9 Abad Perjalanan Subak

Filed in Eksplorasi by on 01/07/2009 0 Comments

 

Itulah produktivitas padi organik yang dikelola anggota Subak Selat di Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali. Padi dibudidayakan tanpa pupuk sintetis kimia dan pestisida sama sekali. ‘Itu mematahkan anggapan umum bahwa padi organik lebih rendah produktivitasnya ketimbang padi konvensional,’ kata Dr Ir Ni Luh Kartini MSi, ahli mikrobiologi tanah Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Bali.

Hasil panen 8 – 9 ton per ha itu setara dengan hasil budidaya konvensional yang dilakukan secara intensif. Menurut Ni Luh, itu menunjukkan pertanian organik pun dapat mencapai hasil tinggi bila dikelola intensif. Di lahan itu Ketut mengawinkan pertanian organik ala subak dengan pertanian organik baru. Contoh pertanian organik ala subak ialah menyisihkan lahan 60 m2 di setiap hektar sawah untuk kandang sapi yang dihuni 6 – 10 ekor. Dari kotoran sapi yang dihasilkan itulah selama 9 abad padi subak mendapat pasokan nutrisi.

Sedangkan pertanian organik modern yang diadopsi Ketut ialah menambahkan cacing tanah Lumbricus rubellus ke kotoran sapi yang dikumpulkan di samping kandang. ‘Cacing mengurai kotoran sapi menjadi lebih siap diserap tanaman,’ kata Ni Luh. Setelah 3 pekan, kotoran sapi yang telah berubah menjadi kascing – sebutan pupuk kandang yang telah diurai cacing tanah – siap digunakan. Saat pengolahan tanah kascing ditaburkan ke lahan sebanyak 5 ton per ha. Urin sapi juga ditampung dan dialirkan melalui saluran irigasi ke sawah.

Teknik budidaya organik itu lalu dipadukan dengan teknik budidaya System of Rice Intensification (SRI). Lahan sawah dibiarkan macak-macak (basah tapi tidak tergenang, red). Lazimnya padi dibudidayakan di air tergenang. ‘Dalam kondisi macak-macak pasokan oksigen untuk kehidupan mikroba seperti azotobacter dan azospirillium melimpah,’ kata Prof Dr Suwandi Anas, guru besar di Jurusan Tanah Institut Pertanian Bogor.

Menurut Dr Rahayu Widyastuti, ahli mikrobiologi tanah Institut Pertanian Bogor, produktivitas tinggi itu diduga berkat sumbangsih kascing. Kotoran cacing kaya unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang berguna bagi tanaman. Keampuhan pupuk kascing mendongkrak hasil panen juga dibuktikan AG Pratomo dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur.

Hasil riset menunjukkan penambahan pupuk kascing 2 ton/ha dan pengurangan pupuk anorganik 50% dari dosis anjuran meningkatkan produksi padi yang semula 6,15 ton/ha menjadi 10 ton/ha. Menurut AG Pratomo, kascing tak hanya kaya unsur hara tetapi juga mengandung asam amino dan protein yang memacu pertumbuhan tanaman.

Keabsahan sawah organik di Subak Selat pernah diuji Iyan Katelgar. Utusan Food and Agricultural Organization (FAO) asal Belanda itu menyaksikan kehadiran belut di dekat salah satu rumpun padi milik Ketut.

Kehadiran lindung – sebutan belut di Bali – di salah satu rumpun padi itu meyakinkan bahwa sawah itu benar-benar dibudidayakan organik. Pengamatan Ni Luh di sawah organik bisa diperoleh 50 belut di petakan sawah seluas 200 m2. ‘Di sawah konvensional terkadang tak ditemukan sama sekali,’ katanya.

9 abad

Teknik budidaya organik yang diterapkan anggota Subak Selat sejatinya telah dilakukan sejak 1071. Lembu sebanyak 6 – 10 ekor yang dipelihara di setiap hektar sawahlah yang menjadi penjaga kesuburan tanah selama 9 abad. Dalam kebudayaan Bali, subak tak hanya berperan sebagai organisasi yang mengatur sistem irigasi.

Seorang pekaseh – kepala subak – juga berperan sebagai pemimpin ritual dan penegak hukum dalam melaksanakan awig-awig alias aturan subak.

Aturan subak berpedoman pada falsafah Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan). Mereka meyakini kebahagiaan akan dicapai bila menjaga hubungan baik antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. ‘Budidaya organik salah satu bentuk hubungan antara manusia dengan alam,’ kata Ni Luh.

Karena itu selain menghindari penggunaan pupuk sintetis kimia, mereka juga enggan menggunakan pestisida. Serangan hama dihindari dengan menanam padi secara serempak. Penanaman padi hanya boleh dilakukan setelah upacara magpag toya yang di gelar di Pura Subak di Bedugul. Upacara itu dihadiri para pekaseh – kepala subak. ‘Tujuannya untuk memohon kepada Tuhan agar air cukup untuk mengairi seluruh sawah,’ ujar Ir I Gde Made Sukawijaya MM, kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tabanan yang mendampingi Trubus.

