dari 7 hari. Dampaknya, cendawan Trichoderma sp justru tumbuh di baglog. Cirinya, baglog berubah warna menjadi kehijauan. Saat itu, pada 2002, ribuan baglog pun gagal panen. Saskiawan mengatakan baglog yang lembap dan kaya nutrisi sangat kondusif untuk pertumbuhan Trichoderma sp yang sporanya ada di berbagai tempat.

Andai perlu lebih lama, Ikhsan menyarankan pada hari ke-7 baglog dibuka seharian. Setelah itu penutupan baglog dapat dilanjutkan kembali. Menurut Saskiawan selain penutupan baglog, pekebun dapat menunda panen dengan mengatur kelembapan atau cahaya.

Tiga faktor itulah—oksigen, cahaya, dan kelembapan—yang mempengaruhi pertumbuhan tubuh buah jamur. Namun, mengatur oksigen dengan cara menutup baglog seperti ditempuh Ikhsan paling mudah dilakukan oleh para pekebun. Cara sederhana itu juga menyelamatkan banyak pekebun. Ikhsan yang bermitra dengan 50 pekebun di Cianjur, Provinsi Jawa Barat, itu memang menularkan kebiasaan menutup baglog menjelang harga anjlok atau pasar lesu. (Sardi Duryatmo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software