Tanam-Panen Serbamesin

Filed in Majalah, Topik by on 02/08/2017

Sejak olah tanah, tanam, panen, dan pemipilan jagung menggunakan mesin.

573_ 18-1Setiap kali musim tanam jagung tiba, Sulistianto menghadapi masalah sulit mencari tenaga kerja. Petani di Desa Semawung, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu memerlukan 5 tenaga kerja untuk menanam jagung di lahan 1 hektare. Sulistianto biasanya menanam jagung pada Juli usai panen padi. Tenaga kerja itu membersihkan lahan, menugal, dan menanam benih. Persoalan sama terjadi tiga bulan berselang ketika ia panen jagung.

Bajak yang digunakan pada mesin rotari tanam terbuat dari besi cor.

Bajak yang digunakan pada mesin rotari tanam terbuat dari besi cor.

Untuk memetik jagung di lahan sehektare ia memerlukan 5 tenaga kerja selama sehari penuh. Bila upah tenaga kerja per hari Rp50.000, maka ia harus mengeluarkan biaya Rp250.000. Tenaga kerja yang terbatas menjadi masalah lama. Persoalan Sulistianto itu kontras dengan pengalaman Muhammad Jupri, pekebun jagung di Desa Lautang, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Jupri memanfaatkan mesin untuk memanen sekaligus memipil jagung.

Mesin multifungsi
Untuk memanen dan memilik jagung di lahan 2000 m² Jupri hanya memerlukan 3 tenaga kerja selama 40 menit. Padahal, sebelum menggunakan mesin pemanen ia mempekerjakan 10 orang selama 1,5 hari. Masalah tenaga kerja memang menjadi perhatian dalam dunia pertanian, lantaran generasi muda sekarang enggan bekerja di sawah karena upah tidak sesuai. Mereka memilih bekerja di pabrik yang menjanjikan upah cukup lumayan.

DC-70, mesin panen produksi PT Kubota Machinery Indonesia.

DC-70, mesin panen produksi PT Kubota Machinery Indonesia.

Menurut dosen Agribisnis Universitas Padjadjaran, Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., berkurangnya tenaga kerja merupakan penyebab terbesar tidak meningkatnya hasil pada produksi pertanian. Bahkan, menurut Iwan dalam jangka panjang dapat mengancam ketahan pangan dan kedaulatan pangan. Iwan mengatakan, berkurangnya tenaga kerja berpengaruh pada produksi pangan yang sampai kini stagnan bahkan mulai menurun.

Untuk itu Balai Besar Mekanisasi Pertanian (BB Mektan) berinovasi merancang mesin pengolah tanah, pemupukan, dan penanaman jagung. Untuk mengoperasikan mesin cukup 2 orang, yaitu operator dan asisten operator. Mesin itu dilengkapi dengan pisau potong dan bajak, penyemprotan pupuk, dan penanaman benih jagung. Menurut perancang mesin, Dr. Harsono, peranti itu dapat berjalan di medan basah atau kering karena menggunakan roda krepyak (crawler) dari karet atau roda rantai.

Harsono merekayasa balik atau reverse engenering menggunakan mesin olah tanah. Rekayasa balik adalah inovasi untuk memodifikasi mesin pertanian yang sudah ada sehingga mengurangi biaya produksi mesin. Ia memodifikasinya menjadi mesin untuk mengolah tanah, memupuk, dan menanam benih. Mesin itu mampu beroperasi pada lahan belum diolah atau pertama kali diolah, dengan vegetasi rumput sedang.

DC-70, mesin panen produksi PT Kubota Machinery Indonesia.

DC-70, mesin panen produksi PT Kubota Machinery Indonesia.

Petani yang akan mengolah tanah, mengoperasikan mesin multifungsi itu. Pisau pencacah pada mesin rotari akan memotong vegetasi rumput di lahan. Petani juga dapat mengatur ketinggiannya menggunakan perangkat hidrolik. Jika hendak memupuk, tersedia fasilitas tabung berbahan polivinil klorida (PVC) di bagian depan mesin untuk menampung larutan pupuk cair. Adapun sarana penanam benih terdapat di bagian belakang mesin.

