Swiss van Java Memilih Jeruk Siam

Filed in Buah, Majalah by on 02/04/2019

Di Kabupaten Garut kini makin banyak yang mengebunkan siam karena lebih produktif.

 

Para pekebun di Kabupaten Garut, Jawa Barat, beralih mengebunkan jeruk siam. Produksi lebih tinggi.

Haris Firmansyah mengebunkan jaruk siam dan keprok garut di lahan 1,5 hektare.

Dudi menaburkan genggam demi genggam pupuk NPK berimbang di bawah tajuk jeruk siam miliknya. Di kebun seluas 1.200 m² itu tumbuh 133 pohon jeruk siam berumur 7 tahun. Ia tidak menakar jumlah pupuk untuk setiap pohon. “Yang penting pupuk tersebar merata di bagian bawah tajuk,” tutur pekebun jeruk di Desa Karangsari, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu. Dudi memupuk usai musim berbuah.

Pada musim buah 2018, Dudi memanen rata-rata 100 kg jeruk siam per pohon atau total sekitar 13 ton. Panen kali ini memang melimpah. Karyawan PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu menjual hasil panen kepada pengepul Rp7.000—Rp10.000 per kg.

Memilih siam

Dudi mulai berkebun jeruk siam pada 2014. Baginya berkebun jeruk bukan perkara baru. “Saya belajar berkebun jeruk sejak masih siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama, red),” tuturnya. Maklum, ayah Dudi juga pekebun jeruk. Tak disangka setalah lulus Sekolah Menengah Umum (SMU) ia diterima bekerja di PT KAI. Meski berstatus karyawan Dudi tetap berkebun jeruk. “Saya berkebun jeruk untuk investasi,” ujarnya.

Namun, Dudi lebih memilih mengebunkan jeruk siam. Padahal, ciri khas Kabupaten Garut sebetulnya keprok garut yang melegenda. Sayangnya tanaman jeruk garut banyak yang hancur saat Gunung Galunggung meletus pada 1982. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Garut, pada akhir 1987 populasi jeruk garut yang tersisa mencapai 1,3 juta pohon yang tersebar di lahan seluas kurang lebih 2.600 hektare.

Dudi lebih memilih mengebunkan jeruk siam.

Namun, dalam kurun 5 tahun populasinya terus menurun. Penyebabnya serangan penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) yang bersumber dari bakteri bernama lybers bacterial aniaticum. Pada akhir 1992 jumlah populasi jeruk garut hanya tersisa 52.000 pohon. Serangan penyakit itu membuat para pekebun enggan menanam jeruk garut. Para pekebun baru lebih memilih menanam jeruk varietas lain, yaitu siam. Selain Dudi, ada juga Rizal Fahreza yang mengebunkan 1.200 jeruk siam di lahan 1,2 hektare di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut.

Produksi tinggi

Menurut Dudi kini beberapa pekebun lebih memilih berkebun siam karena tumbuh lebih optimal dibandingkan dengan jeruk garut. “Di daerah saya hasil panen siam lebih tinggi,” tutur Dudi. Di kebunnya jeruk siam berumur lebih dari 4 tahun dapat menghasilkan 100 kg jeruk per pohon, sedangkan keprok garut hanya 20 kg. Itulah sebabnya jumlah populasi jeruk siam di Kabupaten Garut terus bertambah.

Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Garut menunjukkan, jumlah populasi jeruk siam pada 2014 mencapai 384.599 pohon. Namun, ada juga pekebun jeruk yang menanam siam dan keprok garut sekaligus. Salah satunya Haris Firmansyah, S.A.P. Pekebun di Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu mengebunkan 1.000 pohon jeruk siam dan 500 pohon jeruk keprok garut di lahan 1,5 hektare.

Kebun keprok garut milik Haris Firmansyah.

Di kebun Haris produktivitas keprok garut lebih tinggi daripada siam. Dari setiap pohon jeruk siam Haris memanen rata-rata 50 kg jeruk per musim berbuah atau total 50 ton jeruk siam per musim. Adapun dari sepohon jeruk keprok garut ia mampu memanen rata-rata 60 kg jeruk per musim atau total 36 ton jeruk per musim. Haris menduga pertumbuhan keprok garut di daerahnya lebih optimal.

Lokasi kebun Haris berketinggian 900 meter di atas permukaan laut (m dpl). Itu lebih sesuai untuk pertumbuhan keprok garut. Lahan di ketinggian itu kurang optimal untuk pertumbuhan siam yang lazimnya tumbuh di dataran rendah. Di kebun Haris ciri khas siam juga berubah. Kulitnya menjadi lebih tebal dan lebih mudah dikupas.

Meski hasil panen keprok garut lebih rendah, mampu memberikan omzet lebih tinggi. Pasalnya, harga jual keprok garut lebih mahal yakni mencapai Rp20.000—Rp30.000 per kg, sedangkan siam hanya Rp7.500—Rp10.000 per kg. Walaupun begitu, Haris menuturkan lebih sulit memasarkan keprok garut. “Perlu upaya khusus untuk memasarkannya karena konsumen lebih tertarik membeli jeruk berharga lebih terjangkau,” tutur Haris.

Alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati, Bandung, itu memasarkan keprok garut melalui media sosial dan bermitra dengan para reseller untuk mendongkrak omzet. Adapun jeruk siam cukup menunggu pengepul datang ke kebun. Kehadiran jeruk siam di Garut menambah keragaman jeruk di kabupaten berjuluk Swiss van Java itu. Jadi, bila berkunjung ke Garut, silakan pilih jeruk siam atau keprok sebagai buah tangan. (Imam Wiguna)

Tags: , , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software