Tabungan Pangan

Filed in seputar agribisnis by on 01/12/2009 0 Comments

Agus Maulana dan Intan Fitriah dari SMK Negeri 1, Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, menawarkan umbi garut sebagai makanan pokok alternatif. Elysia dan Dominika Kurniyati dari Toboali, Bangka Belitung, tampil dengan buah nipah. Sedangkan Naza Farauk H dan Sulaiman Uber dari Kalimantan Timur menawarkan umbi suweg Amorphopalus campanulatus. Mereka membawa contoh masakannya, bahkan ada yang mengolah di hadapan dewan juri.

Biji durian

Usul untuk memperkaya cadangan pangan ada 21 macam. Bervariasi, mulai pemanfaatan ekstrak kulit bawang merah Allium cepa, pemakaian warna bunga kana Canna cocinea, sampai penggunaan biji durian untuk brownies. Bayangkan kalau Anda menjadi juri, bisa kenyang dan gendut mencicipi rupa-rupa makanan yang eksotis itu.

Linda Ririhena dan Santy Tutuhatunewa dari Kabupaten Maluku Barat menawarkan masakan alternatif dari biji mangga. Sari pati biji mangga menghasilkan tepung halus, sumber karbohidrat yang lumayan tinggi. Masalahnya adalah, bagaimana mensosialisasikan berbagai temuan itu. Lebih dari itu, bagaimana membuat masyarakat mau memanfaatkan bermacam alternatif untuk cadangan pangan keluarganya.

Kenyataannya, bahkan sumber pangan yang konvensional pun belum tentu ditabung. Masuk saja ke sembarang rumah di pedesaan. Tidak selalu kita bisa menemukan beras, telur, minyak goreng, terigu, dan ikan asin. Apalagi daging sebagai tabungan pangan keluarga. Pada awal abad yang lalu, pernah ada gerakan menyiapkan cadangan pangan untuk menghadapi perang, di Amerika dan Eropa. Setiap keluarga diwajibkan mengikuti kursus membuat makanan dalam kaleng.

Ada cara sederhana mengawetkan daging, buah-buahan, ikan, dan sayuran dalam kaleng. Tujuannya jelas, supaya bisa disimpan lebih lama, dibawa mengungsi, dan tetap ada makanan dalam perang. Sekarang, suasananya berbeda. Makanan cadangan kurang dirasakan mendesak karena pasar swalayan dan pasar tradisional masih ramai. Hanya pada waktu ekonomi terguncang, orang memborong bahan-bahan makanan yang tahan lama, khususnya susu bubuk dan mi instan. Sedangkan kerajinan tangan dan keterampilan mengawetkan pangan nyaris terabaikan.

Jadi, sebetulnya berbagai lomba untuk menemukan tambahan sumber pangan oleh para siswa merupakan langkah maju, bahkan tiga atau empat langkah di depan. Langkah pertama tentu pengawetan. Langkah kedua adalah pengadaan bahan. Banyak ide bagus yang tidak diimbangi dengan informasi cara mendapatkannya. Asumsinya, banyak bahan sudah tersedia berlimpah. Misalnya kulit bawang, biji mangga, dan biji durian. Dalam prakteknya tidak mudah mengumpulkan biji-bijian maupun kulit-kulit yang dikategorikan sebagai limbah. Padahal, banyak kulit merupakan sumber karbohidrat maupun protein.

Sumber pangan lain yang sering dibicarakan adalah bermacam serangga seperti belalang, kumbang, tawon, dan jangkrik. Bermacam cacing, siput, maupun lintah juga menjadi cadangan pangan. Dalam skala kecil, semua jenis pangan alternatif terbukti nikmat, bisa dikonsumsi, dan tersedia.

Mi sagu

Secara industri besar, manusia belum berpaling dari beras, gandum, sapi, ayam, dan ikan. Sorgum Sorghum bicolor adalah makanan pokok kelima di dunia. Kalimantan Timur bahkan bertekad menjadi sentra sorgum nasional. Berbagai resep memasak sorgum juga dimasyarakatkan. Siapa tahu, masyarakat segera berpaling padanya, sehingga tidak terpaku pada beras, jagung, ubi, dan sagu. Di Indonesia, justru sagu lebih banyak ditinggalkan.

