Surga Baru di Bumi Pangirutan

Filed in Buah by on 01/01/2009 0 Comments

 

Nun di salah satu sudut desa, pada jam sama Ati sibuk di kebunnya yang seluas 1.400 m2. Tangan wanita paruh baya itu dengan cekatan menyeleksi buah stroberi, menyiangi gulma, sampai memperbaiki posisi polibag. Itu supaya 7.000 polibag stroberi menghasilkan buah ranum yang akan disetor pada Supardi.

Aktivitas seperti Ati dan para pekerja di rumah Supardi kini jadi pemandangan lazim di desa di kaki Gunung Cikuray itu. Sebelum 2000 waktu kerja penduduk di sana lebih banyak dihabiskan di sawah dan kebun sayur-mayur. Maklum Malangbong, Garut, semula memang dikenal sebagai sentra sayuran. Barulah ketika Supardi datang ke Kota Dodol itu, bergelut dengan stroberi jadi kegiatan sehari-hari warga.

Baru

Pada 2000 Supardi mulai menanam buah berbentuk hati di sana. Itu perluasan kebun yang ia usahakan di Ciwidey, Bandung. Selama ini Ciwidey, pun Cipanas (Cianjur), Lembang (Bandung), Tawangmangu (Karanganyar), Batu, dan Bedugul (Bali) dikenal sebagai sentra stroberi.

Desa Karangmulya, Malangbong, Garut, yang berketinggian 900 m dpl ternyata cocok untuk mengebunkan stroberi. Varietas yang dibudidayakan ada 2: early bright dari Kalifornia, Amerika Serikat, dan nyoho asal Jepang. Early bright baru sekitar 4 bulan terakhir ditanam.

Menurut Paulus Hadi Susilo, supervisor kebun wisata Kusuma Agro, Batu, Early bright memiliki kelebihan daging buah lebih kenyal. Makanya tahan simpan hingga 4-5 hari dalam suhu ruang bila dipetik pada tingkat kematangan 20%. Sedangkan varietas nyoho hanya tahan 1-2 hari. Rasa early bright pun lebih manis hingga 8o briks, nyoho 6o briks.

Stroberi ditanam dalam polibag seukuran karung beras. Polibag diletakkan di atas guludan yang diselimuti mulsa plastik. Mulsa berperan menjaga kestabilan suhu tanah. Buah yang biasanya menjuntai juga bersih dari cipratan tanah saat hujan.

Sumber nutrisi didapat dari pupuk asal kotoran kambing yang difermentasi. Aplikasinya sekali sepekan. Hasil panen dari budidaya alami itu ternyata laris manis di pasaran. Maklum, belakangan gaya hidup sehat tengah tren di masyarakat. Konsumsi produk alami menjadi salah satu pilihan untuk menjaga kesehatan. Buktinya pasar berani membeli stroberi dari Karangmulya dengan harga tinggi.

Sistem mitra

Sukses itu menginspirasi warga lain. Laba menanam stroberi memang menggiurkan. Dengan investasi Rp20-juta-Rp30-juta untuk mengebunkan 7.000 polibag stroberi di lahan 1.400 m2, ‘Enam bulan sudah kembali modal,’ ujar Ayi Sutisna. Pria 50 tahun itu mulanya berprofesi sebagai bandar sayuran. Sayang, sejak 1998 profesi itu tidak lagi menguntungkan. Ayi pun bangkrut.

Pilihan lalu jatuh pada stroberi. Hasrat Ayi bak gayung bersambut dengan kebutuhan Supardi. Kebun sendiri seluas 2 ha tak cukup memenuhi permintaan pasar 6 ton/hari. Maka jadilah Supardi bermitra dengan para pekebun.

Mantan pengepul sayuran itu menyediakan bibit. Bibit berasal dari semai biji dan perbanyakan stolon. Harga jual bervariasi, nyoho Rp1.000/bibit, early bright Rp3.000/bibit. Cara budidaya mesti sama dengan yang dilakukan Supardi supaya hasil panen sesuai keinginan pasar. Misal bebas residu pupuk kimia.

Setor rutin

Kini luas areal tanam stroberi di kawasan itu mencapai 25 ha tersebar di Desa Barudua dan Karangmulya dengan jumlah pekebun 80 orang. Pada kemarau total produksi 6 ton/hari. Musim hujan hanya 1,5 ton/hari. Pada musim hujan produktivitas stroberi menurun karena banyak buah busuk.

Setiap kali panen, para pekebun membawa stroberi dalam baki plastik berukuran 25 cm x 35 cm ke rumah Supardi. Ia memang menampung hasil panen semua pekebun. Di sana aardbei itu dikemas dalam kotak plastik berisi 100 g dan 250 g. Buah yang tidak lolos sortir dipasarkan ke para pedagang untuk dijual kembali ke pasar tradisional.

Nilai buah yang disetor masing-masing pekebun mitra diakumulasikan hingga akhir bulan. Pembayaran biasanya setiap awal bulan. ‘Jadi seperti karyawan saja dapat gaji bulanan,’ ujar Ati. Dengan produksi 25 kg/hari pada kemarau dan 10 kg/hari pada musim hujan, Ati rata-rata memperoleh pendapatan Rp250.000-Rp300.000/hari setara kira-kira Rp6,25-juta-Rp7,50-juta per bulan. Penghasilan sebesar itu tentu saja lebih menguntungkan ketimbang menanam padi.

Banjir buah

Anggota famili Rosaceae yang sudah dikemas lalu dikirim ke 250 pasar swalayan di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Kualitas buah yang diterima pasar swalayan mesti yang terbaik. Berdiameter minimal 2,5-3 cm, bentuk simetris, tidak ada cacat, dan bobot kira-kira 20 g/buah atau sekilo berisi 50 buah. Dari total produksi 6 ton/hari, sekitar 1-1,5 ton di antaranya lolos sortir.

Toh meski pemasaran lancar, Supardi tak serta-merta memperluas kebun mitra. Pemilik perusahaan SPR itu berkaca pada pengalaman 2006. Ketika itu sebanyak 12 ton stroberi panen berbarengan. Sementara kebutuhan pasar hanya 6 ton. Akibatnya buah busuk karena tidak terjual. Kerugian mencapai puluhan juta rupiah. Makanya sekarang ada pengaturan tanam supaya stroberi bisa panen kontinu. Selain itu harga ajek tinggi.

‘Bila ada penambahan pasar, kesempatan bermitra kami buka kembali,’ ujar Deny Kurniansyah, staf pemasaran SPR. Dari penghasil sayuran kini kabupaten berjuluk Garut Pangirutan itu juga menjadi sumber stroberi sehat. (Imam Wiguna)

Powered by WishList Member - Membership Software