Usai upacara magpag toya penanaman padi dilakukan secara simbolis di lahan seorang tokoh subak atau pekaseh. Bibit padi yang ditanam mesti bernas dan berasal dari petak pertama yang teraliri air irigasi. Para petani meyakini padi di petak pertama kualitasnya paling baik. Itu lantaran kualitas air yang mengairi sawah belum tercemar karena paling dekat mata air. ‘Itu salah satu bentuk seleksi benih unggul yang diterapkan petani,’ ujar Sukawijaya.

Begitu upacara magpag toya berakhir, seluruh anggota subak diwajibkan nyepi selama sehari. Baru keesokan harinya anggota subak menanam padi di lahan masing-masing secara serempak. Menurut Aunu Rauf PhD, ahli entomologi Institut Pertanian Bogor, penanaman serempak dapat memutus ketersediaan makanan hama.

Undang semut

Menjelang kemarau setiap subak menggelar upacara nangluk merana untuk memohon kepada Tuhan agar terlindung dari serangan hama. Maklum, saat kemarau hama biasanya merajalela. ‘Bila pascaupacara masih terjadi serangan hama, pekaseh melakukan upacara untuk meminta izin kepada Tuhan untuk mengusir,’ tutur Sukawijaya.

Meski begitu pemberantasan hama tak boleh sembarangan. ‘Dalam keyakinan warga Bali, setiap hewan yang dibunuh mesti dikonsumsi sehingga tidak mati sia-sia,’ ujar Ni Luh. Karena wereng bukan hewan yang dapat dikonsumsi, jadi tidak boleh dibunuh.

Petani lantas menggunakan jasa semut untuk menghalau wereng. Menurut Aunu Rauf, semut salah satu predator alami wereng. Petani menyurutkan air sawah selama sepekan, lalu menaburkan parutan kelapa atau umpan lainnya untuk mengundang semut. Semut memangsa telur dan larva wereng sehingga menekan populasi penggerek daun itu.

Para petani juga meletakkan bangkai yuyu alias ketam di sudut-sudut sawah. Menurut Syaiful Asikin dari Balai Penelitian Tanaman Rawa, aroma anyir dari bangkai mengalihkan perhatian walangsangit Leptocorisa oratorius. Cara itu juga kerap ditempuh petani padi di Kalimantan Selatan. Hanya saja mereka menggunakan bangkai keong. Cara itu terbukti ampuh. Hasil riset Syaiful, kearifan lokal itu mengurangi serangan walangsangit 15 – 20%.

Sayangnya tak semua subak mempertahankan warisan nenek moyang itu. Sejak 1960-an, para petani dianjurkan menggunakan pupuk dan pestisida kimia untuk mendongkrak produksi padi. Menurut Prof Dr Wayan Windia, guru besar Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Udayana, Bali, intervensi teknologi hal yang tak dapat dihindari. ‘Subak organisasi yang terbuka terhadap teknologi selama tidak mengancam kelestarian subak,’ katanya. Pemakaian pestisida dan pupuk kimia buatan diperbolehkan selama tidak berlebihan agar tak merusak kondisi tanah.

Kini beberapa subak dikelola dalam bentuk koperasi. Misalnya Subak Guama di Desa Selanbawak, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Selain menjamin ketersediaan air secara merata bagi anggota, koperasi juga menyediakan sarana produksi pertanian seperti modal, pupuk, pestida, dan benih. ‘Aset koperasi Subak Guama mencapai Rp2,7-miliar,’ ujar Ir ANB Kamandalu MSi, dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali yang membina Subak Guama.

Toh walau dikelola secara modern, anggota subak teguh menjalankan awig-awig. Upacara-upacara keagamaan seperti ngewiwid – upacara penanaman pertama – tak pernah absen dilakukan setiap menjelang musim tanam. Kehadiran lumbung di setiap rumah yang menjadi ciri khas subak juga tetap dipelihara. Dalam aturan subak, padi harus disimpan dalam tempat khusus sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri.

Beberapa subak juga ‘kembali’ mengamalkan warisan leluhur. Untuk menghindari kerusakan kondisi tanah, beberapa subak menambahkan pupuk organik dan mengurangi pupuk kimia buatan. Contohnya I Nengah Suwarsana, anggota Subak Wangaya Betan di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Ia hanya memberikan 50 kg Urea/ha, lazimnya 200 – 250 kg/ha. Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) itu menambahkan 2 ton pupuk kandang/ha. Pupuk diberikan saat penggolahan tanah.

Meski mengurangi dosis pupuk anorganik hingga 3/4 dari dosis anjuran, produktivitas padi unggul lokal Bali yang dibudidayakan Nengah mencapai 8 – 9 ton gabah kering panen/ha. Jumlah itu lebih tinggi ketimbang menggunakan pupuk anorganik murni yang hanya 6 – 7 ton/ha. ‘Musim tanam tahun depan diharapkan bisa murni organik,’ ujar Nengah. Maklum, sebagian besar konsumen menikmati beras khas Bali itu untuk kesehatan sehingga mesti aman dari residu kimia anorganik. Dengan begitu tak hanya sehat yang diraih, warisan nenek moyang 9 abad silam pun tetap lestari. (Imam Wiguna)

 

Powered by WishList Member - Membership Software