Sunani: Setia Olah Lidah Buaya

Filed in Majalah, Profil by on 14/11/2017
Sunani menerjuni usaha pengolahan lidah buaya sejak 2004.

Sunani menerjuni usaha pengolahan lidah buaya sejak 2004.

Setiap hari Sunani mengolah 2 ton lidah buaya segar menghasilkan omzet Rp150 juta per bulan.

Sunani merupakan produsen olahan lidah buaya di Siantanhulu, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, di tangannya lidah buaya dapat diolah menjadi berbagai produk pangan maupun produk kecantikan.

Beberapa produk kreasi Sunani antara lain nata de aloe, teh celup, dodol, coklat, nastar, kerupuk, sabun dan masih banyak lagi.
Menikmati nata de aloe di kota pontianak dapat membantu menyegarkan tubuh yang berkeringat di bawah terik matahari Kota Khatulistiwa yang menyengat ini. Minuman lain kreasi Sunani adalah teh celup, yang mengandung 80% lidah buaya kering bercampur teh hitam.

“Penggunaan Teh agar dapat memberi rasa, karena lidah buaya kering tidak mempunyai rasa,” kata ibu 3 anak itu. Sebagai teman minum, ia menciptakan kreasi dodol, cokelat, nastar, dan kerupuk. Seluruh produk tersebut memiliki kandungan utama lidah buaya.
Sabun berbahan daun tanaman anggota famili Aloaceae itu pun efektif menyegarkan tubuh dan mengikis sisa keringat dari kulit. Beragam kreasi itu membuat kios milik Sunani menjadi tujuan wajib pelancong yang mengunjungi Pontianak.

Lidah buaya perlu setahun sejak tanam sampai panen.

Lidah buaya perlu setahun sejak tanam sampai panen.

Ketersediaan bahan baku
Dengan banyaknya varian olahan yang diproduksi Sunani. Maka ia dapat menghabiskan bahan baku 2 ton lidah buaya setiap hari. Sunani mempunyai standar kualitas untuk bahan baku daun lidah buaya seperti kesegaran, ketebalan minimal 1,5 cm di bagian pangkal, dan lebar pangkal daun minimal 8 cm. Untuk menjaga pasokan, Sunani menanam lidah buaya di lahan sendiri seluas 3 hektare. Menurut Sunani kapasitas produksi panen lidah buaya dalam satu hari adalah 1—1,2 ton per 1.000 m². Tanaman yang hari ini dipanen, maka panen berikutnya sebulan kemudian.

Usaha ini memiliki 5 pekerja yang bertugas untuk menyiangi rumput, memupuk tanaman, memanen, dan mengangkut daun hasil panen ke tepi lahan. Selain menanam di lahan milik sendiri, Sunani juga bermitra dengan 5 petani dengan total luas lahan 4 hektare untuk menambah pasokan bahan baku.

Jeli, bentuk olahan pertama lidah buaya kreasi Sunani.

Jeli, bentuk olahan pertama lidah buaya kreasi Sunani.

Proses produksi
Perempuan 44 tahun itu mengolah lidah buaya di kios Isun Vera yang berukuran 6 m x 10 m. Dibantu 35 pekerja, yang semuanya adalah perempuan, dengan berbagai tugas dari mengolah bahan baku hingga menjadi kemasan siap pajang di kios atau langsung dikirim kepada pemesan. Sebanyak 3 orang bertugas mencuci, mengupas, dan mencacah lidah buaya segar yang baru tiba dari kebun. Sunani membudidayakan lidah buaya semi organik. Hasil panen lidah buaya itu tahan simpan hingga dua minggu. Syaratnya, daun tidak tergores. Pasca pencucian, pekerja mengupas dalam 2 tahap. Pengupasan pertama hanya menghilangkan kulit di bagian belakang daun yang melengkung. Berikutnya pekerja lain mengupas kulit di bagian depan sekaligus mencacah “daging” daun yang berbentuk seperti jeli kental. Para pekerja mengupas secara manual. Dengan cara itu, proses pemisahan daging dari kulit lebih cepat, hasilnya pun lebih sempurna.

Berbagai olahan berbahan baku lidah buaya kreasi Sunani.

Berbagai olahan berbahan baku lidah buaya kreasi Sunani.

Maklum, cara mengupas kedua lapisan kulit itu berbeda. Pengupasan kulit di bagian belakang yang melengkung mirip cara mengupas kulit mangga, yaitu dengan menggenggam daun lalu menggerakkan pisau mengikuti lengkungan daun. Pengupasan selanjutnya tidak bisa lagi dengan menggenggam daun karena bagian dalam daun berlendir dan licin. Pekerja mengupas kulit depan daun dengan meletakkan daun di atas talenan lalu mengiris daging hingga terpisah dari sisa kulit. Daging langsung dijatuhkan ke dalam ember di bawah talenan.

Proses berikutnya adalah mencuci daging daun itu hingga bebas sisa lendir lalu merebusnya. Setelah mendidih dan kembali dingin, daging daun siap olah menjadi produk berikutnya. Untuk campuran teh, pengisi cokelat, atau bahan nastar, Sunani menjemur di bawah terik sinar matahari selama 2—3 hari pada musim kemarau. Penjemuran pada musim hujan lebih lama, yakni 4—5 hari. Penjemuran menyebabkan jeli daun itu mengeras. Ia lalu mengolah jeli keras itu menjadi tepung. Menurut Sunani, pengolahan 1 ton lidah buaya hanya menghasilkan 6—8 kg tepung.

