3 Bulan Panen di Kolam Dangkal

Filed in Ikan konsumsi by on 01/07/2009 0 Comments

Di kolam berukuran 9 m x 12 m berk etinggian air 60 cm , peternak di dusun susutan, kecamatan konjong, itu menebar 2.000 bibit berbobot 5 g/ekor. Selang 60 hari ia menjaring 3 kuintal nila berbobot 200 – 250 g/ekor. Dengan harga jual rp14.000/kg, ali mengantongi omzet rp4,2-juta.

 

 

Oreocromis niloticus itu umumnya dibesarkan dalam keramba jaring apung (KJA) di waduk berkedalaman air 2,5 m. Ali yang membesarkan nila di lahan darat yang ketersediaan airnya terbatas tentu saja harus menyiasatinya dengan mengurangi padat penebaran. Di keramba padat penebaran mencapai 15 ekor/m2; kolam tanah 5 ekor/m2. ‘Bila padat tebar dipaksa sama dengan di waduk, butuh waktu lebih dari 4 bulan untuk mencapai bobot konsumsi,’ ujar Ali yang telah mengujicobanya pada awal 2006. Tingkat kelulusan hidup pun turun menjadi kurang dari 70%. Mestinya sekitar 90 – 95%.

Menurut Dr Rustadi, dosen Fakultas Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, padat tebar mempengaruhi jumlah oksigen terlarut (DO). Semakin padat, DO semakin kecil sehingga ikan malas makan dan bergerak. ‘Idealnya DO nila berkisar 2 – 3 mg/l,’ ucap kepala Laboratorium Aquaculture UGM itu.

Irit pakan

Selain padat tebar, suhu diatur sekitar 26 – 33oC. Kurang dari itu pertumbuhan nila lambat. Apalagi kolam dangkal tak mampu menahan panas, sehingga suhu dalam kolam mudah turun. ‘Karena itu pembesaran sebaiknya di daerah panas,’ tutur Rustadi. Ia menegaskan, peternak di daerah sedikit air, tak perlu pusing memikirkan pasokan air. Maklum, untuk pembesaran nila bisa menggunakan close system atau kolam tertutup. Artinya tidak perlu air mengalir. ‘Tidak perlu ada sirkulasi air. Air hanya ditambah ketika volumenya berkurang karena menguap,’ ucap Ali yang rutin menambahkan air setinggi 10 cm setiap minggu.

Di daerah panas, pakan alami seperti plankton tumbuh subur. ‘Nila adalah plankton feeder (pemakan plankton, red) sehingga kebutuhan pelet lebih hemat,’ ucap Dr Hardaningsih, dosen Fakultas Perikanan UGM. Buktinya Sudi Suwarto, peternak di Kaliwaru, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, hanya butuh 20 sak setara 600 kg pelet untuk membesarkan 400 bibit hingga berbobot 250 – 300 g per ekor. Nilai FCR (feed convertion ratio)-nya 1:1. Sedangkan di waduk FCR-nya 1:1,3. Sampai panen, Sudi yang membesarkan nila di kolam seluas 400 m2 selama 4 bulan itu hanya mengelurkan kocek untuk pakan sebesar Rp3,7-juta.

Pada kolam air mengalir, pertumbuhan ikan nila lebih cepat 15 hari. Itulah yang dialami Muhammad Irwan, peternak di Desa Tempelsari, Depok, Sleman. Irwan mematok ketinggian air di angka 1 m. Dari kolam berukuran 200 m2, sekretaris Kelompok Pembudidaya Ikan Mina Mulya itu dapat memanen 2,5 – 3 kuintal dari 1.000 bibit dalam waktu 46 hari.

Jenis baru

Yang dipanen Ali, Sudi, dan Irwan itu adalah nila-nila merah silangan. Nila itu favorit pasar Yogyakarta. ‘Penampilannya mirip kakap merah sehingga kadang dipakai sebagai substitusi,’ ujar Irwan. Selain itu, nila merah silangan lebih kenyal dan tak hancur saat dipepes. Sebetulnya ada beberapa nila merah silangan unggul. Irwan membesarkan nila silangan nirwana dengan albino. ‘Warna dasar merah dengan totol hitam,’ ucapnya.

Beralasan bila peternak kini beralih pada nila silangan. Musababnya, kualitas jenis-jenis terdahulu seperti nila gift, get, dan satria menurun. Nila gift, misalnya, untuk mencapai bobot 500 g/ekor minimal butuh waktu 6 bulan. Dulu bobot sama dicapai 3,5 – 4 bulan. Selain itu bibitnya lebih banyak betina. ‘Betina kurang disukai karena untuk mencapai ukuran konsumsi 500 g/ekor butuh 7 bulan,’ tutur Dian Hardiantho, SP, MSi, periset Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Menurut Dian, nila-nila unggul hasil riset tidak terbatas pada nila merah, tapi juga nila hitam. Dian menyebut gesit dan best. Kedua nila itu diminati peternak di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Waduk Cirata, Cianjur, Jawa Barat, H. Ade Misbah, misalnya, menebar 40.000 bibit nila gesit dalam KJA seluas 1.000 m2 pada Mei 2008. Dengan kelulusan hidup 95%, dalam waktu 4 bulan Ade memanen ikan rata-rata berbobot 300 – 400 g/ekor. Total hasil penjualan dari 11,4 ton nila yang dihargai Rp10.000/kg, sebesar Rp114-juta.