Komponen penanam benih berkapasitas 5—7 kg. Petani tetap dapat mengatur jarak baris antartanaman sesuai kebutuhan. Pada bagian dasar penampung terdapat lubang sebagai jalan keluar untuk benih yang akan ditanam. Petani lazimnya menanam 2—5 biji jagung per lubang tanam. Pengaturan jarak tanam menggunakan perputaran gerigi roda yang terdapat pada bagian bawah mesin. Di bagian paling belakang terdapat cakram yang berfungsi untuk menutup tanah lubang tanam yang sudah terisi benih.

Dua ukuran

Perangkat penanaman jagung yang dirangkai di belakang mesin pengolah tanah.

Perangkat penanaman jagung yang dirangkai di belakang mesin pengolah tanah.

Penggunakan mesin itu menghemat waktu penanaman lantaran pengolahan tanah dapat langsung sekalian melakukan penanaman benih. Untuk menanam jagung di lahan 1 hektare menggunakan mesin itu hanya perlu 5—6 jam dan 2 orang tenaga kerja. Bandingkan dengan penanaman manual yang memerlukan 1 hari penuh atau 8 jam oleh 5—8 tenaga kerja. Produsen alat pertanian, PT Kubota Machinery Indonesia, juga memproduksi mesin pengolah tanah untuk mempermudah kerja petani.

Alat bernama rotary tiller itu peralatan untuk membalik, memotong tanah, dan akar-akar tanaman yang ada di lahan dan menghaluskan ukuran gumpalan tanah secara menyeluruh sehingga lahan siap untuk ditanami jagung. Mesin itu terdiri atas 2 variasi ukuran, yaitu 144 cm dan 181,5 cm. Mesin berukuran 144 cm mempunyai lebar bajak 127 cm terdiri atas 20 bilah pisau untuk mengaduk tanah dengan putaran tertinggi 167 rpm.

Modifikasi mesin olah tanah menjadi mesin olah tanah, pemupukan, dan penanaman benih jagung.

Modifikasi mesin olah tanah menjadi mesin olah tanah, pemupukan, dan penanaman benih jagung.

Adapun mesin berukuran 181,5 cm memiliki lebar bajak 155,8 cm dengan 32 bilah pisau dan putaran tertinggi 220 rpm. Bilah pisau terbuat dari besi cor sehingga sangat kuat dan awet. Kubota juga menyediakan mesin penanam jagung yang praktis. Benih akan keluar secara otomatis sesuai jumlah yang dikehendaki. Mesin menanam benih jagung 3 baris sekaligus dalam sekali waktu. Benih masuk ke lubang tanam bersamaan dengan pupuk yang jatuh secara bersamaan dari perangkat penanaman.

Menurut anggota staf pemasaran PT Kubota Machinery Indonesia, Faisal Yulianto, kedua perangkat itu memerlukan traktor untuk mengoperasikannya. Perangkat itu digandengkan di belakang traktor sebagai penggerak perangkat pengolah tanah dan penanam benih jagung. PT Kubota memproduksi traktor kecil untuk menarik mesin penanam jagung. Traktor 4 roda bertenaga 50 tenaga kuda itu memiliki sistem penggerak 4 roda untuk mencegah tenggelam dan selip di sawah. “Konsumsi bahan bakarnya irit, hanya 15—20 l solar per ha tergantung kondisi lahan” kata Faisal.

Cabut gulma

Dr. Harsono perekayasa alat olah tanah dan tanam jagung.

Dr. Harsono perekayasa alat olah tanah dan tanam jagung.

Mesin di ladang jagung bukan sekadar untuk mengolah dan menanam benih. Bahkan untuk menyiangi gulma pun, kini tersedia mesin khusus hasil rekayasa BB Mektan. Penggunaan mesin itu mirip traktor tangan dengan ukuran yang kecil. Dengan menggunakan mesin itu penyiangan bisa lebih cepat dan mengurangi ongkos tenaga kerja. Sebab, untuk menyiangi lahan 1 ha hanya perlu 10—15 jam. Bandingkan dengan penyiangan manual yang memerlukan 4—5 orang selama 2—3 hari. Dalam satu periode tanam jagung, petani lazimnya 2 kali menyiangi.

Pemanenan tahapan penting dalam budidaya jagung. Setelah siap panen, biasanya petani memotong daun jagung dan menyisakan batang dan jagung. Tujuannya untuk mengurangi kadar air jagung, sehingga mempermudah pemanenan dan pemipilan. Namun, panen manual lebih lama sehingga akan berpengaruh pada biaya produksi. Untuk mengatasi hal itu, BB Mektan juga merekayasa mesin panen cobine harvester untuk memetik dan memipil jagung.

