601 Edisi

Filed in dari redaksi, Rubrik Tetap by on 01/12/2019

Ya, 601 edisi Majalah Trubus telah terbit tanpa putus sejak 1 Desember 1969. Media pertanian yang terbit bulanan itu genap 50 tahun pada 1 Desember 2019. Mestinya genap 600 edisi. Namun, Majalah Trubus pernah terbit dua kali dalam sebulan. Satu edisi reguler, yang lain edisi khusus. Jadilah pada usia ke-50 tahun terdapat 601 edisi. Beragam acara seperti kontes tanaman hias aglaonema, anthurium, monstera, dan sansevieria memeriahkan peringatan ulang tahun emas.

Para penggemar ikan hias turut memeriahkan peringatan ulang tahun Trubus. Majalah Trubus dan Aquatik menyelenggarakan kontes nasional 12 jenis ikan hias seperti cupang, lou han, koi, dan kili. Hanya itu? Ada juga gelar wicara atau talk show bertema kesehatan dengan menghadirkan antara lain dr. Paulus Wahyudi Halim, dokter alumnus Degli Studi Padova, Italia. Paulus pernah praktik di tiga benua dan meresepkan beragam tanaman kepada para pasiennya.

Panitia ulang tahun juga menyelenggarakan gelar wicara yang mengupas peluang bisnis komoditas perkebunan seperti kopi, kakao, dan kelapa. Dari daging kelapa Cocos nucifera saja, seorang pebisnis membuat produk turunan hingga 500 dan laku di pasaran. Panitia juga menyelenggarakan kegiatan “Mendadak Jadi Barista” yang seru. Peserta belajar meracik kopi bercita rasa lezat.

Semua kegiatan itu berlangsung di International Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada 28 November-1 Desember 2019. Trubus juga menyelenggarakan ekshibisi Trubus Agro Expo di lokasi yang sama. Tema kegiatan 50 Tahun Trubus untuk Negeri.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”8129520315″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Beragam kegiatan itu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas kesinambungan penerbitan Majalah Trubus selama setengah abad. Acara itu sekaligus ungkapan terima kasih kepada para pembaca. Tanpa pembaca yang setia, Majalah Trubus menjadi tidak bermakna. Tentu saja terima kasih juga untuk para narasumber di seantero Nusantara, bahkan mancanegara yang telah membagi informasi, kolega, para pemasang iklan, orang dan lembaga yang tidak disebutkan satu per satu yang turut mendukung penerbitan Majalah Trubus.

Majalah Trubus didirikan oleh Drs. Bambang Ismawan, M.S. setelah mengikuti sarasehan Misereor Colloquy (MC) di Kota Baguio, 248 km dari ibu kota Filipina, Manila. Di sela-sela sarasehan pada Agustus 1969 itu Bambang melihat dua majalah, yakni Ang Tao—dalam bahasa Tagalok berarti masyarakat—dan Impact. Kedua majalah itu terbit di Filipina. Bambang tergerak untuk menerbitkan media serupa. Saat itu Bambang alumnus Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor menerbitkan stensilan Tani Membangun untuk para petani.

Ia menemui Gunther Linden yang hadir dalam sarasehan itu. Gunther merupakan perwakilan Jerman untuk Asia Pasifik. Gunther hanya menulis di secarik kertas. “Dear Peter Lampe. Please help Mr. Bambang Ismawan who to like start publishing agricultre magazine in Indonesia.” Gunther membubukan tanda tangan di bawah tulisan “Best regard” dan menuliskan namanya.

Peter Lampe yang dimaksudkan oleh Gunther adalah direktur percetakan Kanisius di Yogyakarta. Katebelece dari Gunther itulah yang membantu Bambang mewujudkan hasratnya menerbitkan majalah pertanian. Nama Trubus sumbangan Aditya Latuhayat yang menjadi pemimpin redaksi pertama. Dalam bahasa Jawa kata trubus berarti tunas atau tumbuh. Jika batang sebuah cabang pohon dipangkas, kemudian beberapa hari berselang muncul tunas baru. Itulah trubus.

Kita meminjam kata majalah dari bahasa Arab, majalatun atau mahasin—berubah menjadi magazine di lidah orang Inggris. Kedua kata itu bermakna gudang. Seperti muasal kata majalah, Trubus menyiratkan gudang pengetahuan, terutama di bidang pertanian dalam arti luas termasuk peternakan, perikanan, dan lingkungan hidup.

Majalah Trubus mencatat dan melaporkan beragam keanekaragaman hayati. Indonesia negara megabiodiversitas memiliki 25.000 spesies flora, ribuan satwa antara lain 1.600 reptil, 200.000 serangga, dan 4.000 ikan. Itulah sebabnya wartawan Trubus bukan hanya mengunjungi kebun buah atau tanaman hias yang elok. Trubus juga menelusuri rimba raya atau menyelam di samudera.

Pada era serbadigital, bagaimana pun Majalah Trubus harus menyesuaikan dengan zaman. Kemampuan adaptasi yang tinggi diperlukan agar Trubus bertahan di negara agraris ini. Bagai tunas, begitu pula harapan kami Trubus yang terus tumbuh dan berbuah. Buah itu berupa beragam pengetahuan yang akurat, bernas, dan berfaedah bagi para pembacanya.

Salam,

Sardi Duryatmo

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software