Berkat nila-nila unggul itu Achmad Zuhdi, di Desa Demangan Klaten, Jawa Tengah, meraup omzet hingga Rp16,5-juta dalam waktu 4 bulan. Zuhdi membesarkan nila best alias bogor di karamba berukuran 7 m x 3 m dengan padat tebar 250 bibit. ‘Hasil panen 1,5 ton dengan bobot rata-rata 300 – 400 g/ekor,’ kata Zuhdi. Produksi itu ditunjang tingkat kelulusan hidup yang mencapai 90%. ‘Dulunya hanya 60% yang hidup,’ kenang Zuhdi yang pernah fanatik pada nila gift.

Pasar terbentang

Ade, Zuhdi, dan ketiga peternak di Yogyakarta sepakat bahwa untuk memasarkan nila tidak sulit. Mereka bisa dengan mudah menjual ke pasar lokal karena serapannya besar. ‘Sebanyak 80% produksi nila terserap pasar lokal. Sisanya diekspor,’ ucap Pepen Effendi, penggerak usaha perikanan di Cianjur, Jawa Barat. Menurutnya total produksi masih belum cukup memenuhi permintaan. Pernyataan itu dipertegas HM Chifni. Pengepul di bilangan Kretek itu, hanya sanggup memasok 3 – 4 ton/bulan untuk seputaran Wonosobo, Jawa Tengah; permintaan yang masuk sekitar 6 ton/bulan.

Begitu pula H. Manito Amin, di Wonosobo, Jawa Tengah. Meski memiliki 18 mitra di Wadaslintang, Leksono, dan Selomerto, ia baru mampu memasok 7 ton/bulan, dari total permintaan 12 ton per bulan. Kumpulan dari 45 pembesar nila di Kecamatan Depok, Sleman, Yogyakarta pun tak mampu memenuhi permintaan yang mencapai 3 ton per minggu. Maklum, dari luas kolam 34.000 m2 mereka hanya bisa menghasilkan 40,5 ton pada 2008. ‘Rumah makan di Kedungombo saja setiap hari meminta 7 kuintal nila sekilo isi 2 ekor,’ kata Edi Priyanto, penyuluh perikanan di Kecamatan Depok.

Di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Padang, Luki pun harus bermitra dengan lebih dari 5 peternak untuk mengumpulkan 40 ton nila/bulan. Nila-nila berbobot 200 – 300 g itu dikumpulkan untuk dipasarkan ke seputaran Sumatera. Sayangnya, jumlah itu masih kurang dari permintaan yang mencapai 60 ton/bulan.

Serapan terbesar di pasar lokal datang dari katering, restoran, dan warung makan. Rumah makan di Kecamatan Konjong, Gunungkidul, misalnya, setiap bulan butuh 1 ton nila konsumsi ukuran 4 – 5 ekor/kg. Namun, yang bisa dipasok peternak di sana hanya 25% dari total kebutuhan. ‘Kekurangannya diambil dari Sleman,’ tutur Ali.

Ekspor

Di Jakarta, rumah makan seperti Sari Kuring di Batuceper setiap hari butuh minimal 7 kg nila segar. Di sana nila diolah menjadi nila bakar seharga Rp45.000/paket dengan nasi. Pun rumah makan Nila Mang Batok di Bogor menjajakan menu nila dari harga Rp35.000 – Rp55.000 per ekor. Rumah makan itu menghabiskan 50 – 70 ekor per hari. Bahkan, hari libur meningkat menjadi 90 ekor/hari. Nila diambil dari peternak di Subang, Jawa Barat, dengan bobot 0,5 kg/ekor.

Berdasarkan pengamatan Prof Dr Triyanto MSi dari Fakultas Perikanan UGM, serapan ekspor nila dalam bentuk segar, beku, kering, dan fillet tak kalah besar. ‘Permintaan ekspor dari Amerika Serikat saja mencapai 252 ton/bulan,’ ujar Triyanto. Data dari Departemen Kelautan dan Perikanan RI memperlihatkan Indonesia merupakan eskportir nila terbesar ke-3 sesudah China dan Filipina. Volume ekspor 106.746 ton senilai US$20-juta pada 2004. Pada November 2008 volume ekspor mencapai 3.248.046 kg dengan nilai US$12,44-juta.

Tingginya permintaan itu membuat harga jual nila terdongkrak naik. Manito kini menikmati harga Rp10.000 – Rp11.000 per kg. Harga itu bertahan sejak 2 tahun lalu. ‘Pada 2001 – 2005, harga berkisar Rp6.000 – Rp8.5000/kg,’ ucap alumnus Fakultas Universitas Sains Quran itu. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software