Menurut perekayasa mesin pemanen jagung, Dr. Sigit Triwahyudi M.Si., untuk menyesuaikan dengan batang jagung, bagian pemotong di bagian depan harus diganti dengan pisau bermata gergaji dengan ukuran lebih besar. Batang, seresah, dan jagung yang terpotong akan diarahkan melewati konveyer masuk ke dalam ruang pemipil. Jarak pemukul dengan kontak 2—3 cm sesuai dengan besar butiran jagung.

HM-1, mesin panen produksi PT OM Hwahaha berukuran sedang.

HM-1, mesin panen produksi PT OM Hwahaha berukuran sedang.

Dengan menggunakan mesin panen itu, tingkat kerusakan jagung kurang dari 2%. Kondisi kadar air jagung, keberhasilan juga dipengaruhi oleh gigi perontok dan kecepatan putar. Mesin pemipil bekerja dengan kecepatan 600 rpm. Namun, bagian itu paling rawan rusak karena kontak langsung dengan tanaman jagung. Biji jagung yang sudah terpipil akan terpisah secara otomatis menggunakan ayakan berukuran 12 mm x 12 mm. Kipas peniup akan memisahkan kulit, bonggol, cacahan batang dan daun.

Biji jagung yang lolos dari ayakan akan masuk ke penampungan sementara, sedangkan pengotor akan terbuang keluar lewat bagian belakang. Biji jagung yang sudah terpipil itu kemudian akan diarahkan keluar dan langsung masuk karung yang di tempatkan di saluran keluaran yang dioperasikan oleh seorang operator karung. Kecepatan maksimal mesin 7 jam per ha dengan konsumsi solar 6—8 liter per jam. Menurut Sigit kandungan air pada jagung hanya 23—25%.

Ketahanan pangan
Selain itu, hasil pipilan bagus, tidak ada biji yang tercecer, dan tingkat kehilangan pipilan sangat rendah. Kinerja mesin panen itu masih dapat ditingkatkan. “Targetnya mampu bekerja 6 jam per hektare,” kata Sigit. Sebagai pengembang mesin pertanian PT Kubota Machinery Indonesia juga memproduksi alat serupa. Mesin DC-70 itu berukuran panjang 4,8 m dan lebar 2,26 m untuk pemanenan padi dan jagung.

Dr. Sigit Triwahyudi, M.Si., perekayasa alat panen dan pipil jagung.

Dr. Sigit Triwahyudi, M.Si., perekayasa alat panen dan pipil jagung.

Mesin menggunakan roda rantai sehingga mampu beroperasi di lahan basah dan kering. Sistem kerjanya sama dengan mesin panen rancangan BB Mektan. Kemampuan panen 3—4 lajur tanam sekaligus sehingga mempermudah dan mempercepat pemanenan. Faisal mensyaratkan untuk mempermudah pemanenan sebaiknya dilakukan pada 120 hari setelah tanam. Ketika itu kadar air jagung 28—30%. Petani memang masih perlu menjemur jagung hingga kadar air 12% sesuai dengan permintaan pabrik.

Ketika panen jagung terlalu kering maka angka kehilangannya akan lebih tinggi. Sebab, jagung tidak terpipil dari tongkolnya dan terbuang bersama tongkol. Adapun bila masih terlalu basah, jagung akan pecah dan rusak saat pemipilan sehingga biji jagung hancur. Produsen alat mesin pertanian lain, PT OM Hwahaha juga memproduksi mesin pemanen dan pemipil jagung berukuran sedang dengan panjang 3,6 m dan lebar 1,8 m.

Menurut Manajer pemasaran PT OM Hwahaha, produsen mesin pertanian Futata, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Kwee Sonny Gunawan, dengan lebar pemotongan 1,29 m, mesin itu cocok untuk panen di lahan kecil. Untuk mengoperasikan mesin hanya perlu 2 orang yaitu 1 orang operator mesin dan 1 orang operator untuk pemipilan jagung. Mesin berpenggerak diesel 23 tenaga kuda itu memerlukan bahan bakar solar 3,9 liter per jam. Adapun kecepatan jalan pemanenan 2,2 km per jam. Penggunaan mesin untuk meningkatkan produktivitas sejalan dengan program pemerintah di bidang pangan. (Muhammad Awaluddin)

Tags: , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software