PHS_Rework_2017_181x45Pembuatan kerupuk agak berbeda. Para pekerja tidak mencacah jeli daun melainkan mengiris agak tipis lalu mengeringkannya. Setelah kering dan kaku, pekerja menggunting bahan kerupuk itu sehingga ukurannya seragam. Untuk membuat dodol, cacahan jeli daun tidak dikeringkan. Pekerja langsung merebus jeli daun itu dalam larutan gula lalu mengeringkan dalam oven. Sebenarnya pengeringan bisa juga dengan menjemur.

Lidah buaya hasil panen dari kebun Sunani menunggu diolah.

Lidah buaya hasil panen dari kebun Sunani menunggu diolah.

Masalahnya, penjemuran di tempat terbuka rentan kejatuhan debu atau serangga yang hinggap. Pengeringan dengan oven menghasilkan dodol lidah buaya yang lebih bersih dan higienis,” ujar Sunani. Higienitas mutlak lantaran pasca pengeringan dodol, pekerja langsung membungkus lalu mengemas dalam kotak.

Sunani memasarkan beragam olahan di kios milik sendiri dan berbagai pusat oleh-oleh di Kota Pontianak. Tidak hanya menjual secara display, Sunani juga memiliki gerai di beberapa laman penjual daring serta media sosial yang juga ia manfaatkan untuk memperluas pemasaran.

Menurut Sunani permintaan olahan lidah buaya sangat besar, terutama menjelang musim libur sekolah, Idul Fitri, atau ketika ada acara di Pontianak. Harga jeli dalam kemasan 200 g dan cokelat 150 g, Rp20.000; kerupuk mentah dan matang kemasan 180 g, Rp10.000, dan nata kemasan 5 kg, Rp40.000.

Kilas usaha
Semula Sunani hanya seorang ibu rumah tangga yang mengisi waktu luang dengan menerima pesanan kue-kue basah maupun kering. Ia mulai mengolah lidah buaya pada 2004. Saat itu demam penanaman lidah buaya mulai memasuki titik balik. Pasalnya, eksportir yang semula menampung panen petani tiba-tiba mengurangi pembelian sampai akhirnya mandek. Sebagian petani putus asa dan menjual lahan mereka. “Saat itu kebun lidah buaya luasnya lebih dari 200 ha. Sekarang 50 ha saja tidak sampai,” kata istri Djie Fung itu. Para petani, yang kebanyakan tinggal di sekitar Sunani, mulai mengeluh. Ia lantas tertantang memberikan jalan keluar. Berbekal kemampuan membuat kue, ia mencoba meracik kreasi berbasis lidah buaya. Sunani mengolah di dapur yang sehari-hari ia gunakan untuk memasak. Untuk menjemur, semula ia hanya memanfaatkan pekarangan depan rumah.

Pengeringan lidah buaya dengan oven menjamin higienitas.

Pengeringan lidah buaya dengan oven menjamin higienitas.

Saat itu olahan yang ia ciptakan adalah jeli. Dalam sebulan ia membeli hasil panen petani sebanyak 10 kg. Ia menitipkan jeli itu di toko oleh-oleh di Pontianak. Meski perputarannya lambat, ternyata olahannya terjual. Itu sebabnya ia bertahan mengolah lidah buaya. Lonjakan drastis hingga 2 kali lipat terjadi pada 2007. Sejak itu volume usahanya terus meningkat hingga sekarang mencapai Rp150 juta per bulan.

Itu juga ditunjang kreativitas Sunani membuat berbagai jenis olahan baru yang tidak terpikirkan pengusaha lain. Untuk melancarkan pasokan bahan baku, ia mempertahankan hubungan dengan petani mitra.

Kerupuk lidah buaya siap kemas.

Kerupuk lidah buaya siap kemas.

Pasalnya, “Pasokan mitra tidak tetap, kadang banyak sampai tidak bisa langsung semuanya terolah, tapi kadang malah nihil. Padahal setiap hari harus ada produksi karena saya membayar tenaga kerja pengolahan,” kata perempuan yang juga pehobi hidroponik itu. Untunglah Sunani menjadi nasabah BANK BRI yang memiliki fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR). Itu sebabnya ketika ada anggota koperasi tani memerlukan bantuan kredit, Sunani langsung menghubungi BANK BRI.

Gayung bersambut, bank pelat merah itu merespons positif. Bahkan ketika Sunani meminta mereka mempresentasikan produk pada malam hari—karena siangnya anggota koperasi bekerja di lahan—BANK BRI mengiyakan. “Saya menghubungi 2 bank lain, tidak ada yang mau memberikan sosialisasi pada malam hari. Hanya BANK BRI yang mau,” kata Sunani.

Itu memudahkan Sunani menjalankan bisnisnya. Sunani menjaga kualitas dengan hanya menjual hasil produksi sendiri. Demikian juga ia tidak melayani pembeli yang ingin membeli produk namun tanpa label Isun Vera miliknya. Dengan lidah buaya, Sunani mendulang omzet fantastis sekaligus memberdayakan petani dan warga sekitarnya. (Argohartono Arie Raharjo)

576_ 69

Tags: , , ,

Powered by WishList Member - Membership Software