Eksportir Domba Dunia

Filed in Majalah, Topik by on 02/06/2019

Dr. drh. I Ketut Diarmita, M.P.*

Ekspor domba ke Malaysia pada 2018 merupakan pencapaian yang baik. Harapannya dapat membuka jalan untuk ekspor produk peternakan lain. Terbukanya pasar ekspor memberikan kepastian harga dan pasar bagi peternak. Selain itu harga domba juga meningkat, sehingga kesejahteraan peternak pun bertambah. Ekspor pun menunjukkan domba Indonesia memenuhi syarat kualitas dan kesehatan dari negara pemohon. Ekspor meningkatkan pendapatan negara melalui penambahan devisa.

Pasar dan peternak pun lebih bergairah, sehingga jumlah peternak dan domba makin berkembang. Peternak rakyat masih mendominasi pengembangan budidaya domba. Berdasarkan Hasil Survei Struktur Ongkos Peternakan 2017, struktur usaha peternakan domba untuk kepemilikan skala kecil (1—4 ekor) sebanyak 27,99%, skala medium (5—19 ekor) 60,03%, dan skala besar (20 ekor atau lebih) 11,98%. Investasi di sektor budidaya domba masih terbatas pada kegiatan corporate social responsibility (CSR) melalui skema kemitraan atau filantrofi.

Hubungan pemerintah

Saat ini budidaya domba di Indonesia masih tersentralisasi di Pulau Jawa khususnya  Jawa Barat. Populasi domba berkembang berdasarkan Sensus Ternak 2013—2018. Pada 2018 terdapat 17,4 juta domba dengan produksi daging 48.700 ton. Jumlah peternak pun bertambah 43,81%. Pada 2018 terdapat 929.000 Rumah Tangga Usaha Peternakan (RTUP). Jumlah itu meningkat dibandingkan dengan 2017 yang hanya 645.000 RTUP. Berkaitan dengan itu peran perbankan sangat diharapkan untuk memberikan modal pengembangan usaha dengan skema yang dapat diakses peternak.

<script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”autorelaxed”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3406000923″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Bisnis domba melibatkan unsur antarpemerintah (government to government), antarpelaku usaha (business to business), serta relasi antara pemerintah dan pelaku usaha. Berkaitan dengan hubungan antarpemerintah, ekspor memperkuat hubungan bilateral kedua negara khususnya bidang ekonomi karena arus perdagangan meningkat. Bagi hubungan antarpelaku usaha, ekspor membangun jejaring perdagangan dan bisnis yang positif berperan dalam mendukung ekonomi makro Indonesia.

Adapun keuntungan adanya ekspor bagi hubungan antara pemerintah dan pelaku usaha yakni terbentuknya kolaborasi pembangunan subsektor peternakan dari sisi harmonisasi regulasi dan kemitraan kerja. Indonesia pun berpeluang menjadi eksportir domba berkualitas. Beberapa aspek yang mendukung itu antara lain produksi, genetik dan plasma nutfah, kesehatan, sosial, budaya, serta agama. Dari aspek produksi potensi domba masih sangat besar karena dukungan sumber daya pakan, bibit, dan tenaga kerja.

Aspek genetik dan plasma nutfah menunjukkan Indonesia memiliki genetik domba dengan keunggulan khas seperti domba garut dan domba ekor gemuk. Aspek kesehatan menjadikan isu kesehatan hewan menjadi hal pokok dalam perkembangan peternakan di Indonesia termasuk domba. Indonesia telah diakui bebas beberapa penyakit penting ternak seperti penyakit mulut dan kuku (PMK).

Hal itu didukung dengan pemantauan oleh jaringan laboratorium (balai veteriner) yang dimiliki Kementerian Pertanian yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Peningkatan kesehatan hewan terus dilakukan, sehingga ternak dan produk ternak asal Indonesia terjamin dari sisi kesehatan dan keamanan pangan. Sementara aspek sosial dan budaya menunjukkan peternak domba sudah menjadi sambilan petani khususnya di Pulau Jawa. Peternakan domba bisa menjadi kegiatan pemberdayaan ekonomi pedesaan.

Pasar mancanegara mencari domba Indonesia.

Alasannya mayoritas peternak kecil pemilik peternakan domba sederhana sehingga harapannya mampu meningkatkan pendapatan para peternak. Domba pun bisa menjadi sumber protein alternatif selain daging ayam dan sapi. Pada aspek agama domba sangat diperlukan untuk hewan kurban dan akikah. Permintaan domba untuk kedua kegiatan itu sangat besar mengingat Indonesia berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Aspek kehalalan produk pun menjadi hal yang sangat mendasar ketika mengonsumsi sebuah produk.

Ketentuan Teknis

Hal itu menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk pengembangan ekspor karkas, daging, dan produk olahan daging domba ke negara Muslim lainnya di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Sementara dari aspek kebijakan, Indonesia banyak memiliki norma, standar, prosedur, dan kriteria yang mendukung pengembangan domba seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Pedoman Budidaya dan Pembibitan Yang Baik. Indonesia juga tengah menyusun standar baku Good Animal Husbandry Practises yang menjadi standar negara-negara di Asia Tenggara.

<script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”autorelaxed”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3406000923″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Meski memiliki faktor pendukung, Indonesia mesti memenuhi ketentuan teknis agar menjadi eksportir domba berkualitas di masa depan. Ketentuan teknis itu antara lain kontinuitas produksi dan populasi domba serta ternak persilangan yang memenuhi bobot minimal 25 kg per ekor. Secara teknis ternak ekspor dipastikan memenuhi persyaratan kesehatan hewan yang dibuktikan dengan sertifikat veteriner. Sertifikat Veteriner adalah bentuk penjaminan pemerintah terhadap pemenuhan persyaratan kelayakan dasar dalam sistem jaminan kesehatan hewan berdasarkan hasil serangkaian pemeriksaan kesehatan hewan sesuai dengan persyaratan negara tujuan.

Secara khusus untuk kontinuitas produksi dan populasi domba serta penjaminan aspek kesehatan diperlukan perbaikan produksi dan pembibitan domba sehingga ekspor kontinu. Oleh sebab itu, perlu dikembangkan pusat pembibitan domba yang dikelola pemerintah dan swasta. Pengembangan pola kemitraan juga diperlukan karena mayoritas peternak rakyat pelaku usaha budidaya domba skala kecil. Jadi mesti ada pembinaan dan kemudahan akses modal melalui sistem kemitraan sehingga kapasitas usaha bertambah.

Syarat lain yang mesti dipenuhi agar Indonesia menjadi eksportir domba berkualitas yaitu perbaikan manajemen peternakan yang menerapkan kaidah manajemen sanitari untuk kesehatan hewan dan manusia. Penerapan aspek kesejahteraan hewan (animal welfare) pun perlu dilakukan dari produksi hingga pascapanen. ***

*) Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian 

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software