Kita masih ingat, apa jawaban Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika diserang sebagai penggemar mi instan yang mengundang impor gandum. “Mi yang saya makan bukan berasal dari terigu, tapi dari bahan-bahan asli Indonesia. Ada mi dari rumput laut, umbi-umbian, dan sagu.” Tepung sagu memang merupakan pilihan penting. Selain menyediakan karbohidrat, budidaya sagu bisa berfungsi sebagai pelestarian lingkungan. Ulat pemakan sagu pun merupakan sumber protein tinggi dengan kenikmatan prima. Bahkan hama sagu pun merupakan sumber pangan yang istimewa.

Malaysia malah sudah bergerak maju dengan memelihara dan memasak lintah. Ada olahan daging lintah yang sudah dikemas dalam plastik dengan harga 85 ringgit. Bukan main, hampir Rp400.000 untuk satu kantung lintah kering. Kampanye menyantap lintah juga dikembangkan. Ini mengingatkan kita pada saat udang bersungut dan berpunggung keras atau lobster belum lazim dimakan. Baru pada awal 1970-an Filipina mempelopori konsumsi lobster, yang kini marak disukai sebagai makanan mewah di mana-mana.

Di Teluk Gorontalo, ada restoran yang menyajikan seekor lobster besar dengan harga mentah Rp1,5-juta. Jangan lupa, banyak makanan laut menjadi sangat mahal bukan karena sifatnya yang alternatif. Mengolah ular, kelelawar, lobster macan, lobster mutiara, penyu sisik, dan penyu belimbing justru harus dihindari. Semua masakan itu menjadi mahal karena langka. Sukar pengadaannya.

Makanan alternatif adalah upaya memanfaatkan bahan-bahan yang berlimpah dan tak terduga. Contohnya seperti dilakukan anak-anak SMK membuat brownies dari biji durian atau empek-empek dari kulit ikan gabus. Masalahnya sekarang bagaimana memberikan apresiasi dan harga yang pantas.

Perpanjang usia

Sayang, kalau inovasi dan percobaan yang telah terbukti bermanfaat tidak berlanjut dengan sosialisasi yang memadai. Tidak mudah mengubah selera masyarakat untuk menyukai masakan yang baru. SMK Negeri 1 Kota Serang, Provinsi Banten, bahkan bersemangat menerbitkan brosur sendiri, untuk sosialisasi aneka produk olahan umbi beneng. Talas koneng yang besar memang banyak terdapat di Banten, tetapi belum banyak cara mengolahnya. Jadi kampanye untuk talas sangat penting.

Kampanye untuk memasarkan lidah buaya pun perlu waktu lama dan biaya besar. Sudah 8 tahun lebih Universitas Indonesia melansir Kavera, sebagai produk makanan sehat dari lidah buaya. Tim riset dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI bertekad menyebarluaskan ilmu mengolah dan mengemas macam-macam produk lidah buaya. Sambutan masyarakat cukup besar, meskipun mestinya bisa lebih luas dan lebih baik lagi.

Yogyakarta adalah tempat yang sangat tepat dalam memberikan teladan terobosan pangan. Di sana ada restoran serbajamur, pusat budidaya olahan jamur, maupun warung-warung di pinggir kota yang menyajikan belalang goreng.

Tentu, mengkonsumsi belalang untuk lauk maupun bahan isian permen cokelat merupakan terobosan. Kalau kita suka menikmati bahan-bahan sederhana yang berlimpah, bisa jadi ikut menyelamatkan bumi dan memperpanjang umur dunia. Perubahan iklim dan pemanasan global perlu diantisipasi melalui inovasi dan sosialisasi sumber-sumber pangan. Sebab, kalau pasokan pangan berhenti, bukan tidak mungkin, modernisasi juga berhenti.

Oleh karena itu perlu memikirkan dan mengolah, serta menabung berbagai bahan makanan. Pada masa menghadapi perubahan iklim dan krisis pangan, hanya mereka yang mampu menyediakan sumber makanan yang bakal menjadi pahlawan. Namun, apa arti pahlawan kalau kita tidak mampu menghargai jasa-jasanya dan meneladani perikehidupan, kreativitas, dan pengabdiannya.***

Eka Budianta*

*) Budayawan, pemerhati pendidikan dan lingkungan, advisor Jababeka Botanic Gardens, kolumnis Trubus.

Powered by WishList Member - Membership Software